BANYUMASEKSPRES.ID, Hantavirus kembali menarik perhatian publik dunia pada Mei 2026 setelah sejumlah kasus infeksi dilaporkan di beberapa negara. Penyakit ini memang jarang ditemukan, tetapi dampaknya dapat sangat serius apabila pasien terlambat mendapatkan penanganan medis.
Virus tersebut diketahui berasal dari hewan pengerat seperti tikus liar yang membawa virus tanpa menunjukkan tanda sakit. Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa manusia bisa terinfeksi saat tanpa sengaja terpapar kotoran atau urine tikus yang telah terkontaminasi virus.
Organisasi kesehatan internasional menyebut hantavirus sebagai penyakit zoonosis yang dapat menyerang paru-paru maupun ginjal manusia. Pada kondisi tertentu, infeksi ini dapat berkembang cepat hingga menyebabkan gangguan pernapasan berat dan komplikasi fatal.
Kasus hantavirus terbaru yang ramai dibahas terjadi pada kapal pesiar MV Hondius pada Mei 2026. Sejumlah penumpang dilaporkan terinfeksi varian Andes hantavirus yang dikenal memiliki kemungkinan penularan antarmanusia dalam kontak sangat dekat.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hantavirus tidak menyebar semudah flu atau COVID-19. Penularan utama masih berasal dari paparan partikel virus yang berasal dari air liur, urine, atau kotoran tikus yang mengering di udara.
Hantavirus sendiri terdiri dari beberapa jenis yang ditemukan di berbagai wilayah dunia. Di kawasan Amerika, virus ini lebih sering menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS yang menyerang sistem pernapasan manusia.
Sementara itu, negara-negara di Asia dan Eropa lebih banyak menemukan kasus Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS. Jenis penyakit ini umumnya menyerang pembuluh darah dan ginjal sehingga memicu perdarahan serius.
Banyak penderita hantavirus awalnya mengira mereka hanya terkena flu biasa. Hal tersebut terjadi karena gejala awal penyakit ini memang cukup mirip dengan infeksi virus ringan lainnya.
Penderita umumnya mengalami demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, serta tubuh terasa sangat lemas. Beberapa pasien juga mengeluhkan mual, muntah, dan nyeri pada bagian perut.
Dalam sejumlah kasus, penderita dapat mengalami gangguan penglihatan dan menggigil hebat. Masa inkubasi hantavirus sendiri bisa berlangsung cukup lama, yaitu sekitar satu hingga delapan minggu setelah terpapar virus.
Jika infeksi berkembang menjadi HPS, kondisi pasien dapat memburuk hanya dalam waktu singkat. Cairan mulai memenuhi paru-paru sehingga penderita mengalami sesak napas dan kesulitan bernapas.
Kondisi tersebut membuat kadar oksigen dalam tubuh turun drastis dan dapat menyebabkan gagal napas. Karena itu, pasien dengan gejala berat biasanya membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Pada jenis HFRS, gejala serius lebih banyak menyerang ginjal dan pembuluh darah tubuh. Pasien dapat mengalami tekanan darah rendah, perdarahan, hingga gagal ginjal akut yang membahayakan nyawa.
Para ahli menyebut tingkat kematian akibat hantavirus tergolong cukup tinggi dibanding beberapa penyakit virus lainnya. Risiko fatal meningkat apabila pasien terlambat mendapatkan diagnosis dan perawatan medis.
Penularan hantavirus paling sering terjadi saat seseorang menghirup udara yang telah tercemar partikel virus. Partikel tersebut biasanya berasal dari kotoran tikus yang mengering lalu bercampur dengan debu.
Risiko infeksi meningkat ketika seseorang membersihkan gudang, loteng, rumah kosong, atau bangunan lama tanpa perlindungan diri. Area tertutup dengan ventilasi buruk menjadi tempat yang paling berisiko terhadap penyebaran virus.
Selain melalui udara, virus juga dapat masuk lewat makanan atau minuman yang telah terkontaminasi tikus. Penularan juga bisa terjadi ketika tangan yang kotor menyentuh hidung, mata, atau mulut.
Gigitan tikus juga berpotensi menularkan hantavirus meski kasusnya terbilang jarang. Para ahli kesehatan menilai kebersihan lingkungan menjadi faktor utama dalam mencegah penyebaran penyakit ini.
Beberapa aktivitas tertentu diketahui meningkatkan risiko terpapar hantavirus. Kegiatan seperti bertani, berkemah, bekerja di hutan, dan tinggal di lingkungan dengan populasi tikus tinggi perlu lebih waspada.
Varian Andes hantavirus menjadi perhatian khusus karena memiliki kemungkinan penularan antarmanusia. Namun hingga sekarang, kasus seperti itu masih sangat terbatas dan belum dianggap sebagai ancaman wabah global besar.
Laporan kesehatan internasional pada Mei 2026 menunjukkan pengawasan ketat dilakukan terhadap penumpang kapal pesiar yang terpapar virus. Otoritas kesehatan dunia menilai risiko penyebaran luas masih tergolong rendah.
Pencegahan hantavirus difokuskan pada pengendalian populasi tikus dan menjaga kebersihan rumah. Lingkungan yang bersih dapat membantu mengurangi kemungkinan manusia terpapar virus berbahaya tersebut.
Masyarakat disarankan menutup semua lubang atau celah yang dapat menjadi akses masuk tikus ke dalam rumah. Selain itu, makanan sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup rapat agar tidak menarik hewan pengerat.
Sampah rumah tangga juga perlu dibuang secara rutin untuk mencegah berkembangnya populasi tikus di sekitar lingkungan. Kebiasaan sederhana ini dinilai efektif dalam menurunkan risiko penularan hantavirus.
Saat membersihkan area yang terdapat kotoran tikus, masyarakat tidak dianjurkan menyapu dalam keadaan kering. Debu yang beterbangan justru dapat membawa partikel virus dan mudah terhirup manusia.
Para ahli menyarankan penggunaan cairan disinfektan sebelum membersihkan area yang terkontaminasi. Langkah tersebut membantu mengurangi risiko penyebaran virus melalui udara.
Penggunaan masker dan sarung tangan juga sangat dianjurkan saat membersihkan gudang atau bangunan lama. Alat pelindung diri dapat membantu meminimalkan kontak langsung dengan partikel virus.
Masyarakat perlu segera memeriksakan diri apabila mengalami demam dan sesak napas setelah terpapar lingkungan penuh tikus. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi berat akibat infeksi hantavirus.
Hingga Mei 2026, belum tersedia vaksin khusus maupun obat antivirus yang benar-benar efektif untuk menyembuhkan hantavirus. Karena itu, pencegahan dan kewaspadaan dini tetap menjadi langkah paling penting untuk melindungi diri dari penyakit ini. (mdr)
















