BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Suasana Pantai Mliwis di Desa Kenoyojayan, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, tampak berbeda pada Minggu (19/7/2026).
Puluhan perempuan dari berbagai daerah berkumpul bukan untuk menikmati wisata pantai, melainkan mengikuti pelatihan ecoprint gratis yang diselenggarakan oleh Komunitas Ecoprint Gayathree.
Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda rutin komunitas untuk berbagi ilmu sekaligus mendorong lahirnya pelaku usaha kreatif berbasis ecoprint.
Peserta pelatihan datang dari berbagai wilayah, seperti Yogyakarta, Kudus, Purworejo, Jepara, Gunungkidul, hingga Kebumen.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa keterampilan ecoprint semakin diminati karena tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga berpotensi menjadi peluang usaha yang menjanjikan bagi masyarakat, khususnya perempuan dan ibu rumah tangga.
Ketua Komunitas Ecoprint Gayathree, Misdawati, mengatakan komunitas tersebut lahir dari kepeduliannya terhadap tingginya biaya pelatihan ecoprint yang selama ini dinilai belum terjangkau oleh banyak orang.
Menurutnya, tidak sedikit ibu rumah tangga yang memiliki minat belajar, tetapi harus mengurungkan niat karena biaya pelatihan berkisar antara Rp350 ribu hingga Rp800 ribu.
“Awalnya banyak ibu-ibu yang ingin belajar ecoprint, tetapi biaya pelatihannya berkisar antara Rp350 ribu sampai Rp800 ribu. Dari situ saya ingin menghadirkan wadah belajar yang gratis agar semua ibu-ibu, baik yang kurang mampu maupun yang mampu, bisa memiliki keterampilan yang nantinya dapat menghasilkan pendapatan,” ujar Misdawati.
Berawal dari komunitas kecil dengan jumlah anggota terbatas, kini Komunitas Ecoprint Gayathree berkembang cukup pesat.
Anggotanya tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga telah menjangkau peserta dari Malaysia.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ecoprint semakin dikenal sebagai salah satu produk ekonomi kreatif yang memiliki prospek pasar cukup baik.
Komunitas ini mengusung slogan “Pinter Bareng, Sukses Bareng, Sugih Bareng”, yang menjadi semangat utama dalam setiap kegiatan.
Filosofi tersebut menggambarkan pentingnya berbagi ilmu agar seluruh anggota dapat berkembang bersama tanpa saling bersaing secara tidak sehat.
Menurut Misdawati, tujuan utama komunitas bukan sekadar mengajarkan teknik membuat motif pada kain, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi melalui keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi usaha.
“Harapan kami sederhana, kalau punya ilmu, kita bisa sukses bersama. Tidak hanya pintar sendiri, tetapi juga saling menguatkan agar semuanya bisa memperoleh manfaat ekonomi dari ecoprint,” katanya.
Sebagai bentuk pengembangan kemampuan anggota, Komunitas Ecoprint Gayathree secara rutin mengadakan pertemuan setiap tiga bulan sekali di lokasi yang berbeda.
Selain mempererat hubungan antaranggota, kegiatan tersebut menjadi sarana berbagi pengalaman, teknik baru, hingga strategi pemasaran produk ecoprint.
Dalam pelatihan kali ini, peserta mempraktikkan teknik pounding, yaitu salah satu metode pembuatan motif ecoprint dengan memanfaatkan pigmen alami dari daun dan bunga yang dipukul hingga warna alaminya berpindah ke kain.
Teknik tersebut dikenal ramah lingkungan karena menggunakan bahan-bahan alami tanpa pewarna sintetis.
Hasil motif ecoprint selanjutnya dapat diaplikasikan ke berbagai produk bernilai jual tinggi, seperti pakaian, syal, tote bag, dompet, tas, hingga beragam aksesori berbahan kain.
Produk-produk tersebut memiliki pasar yang cukup luas karena menawarkan desain unik yang tidak dapat dihasilkan secara massal.
Misdawati menuturkan bahwa ecoprint bukan hanya seni menghias kain, melainkan juga media pemberdayaan ekonomi bagi perempuan.
Melalui keterampilan tersebut, banyak anggota komunitas yang kini mulai memperoleh penghasilan tambahan dari penjualan produk ecoprint hasil karya mereka sendiri.
“Alhamdulillah, sekarang sebagian anggota sudah mampu menjual hasil karya ecoprint mereka. Harapan kami semakin banyak ibu-ibu yang sebelumnya belum memiliki pekerjaan bisa berkarya, mandiri, dan memperoleh penghasilan tambahan dari keterampilan yang dipelajari bersama di komunitas ini,” ujarnya.
Dengan terus menghadirkan pelatihan ecoprint gratis, Komunitas Ecoprint Gayathree berharap semakin banyak masyarakat, khususnya perempuan, yang memiliki keterampilan baru dan mampu memanfaatkannya sebagai peluang usaha.
Selain mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif, kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa berbagi ilmu dapat membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui karya yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi tinggi. (*/stch/dda)













