BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Kekeringan yang melanda Kabupaten Cilacap pada akhir Agustus hingga awal September 2026 mulai berdampak terhadap sektor pertanian.
Sekitar 2.100 hektare lahan pertanian terdampak akibat keterbatasan pasokan air, terutama sawah yang membutuhkan pengairan untuk mendukung pertumbuhan tanaman padi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian lahan pertanian di sejumlah wilayah Cilacap bahkan dilaporkan mengalami puso.
Hal itu terjadi ketika tanaman tidak mendapatkan pasokan air yang cukup untuk melanjutkan pertumbuhan dan menghasilkan panen.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Sigit Widayanto, mengatakan dampak kekeringan terjadi di sejumlah lokasi yang sumber airnya sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan pengairan sawah.
“Beberapa kemarin ada di akhir Agustus maupun awal September ini terhadap beberapa lokasi yang memang airnya sudah tidak bisa masuk. Kemudian kalau kita menyedot air juga airnya asin,” kata Sigit, Minggu (6/9/2026).
Salah satu wilayah yang mengalami persoalan pasokan air adalah Kecamatan Patimuan.
Selain itu, sebagian wilayah Kecamatan Kawunganten juga terdampak kekeringan.
Di daerah tersebut, petani mengalami kesulitan memperoleh sumber air yang dapat digunakan untuk mengairi lahan pertanian.
Kondisi semakin sulit ketika sumber air alternatif yang tersedia tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Di Patimuan beberapa, kemudian di Kawunganten itu sempat ada yang puso,” lanjut Sigit.
Lahan yang mengalami puso menjadi bagian dari dampak kekeringan yang perlu mendapat perhatian.
Terlebih, sektor pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air, baik dari sumber alami maupun jaringan irigasi.
Meski sekitar 2.100 hektare lahan pertanian terdampak, Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap belum melakukan perubahan signifikan terhadap target produksi pangan daerah.
Hal tersebut salah satunya karena produktivitas sawah yang masih dapat dipanen saat ini berada pada kisaran 6,4 ton gabah per hektare.
Untuk menjaga keberlangsungan produksi pangan, Dinas Pertanian Cilacap menyiapkan strategi percepatan tanam pada wilayah yang masih memiliki sumber air memadai.
Sejumlah wilayah yang dinilai masih memungkinkan untuk melakukan pertanaman pada September antara lain Maos, Sampang, sebagian Binangun, Kroya, dan Adipala.
Wilayah-wilayah tersebut dipilih karena ketersediaan sumber air dinilai masih memungkinkan untuk mendukung pertanaman.
“Untuk pertanaman ke depan yang memungkinkan pertama dilaksanakan di September ini daerah-daerah Maos, daerah Sampang, mungkin sebagian Binangun, sebagian Kroya, sebagian Adipala. Karena sumber airnya masih memungkinkan,” jelas Sigit.
Percepatan tanam menjadi salah satu upaya untuk menjaga luas tanam sekaligus mempertahankan produksi pertanian di tengah kondisi kemarau.
Dengan mengarahkan kegiatan pertanaman ke wilayah yang masih memiliki pasokan air, risiko tanaman mengalami kekurangan air diharapkan dapat ditekan.
Selain mengandalkan sumber air yang masih tersedia di masing-masing wilayah, Dinas Pertanian Cilacap juga menunggu kembali normalnya pasokan dari jaringan irigasi Serayu.
Menurut Sigit, pengeringan jaringan irigasi Serayu mulai dilakukan pada 1 September 2026.
Pengeringan tersebut membuat pasokan air ke sejumlah area persawahan harus menyesuaikan kondisi jaringan.
Dinas Pertanian berharap aliran air dapat kembali dibuka pada pertengahan hingga akhir September.
Jika pasokan kembali normal, jaringan irigasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian di sejumlah wilayah.
Daerah yang diharapkan mendapatkan manfaat dari kembalinya aliran irigasi antara lain Maos, Sampang, sebagian Binangun, serta sebagian wilayah Adipala.
“Mudah-mudahan di bulan ini nanti pertengahan atau akhir sudah bisa dibuka, dan juga bisa untuk mengaliri sawah-sawah dari daerah Maos, Sampang dan sebagian Binangun, sebagian Adipala tadi untuk percepatan luas tambah tanam kita,” pungkasnya.
Kondisi kekeringan yang berdampak pada sekitar 2.100 hektare lahan menunjukkan pentingnya ketersediaan air bagi sektor pertanian Cilacap.
Tidak semua wilayah memiliki kondisi sumber air yang sama sehingga strategi pertanaman perlu menyesuaikan dengan ketersediaan pengairan.
Bagi wilayah yang sumber airnya masih memungkinkan, percepatan tanam menjadi pilihan untuk menjaga keberlanjutan produksi.
Sementara pada daerah yang mengalami keterbatasan air, kondisi lahan perlu terus dipantau untuk mengetahui perkembangan dampak kekeringan.
Dinas Pertanian juga perlu mengantisipasi apabila kekeringan berlangsung lebih panjang.
Kembalinya pasokan dari jaringan irigasi Serayu menjadi salah satu faktor yang diharapkan dapat membantu memperluas kembali area yang bisa ditanami.
Dengan kondisi tersebut, keberhasilan pengelolaan air selama masa kemarau menjadi faktor penting untuk mempertahankan produktivitas pertanian.
Apalagi saat ini rata-rata produktivitas sawah yang masih dapat dipanen berada di sekitar 6,4 ton gabah per hektare.
Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian terus mengupayakan agar lahan yang masih memiliki dukungan air dapat segera ditanami.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mempertahankan produksi pangan sekaligus mengimbangi adanya sebagian lahan yang terdampak kekeringan dan mengalami puso. (jul/stch/dda)














