Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Alessandro Costacurta Yakin Como 1907 Tembus 16 Besar Liga Champions 2026/2027
Harga Tembakau Karanggayam Kebumen Naik, Petani Raup hingga 150 Ribu per Kilogram

Harga Tembakau Karanggayam Kebumen Naik, Petani Raup hingga 150 Ribu per Kilogram

Harga Tembakau Naik, Petani Makin OptimistisHarga Tembakau Naik, Petani Makin Optimistis
JEMUR: Warga menjemur tembakau hasil panen di Kecamatan Karanggayam, Kebumen, Minggu (6/9)

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Senyum petani tembakau di Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, tahun ini tampaknya lebih lebar.

Memasuki musim panen, harga tembakau mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menjadi kabar baik bagi petani yang selama ini mengandalkan komoditas tembakau sebagai salah satu sumber pendapatan utama.

Tembakau menjadi salah satu tanaman yang cukup banyak dibudidayakan masyarakat di sejumlah desa di Kecamatan Karanggayam.

Ketika musim panen tiba, aktivitas petani meningkat, mulai dari memetik daun, mengolah, hingga menjemur tembakau sebelum dipasarkan.

Salah satu petani yang merasakan kenaikan harga tersebut adalah Supriyanto, warga Dukuh Poleman, Desa Kebakalan, Kecamatan Karanggayam.

Selama lebih dari 15 tahun bertani tembakau, ia menilai harga komoditas tersebut pada musim panen tahun ini cukup menjanjikan.

“Untuk tahun ini harga tembakau lumayan ada kenaikan harga daripada tahun lalu,” kata Supriyanto, Minggu (6/9).

Supriyanto menjelaskan, harga tembakau berbeda berdasarkan kondisi dan cara penjualannya.

Untuk daun tembakau yang masih basah, harga saat ini berada di kisaran Rp7 ribu hingga Rp8 ribu per kilogram.

Setelah melalui proses pengeringan, harga tembakau mengalami peningkatan cukup signifikan.

Tembakau kering yang dijual dalam jumlah besar atau grosir berada di kisaran Rp110 ribu per kilogram.

Sementara apabila dijual secara eceran, harganya dapat mencapai Rp150 ribu per kilogram.

“Kalau daun basah, kami mengambil dari ladang itu Rp7 ribu. Kalau yang sudah kering, kalau jumlah banyak kita jualnya Rp110 ribu, kalau eceran ya Rp150 ribu,” ujarnya.

Perbedaan harga tersebut membuat proses pascapanen menjadi bagian penting dalam usaha tembakau.

Daun yang telah dipanen tidak langsung seluruhnya dijual dalam kondisi basah. Sebagian diproses hingga kering sebelum dipasarkan.

Bagi petani, kenaikan harga pada musim panen tahun ini memberikan harapan terhadap pendapatan mereka.

Apalagi, biaya dan tenaga yang dikeluarkan selama proses budidaya cukup panjang sebelum akhirnya tembakau dapat dipanen dan dijual.

Selain harga yang meningkat, petani tembakau Karanggayam juga memiliki pasar yang cukup luas.

Salah satu wilayah tujuan pemasaran utama hasil panen Supriyanto adalah Kabupaten Cilacap.

Ia mengatakan sebagian besar tembakau hasil panennya dipasarkan ke wilayah tersebut.

Menurutnya, permintaan dari para penglinting menjadi salah satu faktor yang membuat tembakau Karanggayam memiliki pasar di Cilacap.

“Pemasaran kalau saya paling banyak ke daerah Cilacap,” tuturnya.

Tembakau asal Karanggayam dinilai memiliki karakter rasa yang cocok untuk kebutuhan tembakau linting.

Karakter tersebut menjadi salah satu keunggulan yang membuat hasil pertanian dari wilayah tersebut tetap diminati.

Bagi para penglinting, kualitas rasa menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih tembakau.

Karena itu, karakter tembakau dari Karanggayam disebut memiliki kecocokan tersendiri dengan kebutuhan mereka.

Supriyanto menilai cita rasa merupakan salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari keunggulan tembakau Karanggayam.

Menurutnya, para penglinting di wilayah Cilacap sudah mengetahui karakter tembakau dari Karanggayam dan menilai produk tersebut cocok digunakan sebagai bahan tembakau linting.

“Keistimewaan tembakau Karanggayam itu memang untuk para penglinting di wilayah Cilacap sangat cocok. Karena soal rasa itu tidak bisa dipungkiri bagi para penglinting,” katanya.

Kondisi tersebut membuat pemasaran tembakau tidak hanya bergantung pada pembeli di sekitar sentra produksi.

Hasil panen dapat dipasarkan ke daerah lain yang memiliki kebutuhan terhadap tembakau untuk lintingan.

Bagi petani, adanya pasar di luar wilayah Karanggayam menjadi keuntungan tersendiri.

Produk pertanian mereka memiliki peluang untuk terus terserap ketika memasuki musim panen.

Bagi sebagian besar petani di Karanggayam, tembakau bukan sekadar tanaman musiman. Komoditas tersebut menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar dalam satu tahun.

Supriyanto mengatakan mayoritas petani mengandalkan hasil panen tembakau untuk mendapatkan penghasilan, terutama ketika musim panen tiba.

“Mayoritas penghasilan terbesar petani ya dari hasil panen tembakau di musim-musim seperti saat ini,” ujarnya.

Karena itu, kenaikan harga tembakau tahun ini menjadi angin segar bagi petani.

Harga yang lebih baik diharapkan dapat membantu meningkatkan pendapatan setelah petani melewati proses budidaya dan pengolahan hasil panen.

Aktivitas menjemur tembakau pun mulai terlihat di sejumlah wilayah Karanggayam. Daun tembakau hasil panen dijemur sebelum dipasarkan dalam kondisi kering.

Dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya dan pasar yang menjangkau wilayah seperti Cilacap, petani tembakau Karanggayam memiliki alasan untuk menyambut musim panen tahun ini dengan optimistis.

Namun, keberlanjutan usaha tembakau tetap bergantung pada berbagai faktor, termasuk hasil panen, kualitas daun, harga di tingkat petani, serta permintaan dari pasar.

Bagi petani yang telah bertahun-tahun menekuni komoditas tersebut, pengalaman membaca kualitas dan karakter tembakau menjadi modal penting untuk mempertahankan pasar.

Kenaikan harga tahun ini pun diharapkan bukan hanya memberikan keuntungan sesaat, tetapi juga mampu menjaga semangat petani untuk terus mengembangkan budidaya tembakau di Kecamatan Karanggayam. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Como Jadi Kuda Hitam

Alessandro Costacurta Yakin Como 1907 Tembus 16 Besar Liga Champions 2026/2027