Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Forum HMI Kebumen Soroti Dampak Teknologi Digital terhadap Cara Berpikir Manusia

HMI Kebumen Bahas Tantangan Pola Pikir di Era DigitalHMI Kebumen Bahas Tantangan Pola Pikir di Era Digital
DISKUSI: Suasana diskusi yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kabupaten Kebumen

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk cara manusia berpikir dan mengambil keputusan.

Kemudahan mengakses informasi melalui internet dan media sosial memang memberikan banyak manfaat, namun di sisi lain juga memunculkan tantangan baru berupa kecenderungan berpikir secara instan tanpa mempertimbangkan berbagai sudut pandang secara mendalam.

Fenomena tersebut menjadi salah satu topik utama dalam Forum Intelegensi bertema “Beyond Binary: Melampaui Pola Pikir Hitam Putih di Era Digital” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kabupaten Kebumen.

Kegiatan yang berlangsung pada 18 Juli 2026 itu menghadirkan CEO Royal Pariwisata sekaligus alumni HMI, Kanda Eko, sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Kanda Eko menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah membentuk pola pikir masyarakat yang cenderung menyerupai sistem biner pada komputer.

Menurutnya, sistem digital yang hanya mengenal angka 0 dan 1 secara tidak langsung memengaruhi cara manusia mengambil keputusan dengan cepat tanpa melalui proses refleksi yang cukup.

Ia menilai, saat ini masyarakat sering kali didorong untuk segera menentukan sikap terhadap suatu persoalan, apakah setuju atau tidak setuju, benar atau salah, suka atau tidak suka.

Pola tersebut membuat ruang untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan menjadi semakin sempit.

“Kalau kita urut, binary itu berawal dari angka 0 dan 1. Saat ini seseorang sering dikondisikan mengambil keputusan secara cepat, apakah suka atau tidak suka, benar atau salah, sehingga otak manusia dikerucutkan pada satu pemikiran seperti mesin,” ujarnya.

Menurut Kanda Eko, kecenderungan berpikir secara hitam putih dapat menjadi tantangan serius di era digital yang dipenuhi arus informasi sangat cepat.

Informasi yang beredar melalui media sosial, platform digital, maupun aplikasi percakapan sering kali memicu masyarakat untuk langsung memberikan respons tanpa melakukan verifikasi maupun mempertimbangkan konteks secara menyeluruh.

Untuk menjawab tantangan tersebut, ia memperkenalkan konsep “Eko Spasi”, yaitu sebuah ruang berpikir yang berada di antara dua pilihan yang tampak saling bertentangan.

Konsep ini mengajak seseorang untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, melainkan memberikan waktu untuk memahami berbagai sudut pandang sebelum menentukan keputusan.

Kanda Eko menjelaskan bahwa konstruksi berpikir dalam konsep Eko Spasi dimulai dari intuisi yang berkembang menjadi pemikiran linier.

Selanjutnya, proses tersebut membentuk sebuah sistem berpikir yang akhirnya menghasilkan cara pandang holistik, yaitu pendekatan yang mempertimbangkan berbagai faktor secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan.

Menurutnya, pola pikir holistik akan membantu seseorang memahami suatu persoalan secara lebih utuh sehingga keputusan yang dihasilkan menjadi lebih bijaksana dan tidak sekadar didasarkan pada reaksi emosional.

Ia juga menyampaikan bahwa kemampuan berpikir secara menyeluruh akan membentuk identitas atau personal branding yang kuat.

Namun, identitas tersebut tetap harus dibangun di atas nilai-nilai moral dan spiritual agar tidak kehilangan arah dalam menghadapi perkembangan zaman.

“Tidak selamanya persoalan harus dipandang hitam dan putih, tetapi hasil akhirnya memang harus jelas. Dengan konstruksi berpikir Eko Spasi, seseorang akan lebih bijak dalam mengambil keputusan,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Kabupaten Kebumen, Nasikin, mengatakan tema diskusi dipilih karena sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini yang menghadapi ledakan informasi setiap hari.

Menurutnya, masyarakat, khususnya generasi muda, harus memiliki kemampuan literasi digital dan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai narasi yang beredar di ruang digital.

Nasikin menilai derasnya arus informasi sering kali membuat seseorang lebih mudah bereaksi dibandingkan melakukan analisis terlebih dahulu.

Kondisi tersebut berpotensi memunculkan kesalahpahaman, penyebaran informasi yang belum terverifikasi, hingga polarisasi di tengah masyarakat.

“Di era digital kita sering kali terjebak dalam narasi karena surplus informasi yang begitu banyak. Karena itu, kita harus mampu bersikap bijak terhadap setiap informasi yang diterima, bukan langsung bereaksi,” ujarnya.

Ia berharap forum diskusi seperti ini dapat menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, terbuka terhadap berbagai perspektif, serta mampu menyaring informasi secara bijak.

Melalui Forum Intelegensi bertema Beyond Binary, HMI Cabang Kabupaten Kebumen ingin mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir reflektif dan holistik dalam menghadapi tantangan era digital.

Dengan kemampuan tersebut, masyarakat diharapkan mampu mengambil keputusan secara lebih rasional, menghindari pola pikir hitam putih, serta memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk membangun kehidupan yang lebih produktif dan berkualitas. (cah/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Sport Tourism Peluang Baru Dongkrak Ekonomi

KONI Banjarnegara Optimalkan Sport Tourism untuk Tingkatkan Ekonomi Kerakyatan

Berita Selanjutnya
Warung Bertambah, Kawasan Tetap Bersih

Jalan Pandak-Sibalung Banyumas Viral, DLH Pastikan Kawasan Tetap Bersih dari Sampah