BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Di Banyumas, suasana arena latihan olahraga airsoft selalu dipenuhi semangat dan antusiasme.
Deru langkah berlari memecah keheningan, sementara suara tembakan plastik berkaliber kecil saling bersahutan dari balik dinding-dinding buatan yang dirancang menyerupai medan tempur.
Beberapa anggota komunitas berlindung sambil menyusun strategi, sementara yang lain bergerak cepat mencari celah untuk menyerang lawan.
Sekilas, suasana ini tampak seperti adegan film militer, namun di balik perlengkapan loreng dan replika senjata yang mereka gunakan, tersimpan olahraga yang menuntut disiplin, sportivitas, serta kekompakan tim.
Sejak sekitar tahun 2014, Heat Airsoft Club telah menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan hobi ini di Banyumas.
Komunitas ini kini menjadi wadah bagi puluhan penghobi airsoft dari berbagai daerah seperti Purwokerto, Cilongok, Ajibarang, hingga wilayah sekitarnya.
Bagi Stevanus Lewi Santoso, seorang anggota komunitas yang telah aktif selama enam hingga tujuh tahun, airsoft lebih dari sekadar permainan “perang-perangan”.
Menurutnya, ada sensasi adrenalin dan strategi yang membuat olahraga ini terasa berbeda dibandingkan dengan hobi lainnya.
“Basicnya saya memang suka sesuatu yang militeri dan ada adrenalinnya. Permainannya seru dan jarang ada komunitas olahraga seperti ini,” ungkap Stevanus pada Kamis (14/5/2026).
Dalam setiap permainan airsoft, ditekankan pentingnya kerja sama dan kejujuran dari setiap pemain.
Berbeda dengan paintball yang meninggalkan bekas cat sebagai tanda terkena tembakan, peluru plastik dalam permainan airsoft tidak memberikan tanda fisik ketika mengenai tubuh pemain.
Oleh karena itu, setiap peserta harus jujur untuk mengakui diri mereka saat terkena tembakan. Di sinilah nilai sportivitas benar-benar diuji.
“Kalau kena, ya harus jujur keluar dari permainan. Jadi bukan cuma soal menang atau kalah, tapi juga mental fair play,” tegasnya.
Kegiatan rutin dalam pertemuan komunitas tidak hanya terfokus pada simulasi pertempuran saja.
Banyak obrolan lain yang menjadikan hubungan antaranggota semakin erat dan harmonis.
Anggota komunitas seringkali membahas perlengkapan tempur, melakukan modifikasi pada replika senjata mereka, atau bahkan berburu aksesori terbaru untuk meningkatkan pengalaman bermain mereka.
Di antara mereka terdapat berbagai latar belakang profesi; ada dosen, pegawai negeri sipil (ASN), wiraswasta, sipir penjara, karyawan swasta hingga mahasiswa dan pelajar.
Namun ketika berkumpul di arena latihan atau pertandingan, semua perbedaan itu melebur menjadi satu hobi yang sama.
“Banyak yang suka game tembak-tembakan atau film bertema militer dan akhirnya ketemu di komunitas ini,” kata Stevanus menambahkan tentang dinamika antaranggota komunitas.
Dalam dunia airsoft sendiri terdapat beberapa kategori pertandingan yang menarik perhatian para penggemar olahraga ini.
Salah satu kategori yang cukup populer adalah KST atau Kompetisi Simulasi Taktikal.
Kategori ini menekankan pada kecepatan, ketepatan serta disiplin para pemain.
Selain itu terdapat pula military simulation atau milsim yang menghadirkan skenario layaknya operasi militer sungguhan seperti tactical operation, killhouse, deathmatch, capture the flag hingga VIP rescue dan hostage rescue.
Dari berbagai ajang tersebut, Heat Airsoft Club mulai menorehkan prestasi yang membanggakan.
Mereka pernah meraih juara tiga nasional kategori killhouse dalam event Bascom Bandung Air Soft Community.
Selain itu salah satu anggotanya berhasil meraih peringkat dua tingkat Jawa Tengah pada kategori KST.
Prestasi terbaru kembali datang melalui ajang Forda KST 2 Gun di Solo Surakarta dimana salah satu anggota Heat Airsoft bernama Thorry Abdullah sukses membawa pulang gelar juara dua.
Bagi komunitas ini, setiap pencapaian merupakan bukti bahwa olahraga airsoft tidak bisa dipandang sebelah mata.
Di balik perlengkapan tempur dan taktik permainan terdapat latihan serius yang membutuhkan fokus tinggi serta ketahanan fisik sekaligus kemampuan membaca situasi dengan tepat.
Perkembangan Heat Airsoft Club juga tidak lepas dari hadirnya Satria Battleground Arena di Banyumas.
Arena latihan ini dibangun dari lahan pribadi oleh Teuku Ryan dan kini menjadi pusat berkumpul sekaligus tempat latihan bagi komunitas tersebut.
Ryan menjelaskan bahwa sebelumnya komunitas airsoft di Banyumas mengalami kesulitan dalam mencari tempat latihan karena harus berbagi jadwal dengan cabang olahraga lain.
“Karena jadwal sering berbentrok, akhirnya saya gunakan lahan pribadi untuk arena latihan. Semua izin juga resmi dari kepolisian dan instansi terkait,” jelasnya tentang inisiatif membuka arena sendiri seluas 15 x 40 meter tersebut.
Kini arena Satria Battleground tidak hanya digunakan oleh anggota Heat Airsoft Club tetapi juga terbuka untuk masyarakat umum yang ingin mencoba sensasi bermain airsoft.
Pengunjung dapat menyewa perlengkapan lengkap mulai dari handgun hingga rifle jenis M4, AK-47 serta MP5 lengkap dengan perlengkapan keselamatan dan dokumentasi permainan.
Heat Airsoft Club beroperasi di bawah naungan Persatuan Olahraga Airsoft Gun Indonesia (Porgasi) serta Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI).
Dengan statusnya sebagai satu-satunya klub airsoft resmi di Banyumas dan sekitarnya, Ryan menegaskan bahwa komitmen terhadap aturan keamanan sangat dijunjung tinggi oleh semua anggota komunitas.
“Setiap calon anggota harus memahami etika penggunaan unit airsoft termasuk larangan membawa replika senjata sembarangan di tempat umum,” tegas Ryan menekankan pentingnya menjaga citra positif olahraga airsoft kepada masyarakat luas.
Bagi mereka di Heat Airsoft Club, lebih dari sekadar menembak lawan dalam arena permainan; ada nilai-nilai kedisiplinan tinggi serta rasa tanggung jawab serta solidaritas yang terus dibangun dalam setiap interaksi antaranggota.
Di tengah berkembangnya tren olahraga modern serta hobi berbasis adrenalin saat ini, Heat Airsoft Club menunjukkan bahwa komunitas kecil asal Banyumas pun mampu bersinar di tingkat nasional melalui pencapaian prestasinya dalam dunia airsoft. (dms/stch/dda)
















