Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Embun Upas Kembali Muncul di Dieng, Suhu Capai Minus 1 Derajat Celsius

Embun Upas Membeku, Dieng Kembali DiburuEmbun Upas Membeku, Dieng Kembali Diburu
EMBUN UPAS: Wisatawan mengabadikan penampakan embun es atau embun upas yang menyelimuti hamparan rumput di sekitar Komplek Candi Arjuna, Selasa (9/6/2026) pagi

BANYUMASEKSPRES.ID, Dataran Tinggi Dieng kembali menampilkan pesonanya yang luar biasa.

Ketika banyak wilayah di Indonesia menikmati pagi yang hangat, kawasan pegunungan yang terletak di perbatasan Banjarnegara dan Wonosobo ini diselimuti oleh lapisan kristal es, yang mengubah rumput-rumput hijau menjadi putih berkilau seakan salju.

Fenomena alam yang dikenal dengan nama embun upas ini muncul kembali, menyusul penurunan suhu udara hingga mencapai minus satu derajat Celsius.

Hal ini mengundang banyak wisatawan untuk datang ke area sekitar Kompleks Candi Arjuna demi menyaksikan secara langsung fenomena langka yang hanya terjadi saat puncak musim kemarau.

Sejak dini hari, pengunjung mulai berdatangan. Mereka berburu momen ketika butiran embun beku yang menempel pada dedaunan dan rerumputan memantulkan cahaya matahari pagi, menciptakan panorama yang sangat jarang ditemukan di negara beriklim tropis seperti Indonesia.

Salah seorang wisatawan asal Salatiga, Erwin, berbagi pengalamannya tentang perjalanan malamnya menuju Dieng.

“Kami berangkat dari Salatiga sekitar pukul tujuh malam setelah mendengar kabar bahwa embun es mulai muncul di Dieng. Tahun lalu saya juga datang ke sini tetapi tidak beruntung. Kali ini saya akhirnya bisa melihat langsung,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Pengalaman melihat hamparan rumput yang berubah menjadi putih akibat lapisan es tipis membuat Erwin merasa bahwa udara dingin yang menusuk tulang seolah terbayar lunas.

“Memang sangat dingin, tetapi pengalaman seperti ini jarang sekali bisa didapatkan di Indonesia,” tambahnya.

Fenomena embun upas ini tidak hanya memperkaya pengalaman wisatawan, tetapi juga semakin memperkuat identitas pariwisata Dieng sebagai destinasi unggulan.

Menurut warga setempat, Hasta Priambodo, suhu udara di kawasan Dieng mengalami penurunan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir.

“Beberapa hari lalu suhu masih sekitar dua derajat Celsius, sekarang sudah mencapai minus satu derajat Celsius. Penurunan suhu drastis ini memicu munculnya embun beku,” jelas Hasta pada Selasa (9/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa embun upas biasanya mulai terbentuk sekitar pukul 03.00 WIB dan bertahan hingga sekitar pukul 07.00 WIB sebelum akhirnya mencair seiring dengan meningkatnya suhu udara.

Ketebalan embun es kali ini diperkirakan mencapai setengah sentimeter, memukau siapa pun yang berkesempatan menyaksikannya.

Lapisan es yang menutupi hampir seluruh hamparan rumput di sekitar Kompleks Candi Arjuna menjadikan lokasi tersebut sebagai titik favorit bagi para pengunjung untuk menikmati keindahan embun upas.

Tidak hanya rumput yang diselimuti embun es, tetapi juga terlihat pada daun tanaman, batang pohon, serta berbagai permukaan benda lain yang berada di ruang terbuka.

Bagi masyarakat Dieng sendiri, kemunculan embun upas bukanlah hal baru.

Fenomena ini hampir selalu terjadi setiap tahun antara bulan Juni hingga Agustus saat musim kemarau mencapai puncaknya.

Namun demikian, setiap kemunculan embun upas selalu menghadirkan antusiasme baru karena menawarkan pemandangan berbeda dari destinasi wisata lain di Indonesia.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan sisi unik Dieng yang terus berkembang sebagai destinasi wisata berbasis alam.

Tidak lagi hanya dikenal dengan panorama pegunungan dan budaya lokalnya saja, kini Dieng memiliki daya tarik musiman baru yaitu sensasi menyaksikan “salju tropis” di negeri khatulistiwa.

Meski demikian, di balik keindahan fenomena embun upas terdapat tantangan tersendiri bagi masyarakat setempat.

Suhu ekstrem yang mendukung pembentukan kristal es dapat merusak tanaman kentang serta berbagai komoditas sayuran lain yang menjadi sumber penghidupan utama warga.

Oleh karena itu, keberadaan embun upas selalu menyimpan dua sisi berbeda bagi masyarakat Dieng.

Untuk sektor pariwisata, fenomena ini merupakan berkah karena mampu mendatangkan banyak wisatawan dan menggerakkan ekonomi lokal.

Namun bagi para petani, suhu dingin ekstrem adalah ancaman nyata yang harus diwaspadai setiap musim kemarau.

Fenomena embun upas bukan hanya sekadar atraksi alam biasa; ia merupakan simbol dari kekayaan alam dan budaya lokal yang harus dilestarikan serta dipahami oleh semua pihak.

Setiap tahun, ribuan wisatawan datang untuk merasakan sensasi melihat salju tropis meski mereka tahu bahwa suhu dingin dapat membawa risiko bagi pertanian lokal mereka sendiri.

Dieng memang telah lama dikenal sebagai kawasan wisata dengan keindahan alamnya yang menakjubkan serta warisan budayanya yang kaya.

Namun kini dengan hadirnya fenomena embun upas, kawasan ini semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu tujuan wisata terbaik di Indonesia.

Dengan suhu rendah dan cuaca ekstrem selama periode tertentu dalam tahun ini, fenomena alam ini akan terus menjadi daya tarik utama bagi para pelancong dari berbagai daerah. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Jeda Sejenak dari Bulu Tangkis

Usai Gagal di Indonesia Open 2026, Jonatan Christie Pilih Istirahat dari Bulutangkis

Berita Selanjutnya
Ribuan Benih Nilem Ditebar ke Sungai Cimanik

15.547 Benih Ikan Nilem Ditebar di Sungai Cimanik Cilacap untuk Jaga Ekosistem