BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Kabupaten Banyumas mencatat sebanyak 166 orang terdeteksi positif HIV hingga pertengahan tahun 2026.
Dari jumlah tersebut, 70 orang telah memasuki stadium AIDS. Data tersebut menunjukkan penanganan HIV/AIDS di Kabupaten Banyumas masih menjadi tantangan.
Selain memperkuat deteksi dini, pemerintah daerah juga terus meningkatkan edukasi kepada kelompok berisiko maupun masyarakat umum guna menekan penularan dan mendorong pengobatan sejak dini.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes KB Kabupaten Banyumas, Sito Hatmoko, mengatakan jumlah kasus HIV dan AIDS di Banyumas masih mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2022 tercatat sebanyak 245 kasus HIV dengan 182 kasus AIDS. Tahun berikutnya atau 2023 terdapat 242 kasus HIV dan 187 kasus AIDS.
Memasuki 2024, jumlah kasus HIV meningkat menjadi 344 orang dengan 124 di antaranya telah memasuki stadium AIDS.
Sementara sepanjang 2025 tercatat 329 kasus HIV, dengan 136 orang sudah berada pada tahap AIDS.
“Hingga pertengahan tahun ini sudah terdeteksi 166 orang positif HIV dan 70 di antaranya sudah AIDS,” jelas Sito.
Selain jumlah kasus, angka kematian akibat HIV/AIDS juga masih menjadi perhatian pemerintah daerah.
Pada 2022 tercatat 22 kematian, kemudian turun menjadi 12 kematian pada 2023 dan 11 kematian pada 2024.
Namun, pada 2025 jumlah kematian kembali meningkat menjadi 23 orang. Hingga pertengahan 2026, Dinkes Banyumas mencatat 11 penderita AIDS meninggal dunia.
“Kita berharap tahun ini jangan naik lagi,” ujarnya.
Sito menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan terhadap kelompok populasi kunci dan populasi khusus, faktor risiko terbesar penyumbang kasus HIV di Banyumas hingga semester pertama 2026 berasal dari kelompok laki seks laki (LSL).
Kelompok tersebut menjadi penyumbang terbanyak dibandingkan kelompok populasi kunci lainnya, seperti pekerja seks maupun waria.
“Kalau kita lihat dari dua populasi yang kita amati, yaitu populasi kunci dan populasi khusus. Pada populasi kunci ada LSL, pekerja seks, dan waria. Sampai Juni kemarin yang tertinggi faktor risikonya adalah LSL dengan 48 orang positif HIV,” katanya.
Untuk menekan penyebaran HIV, Dinkes KB Kabupaten Banyumas terus memperluas program edukasi, skrining, dan pendampingan kepada kelompok berisiko maupun masyarakat umum.
Program tersebut tidak hanya difokuskan kepada orang yang telah terdiagnosis HIV, tetapi juga kepada masyarakat yang belum berisiko agar memahami cara pencegahan penularan serta pentingnya pemeriksaan kesehatan secara dini.
“Kita memiliki dua kegiatan besar, yaitu mengelola kelompok yang berisiko melalui populasi khusus dan populasi kunci, kemudian mengelola mereka yang sudah terinfeksi. Namun yang paling utama adalah bagaimana mengelola masyarakat yang belum berisiko agar tetap terlindungi,” pungkasnya.
Melalui edukasi berkelanjutan, deteksi dini, serta akses pengobatan yang semakin luas, Pemerintah Kabupaten Banyumas berharap jumlah kasus baru maupun angka kematian akibat HIV/AIDS dapat terus ditekan sehingga kualitas hidup para penyintas tetap terjaga dan penularan di masyarakat dapat diminimalkan. (res/stch/dda)














