Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
374 Calhaj Purbalingga Lolos Verifikasi Tahap Pertama untuk Keberangkatan Haji 2027
Petani Cabai Cilacap Merugi 50 Juta Akibat Kemarau, Produksi Anjlok dan Harga Turun

Petani Cabai Cilacap Merugi 50 Juta Akibat Kemarau, Produksi Anjlok dan Harga Turun

Krisis Air Ancam Tanaman CabaiKrisis Air Ancam Tanaman Cabai
KERING : Petani cabai Desa Kalijeruk menunjukkan tanaman cabainya yang kering akibat kemarau

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Cilacap dalam beberapa bulan terakhir membawa dampak serius bagi sektor pertanian, khususnya budidaya cabai.

Petani cabai di Desa Kalijeruk, Kecamatan Kawunganten, kini harus menghadapi berbagai tantangan mulai dari kekurangan pasokan air, meningkatnya biaya operasional, serangan hama, hingga anjloknya harga jual hasil panen.

Kondisi tersebut menyebabkan produksi cabai mengalami penurunan drastis dan membuat sebagian petani menanggung kerugian hingga puluhan juta rupiah.

Salah seorang petani cabai di Desa Kalijeruk, Anto, mengatakan bahwa selama musim kemarau kebutuhan air menjadi persoalan terbesar.

Lahan pertanian yang jauh dari sumber air memaksa para petani mencari cara agar tanaman tetap mendapatkan pasokan air yang cukup.

Menurutnya, air untuk menyiram tanaman harus diambil dari sungai yang berjarak sekitar satu kilometer dari lahan pertanian.

“Agar air dapat sampai ke kebun, petani harus menggunakan tiga mesin pompa secara bertahap. Cara tersebut membuat biaya operasional semakin besar,” katanya saat dikonfirmasi, Senin (3/8).

Penggunaan tiga mesin pompa tersebut membutuhkan bahan bakar serta biaya perawatan yang tidak sedikit.

Akibatnya, pengeluaran petani terus meningkat di tengah hasil panen yang justru menurun.

Selain menghadapi keterbatasan air, para petani juga harus berjuang melawan serangan berbagai jenis hama yang berkembang lebih cepat saat musim kemarau.

Anto menjelaskan bahwa tanaman cabai rawit di lahannya sering diserang thrips, ulat, serta penyakit layu.

Serangan organisme pengganggu tanaman tersebut membuat pertumbuhan cabai tidak optimal meskipun pemupukan dilakukan secara rutin.

“Dampaknya, hasil panen mengalami penurunan. Jika saat musim hujan lahan seluas 2,5 hektare mampu menghasilkan sekitar 5 kuintal cabai rawit merah dalam sekali petik, pada musim kemarau hasilnya hanya sekitar 1 kuintal lebih sedikit,” jelasnya.

Penurunan produksi tersebut berarti hasil panen menyusut hingga sekitar 80 persen dibandingkan saat kondisi cuaca normal.

Kondisi ini tentu sangat memengaruhi pendapatan petani karena jumlah cabai yang dipanen jauh lebih sedikit.

Ironisnya, di tengah turunnya produksi, harga cabai di tingkat petani juga mengalami penurunan.

Saat ini harga cabai rawit merah hanya berada di kisaran Rp24.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga yang diharapkan petani.

Turunnya harga jual membuat keuntungan yang diperoleh semakin menipis.

Bahkan dalam banyak kasus, pendapatan dari hasil panen tidak mampu menutup biaya produksi yang telah dikeluarkan selama masa tanam.

Anto memperkirakan kerugian yang dialami selama kurang lebih tiga bulan terakhir mencapai sekitar Rp50 juta.

“Kalau dihitung kerugian bisa mencapai Rp50 juta dan itu kami yang nanggung,” ujarnya.

Kerugian tersebut berasal dari membengkaknya biaya operasional untuk pengairan, pembelian pupuk, pestisida, hingga biaya pengendalian hama yang terus meningkat selama musim kemarau berlangsung.

Para petani berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi yang mereka hadapi.

Bantuan yang paling dibutuhkan saat ini adalah penyediaan mesin pompa air, pembangunan sarana irigasi, serta bantuan obat-obatan untuk mengendalikan serangan hama tanaman.

Menurut Anto, keberadaan infrastruktur irigasi yang memadai akan sangat membantu menjaga ketersediaan air selama musim kemarau sehingga produksi cabai dapat dipertahankan.

“Dengan adanya sarana irigasi dapat membantu menjaga produksi cabai dan meringankan beban petani selama musim kemarau,” pungkasnya.

Musim kemarau memang menjadi tantangan yang hampir selalu dihadapi petani setiap tahun.

Namun, dengan dukungan infrastruktur pertanian yang lebih baik, sistem irigasi yang memadai, serta bantuan sarana produksi, dampak kekeringan terhadap hasil panen diharapkan dapat diminimalkan.

Para petani di Desa Kalijeruk berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait dapat segera memberikan solusi nyata agar usaha budidaya cabai tetap berjalan dan kesejahteraan petani tidak terus menurun akibat perubahan cuaca yang semakin ekstrem. (jul/stch/dda)

Berita Sebelumnya
374 CJH 2027 Lolos Verifikasi

374 Calhaj Purbalingga Lolos Verifikasi Tahap Pertama untuk Keberangkatan Haji 2027