Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Hanya Satu Poin dari Zona Merah, Tottenham Hotspur Terancam Degradasi

Tottenham Terancam DegradasiTottenham Terancam Degradasi
KALAH: Pemain Tottenham terlihat lesu usai menelan kekalahan di kandang dari Crystal Palace 1-3, Jumat (6/3/2026) dini hari

BANYUMASEKSPRES.ID, Di tengah kompetisi ketat Premier League, ancaman degradasi yang dihadapi klub-klub besar bisa terdengar seperti sebuah skenario yang tidak mungkin terjadi.

Namun, situasi tersebut kini mengintai Tottenham Hotspur dengan serius.

Dengan sembilan pertandingan tersisa di musim ini, Spurs mendapati diri mereka hanya terpaut satu poin dari zona degradasi yang saat ini dihuni oleh West Ham United.

Jika skenario terburuk terjadi dan Tottenham terdegradasi ke EFL Championship, dampaknya tidak hanya akan terasa di lapangan namun juga secara signifikan akan memengaruhi kondisi keuangan klub asal London Utara ini.

Laporan terbaru dari UEFA menunjukkan bahwa Tottenham mencatat pendapatan sekitar 690 juta pounds pada tahun lalu, setara dengan kurang lebih Rp15,6 triliun.

Angka ini menjadikan Spurs sebagai salah satu klub dengan pemasukan terbesar di benua Eropa.

Namun, menurut analisis dari BBC Sport, jika Spurs terpaksa turun kasta, mereka dapat menghadapi penurunan pendapatan hingga 261 juta pounds atau sekitar Rp5,9 triliun.

Ini merupakan kerugian yang sangat signifikan dan tentunya akan mengguncang stabilitas finansial klub.

Salah satu sektor yang paling rentan terhadap dampak degradasi adalah pendapatan tiket pertandingan.

Musim lalu, Tottenham berhasil meraih sekitar 130 juta pounds dari pemasukan hari pertandingan dengan rata-rata harga tiket mencapai 76 pounds per orang.

Namun, kondisi ini akan sulit dipertahankan jika Spurs harus bermain melawan tim kasta kedua seperti Lincoln City, yang jelas tidak memiliki daya tarik sama sekali dibandingkan dengan laga-laga di Premier League.

Selain pendapatan dari tiket pertandingan, Tottenham juga diperkirakan akan mengalami penurunan signifikan dalam hak siar dan pendapatan dari kompetisi Eropa.

Jika mereka terdegradasi, Spurs tidak lagi berhak mendapatkan bagian dari kontrak siaran Premier League yang sangat bernilai tinggi serta kehilangan potensi pemasukan dari UEFA Champions League yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pendapatan mereka.

Dalam konteks komersial, Tottenham juga harus bersiap menghadapi kemungkinan penurunan pendapatan. Pada tahun lalu, klub ini mencatat pemasukan komersial sebesar 269 juta pounds.

Kontrak sponsor utama mereka dengan Nike dan AIA Group senilai sekitar 70 juta pounds per tahun memiliki klausul yang memungkinkan nilai kontrak tersebut dipangkas jika klub mengalami degradasi.

Ini merupakan ancaman nyata bagi stabilitas finansial jangka panjang klub.

Kieran Maguire, seorang pakar keuangan sepak bola, menyatakan bahwa dampak degradasi bagi klub sekelas Tottenham tidak bisa dianggap sepele.

“Bagi klub dengan ambisi dan skala finansial seperti Spurs, degradasi bukan sekadar kemunduran olahraga jangka pendek,” ungkapnya.

“Struktur ekonomi sepak bola Inggris membuat proses pemulihan setelah terdegradasi bisa memakan waktu bertahun-tahun,” tambahnya.

Mantan pemain Tottenham, Gareth Bale, juga memberikan pandangannya mengenai kebijakan finansial klub saat ini. Bale merasa bahwa Spurs terlalu berhati-hati dalam melakukan belanja pemain.

Dalam podcast The Overlap ia menyatakan, “Saya bisa katakan uang menjadi masalah utama di sini. Lihat saja total gaji mereka; itu lebih rendah dibandingkan dengan klub-klub lain yang memiliki ambisi besar.”

Pandangan Bale menyoroti kebutuhan mendesak bagi Spurs untuk beradaptasi dan berinvestasi lebih agresif dalam skuad mereka agar tetap bersaing di level tertinggi.

Situasi ini jelas menciptakan ketegangan tidak hanya bagi manajemen klub tetapi juga bagi para penggemar setia mereka.

Banyak suporter mulai merasakan kecemasan melihat performa tim yang buruk serta kemungkinan kehilangan tempat di Premier League setelah bertahun-tahun berjuang untuk meraih status elit tersebut.

Performa buruk tim telah menjadi isu utama sejak beberapa bulan terakhir, terutama setelah kekalahan mengecewakan 1-3 di kandang sendiri melawan Crystal Palace pada Jumat dini hari (6/3/2026).

Kekalahan tersebut semakin memperburuk posisi Spurs dalam klasemen dan meningkatkan tekanan pada manajer serta pemain untuk segera bangkit sebelum terlambat.

Di tengah kondisi sulit ini, penting bagi Tottenham untuk menemukan solusi guna mempertahankan posisi mereka di Premier League dan menghindari risiko degradasi yang bisa membawa dampak jangka panjang terhadap keuangan klub.

Para pemangku kepentingan harus berkolaborasi untuk mereformasi strategi tim demi memastikan bahwa investasi masa depan dapat menghasilkan hasil yang positif baik di lapangan maupun dalam laporan keuangan.

Dengan sembilan pertandingan tersisa dan situasi klasemen yang sangat ketat ini, setiap pertandingan menjadi krusial bagi Tottenham Hotspur untuk memastikan kelangsungan mereka di liga teratas Inggris. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Dua Puskesmas Rusak Diterjang Angin

Hujan Deras Rusak Dua Puskesmas di Banyumas, Dinkes Pastikan Segera Diperbaiki

Berita Selanjutnya
Anak penerima kjp

KJP Plus Maret Belum Cair? Ini Jadwal Pencairan Terbaru dan Besaran Dana