BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Para pelaku usaha tahu di Banyumas saat ini sedang menghadapi tantangan yang berat akibat melonjaknya biaya produksi.
Kenaikan harga kedelai dan plastik kemasan menjadi faktor utama yang memaksa para perajin untuk mencari strategi agar usaha mereka tetap dapat bertahan di tengah merosotnya permintaan pasar.
Di antara pelaku usaha tahu, Abu Khair mengungkapkan bahwa lonjakan harga bahan baku telah memaksa perajin untuk melakukan berbagai penyesuaian.
“Dalam situasi seperti ini, kami terpaksa memperkecil ukuran tahu tanpa menaikkan harga jual kepada konsumen,” kata Abu Khair dalam sebuah wawancara pada Selasa (9/6).
Pernyataan ini menggambarkan realitas sulit yang harus dihadapi oleh para perajin tahu di Banyumas, di mana mereka harus menemukan cara untuk mempertahankan daya beli masyarakat meskipun keuntungan yang diperoleh semakin menyusut.
Sebelum terjadi kenaikan harga, kedelai masih dijual dengan harga di bawah Rp10 ribu per kilogram.
Namun, saat ini, Abu mengaku harus membeli kedelai dengan harga mencapai Rp10.800 per kilogram.
Kenaikan harga tersebut tidak hanya menambah beban biaya produksi, tetapi juga mengancam mata pencaharian yang telah dijalankan turun-temurun oleh keluarganya sebagai usaha tahu.
Kondisi pasar yang lesu pasca-Hari Raya Idul Fitri juga berkontribusi pada penurunan permintaan tahu.
Akibatnya, para perajin terpaksa mengurangi kapasitas produksi demi menyesuaikan dengan kondisi pasar yang ada.
“Produksi tahu sedang dikurangi, biasanya kami menggunakan 50 kilogram kedelai, sekarang hanya 30 kilogram, tetapi itu pun tidak pasti,” lanjut Abu Khair.
Pengurangan produksi ini dilakukan sebagai langkah pencegahan agar para perajin tidak mengalami kerugian akibat produk yang tidak terserap oleh pasar.
Meskipun begitu, para pelaku usaha masih berupaya untuk mempertahankan proses produksi agar bisnis tahu yang telah mereka jalankan selama bertahun-tahun tidak berhenti begitu saja.
Di tengah berbagai tantangan yang ada, proses produksi tahu di tempat usaha Abu Khair masih dilakukan secara manual.
Setiap tahapan mulai dari perebusan, penyaringan hingga pencetakan tahu masih bergantung pada tenaga manusia.
Hanya proses penggilingan kedelai yang sudah menggunakan mesin untuk membantu mempercepat pekerjaan.
Hal ini menunjukkan bahwa meski teknologi sudah dapat digunakan dalam beberapa aspek produksi, banyak pelaku usaha kecil dan menengah masih mempertahankan metode tradisional dalam menjalankan bisnis mereka.
Para pelaku usaha berharap agar harga bahan baku dapat kembali stabil sehingga usaha tahu rakyat tetap bisa bertahan di tengah tekanan ekonomi yang kini tengah melanda. (fij/stch/dda)
















