BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Banjarnegara terus berupaya meningkatkan efektivitas penanganan kebakaran melalui penguatan peran Relawan Pemadam Kebakaran, yang lebih dikenal dengan sebutan Redkar.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tingginya jumlah kejadian kebakaran yang masih terjadi di berbagai wilayah di Banjarnegara.
Hingga tanggal 31 Mei 2026, Kepala Bidang Damkar Dinas Satpol PP Banjarnegara, Freyana Kusuma mengungkapkan bahwa telah tercatat sebanyak 32 kejadian kebakaran yang terjadi sepanjang tahun ini.
Sebagian besar insiden tersebut terjadi di kawasan permukiman penduduk, yang tentu saja menjadi perhatian utama bagi pemerintah daerah.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Damkar Banjarnegara, penyebab kebakaran selama periode ini didominasi oleh korsleting listrik, yang tercatat sebanyak enam kejadian.
Selain itu, terdapat juga empat kasus kebakaran yang disebabkan oleh kompor, satu kejadian akibat bahan bakar minyak (BBM), satu dari human error, dan tujuh insiden lainnya dipicu oleh faktor-faktor lain.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa masalah kebakaran di Kabupaten Banjarnegara bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh; melainkan memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
Freyana menambahkan bahwa kondisi geografis Kabupaten Banjarnegara yang luas dan berbukit menjadi tantangan tersendiri dalam upaya penanganan kebakaran.
Saat ini, petugas Damkar Banjarnegara hanya memiliki 43 personel untuk melayani hingga 20 kecamatan yang tersebar di wilayah tersebut.
“Karena itu kami membentuk Redkar sebagai ujung tombak ketika terjadi kebakaran, sembari menunggu petugas Damkar tiba di lokasi,” ujarnya menjelaskan peran penting relawan dalam situasi darurat tersebut.
Pembentukan relawan pemadam kebakaran ini sudah dilakukan di sebagian besar kecamatan di Banjarnegara.
Yang terbaru adalah pembentukan Redkar di Kecamatan Pejawaran, Kalibening, dan Susukan.
Dalam setiap kecamatan, jumlah anggota Redkar rata-rata mencapai 50 orang yang tersebar di sejumlah desa.
Mereka tidak hanya bertugas untuk membantu penanganan awal saat terjadi kebakaran tetapi juga berfungsi sebagai informan yang segera melaporkan kejadian kepada tim Damkar.
“Mereka kami latih untuk melakukan tindakan awal saat terjadi kebakaran. Sebelum kami datang ke lokasi, mereka yang menjadi garda terdepan,” jelas Freyana lebih lanjut.
Pelatihan kepada para relawan saat ini masih fokus pada teknik pemadaman sederhana atau tradisional.
Para relawan diajarkan cara memadamkan api menggunakan kain serta melakukan penyekatan untuk mencegah api merembet ke bangunan lain.
Kehadiran Redkar sangat berarti dalam situasi darurat seperti ini. Freyana mengungkapkan rasa syukurnya karena meski banyak kejadian kebakaran terjadi di kawasan permukiman, sebagian besar dapat segera ditangani dengan baik.
“Kami juga terbantu dengan keberadaan relawan damkar yang ada di berbagai wilayah,” katanya.
Keberhasilan program ini menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat dalam penanganan masalah kebakaran yang kerap kali mengancam keselamatan jiwa dan harta benda warga.
Dengan pelatihan intensif dan penguatan peran Redkar, harapannya adalah angka kejadian kebakaran dapat ditekan secara signifikan dan masyarakat semakin peka serta sigap dalam menangani potensi bencana tersebut. (far/stch/dda)
















