BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Dampak kekeringan akibat musim kemarau panjang di Kabupaten Purbalingga semakin meluas.
Hingga Senin (31/8/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga mencatat sebanyak 41 desa di 12 kecamatan telah mengajukan permohonan bantuan air bersih.
Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan air bersih masyarakat terus meningkat seiring musim kemarau yang berlangsung lebih panjang.
BPBD Purbalingga pun masih melakukan distribusi air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan sumber air untuk kebutuhan sehari-hari.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga Revon H melalui Sekretaris BPBD Aris Mulyanto mengatakan, jumlah desa yang membutuhkan bantuan terus bertambah.
“Ada penambahan desa yang mengajukan dropping air bersih kepada kami. Total ada 40 desa yang sudah mengajukan surat permohonan dropping air bersih,” kata Aris, Senin (31/8/2026).
Selain 40 desa yang telah mengajukan permohonan secara tertulis, terdapat satu desa lainnya yang sudah meminta bantuan kepada BPBD, tetapi belum menyampaikan surat resmi.
Permohonan tersebut disampaikan langsung kepada BPBD melalui sambungan telepon.
Dengan demikian, jumlah keseluruhan desa yang telah meminta bantuan air bersih mencapai 41 desa.
“Jadi total ada 41 desa yang sudah mengajukan permohonan dropping air bersih. Sebanyak 40 desa sudah mengajukan secara tertulis dan satu desa by japri,” ujarnya.
Tidak hanya jumlah desa yang bertambah, wilayah kecamatan yang terdampak kekurangan air bersih juga semakin luas.
Pada pekan sebelumnya, BPBD mencatat kekurangan air bersih terjadi di 11 kecamatan. Kini jumlah tersebut meningkat menjadi 12 kecamatan.
Kecamatan Rembang menjadi wilayah terbaru yang masuk dalam daftar daerah terdampak kekeringan.
Di wilayah tersebut, terdapat tiga desa yang dilaporkan mengalami kesulitan air bersih, yakni Desa Wanogara, Wlahar, dan Wanogara Kulon.
Untuk Desa Wanogara Kulon, permohonan bantuan air bersih baru disampaikan melalui sambungan telepon.
Pemerintah desa setempat belum mengirimkan permohonan secara tertulis kepada BPBD Purbalingga.
Kondisi tersebut membuat BPBD terus memantau perkembangan kekeringan di lapangan.
Pemerintah daerah juga mengantisipasi kemungkinan jumlah wilayah terdampak masih bertambah apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.
BPBD Purbalingga memperkirakan kondisi kekurangan air bersih yang terjadi di masyarakat sebenarnya lebih luas dibandingkan data 41 desa yang telah mengajukan permohonan.
Pasalnya, masih terdapat sejumlah desa yang warganya mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih, tetapi pemerintah desa belum mengajukan permohonan bantuan secara resmi kepada BPBD.
“Ada beberapa desa yang warganya sudah minta dropping air bersih. Tapi dari Pemdes belum berkirim surat ke BPBD,” ungkap Aris.
Hal tersebut menjadi salah satu kendala dalam pendataan wilayah terdampak. Data resmi BPBD pada dasarnya mengikuti permohonan bantuan yang disampaikan oleh pemerintah desa.
Karena itu, masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih diharapkan dapat segera berkoordinasi dengan pemerintah desa.
Selanjutnya, pemerintah desa dapat meneruskan permohonan bantuan kepada BPBD agar distribusi air bersih dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Purbalingga, kekeringan saat ini telah berdampak terhadap 3.676 kepala keluarga (KK) atau 13.060 jiwa.
Jumlah tersebut menjadi gambaran besarnya kebutuhan masyarakat terhadap pasokan air bersih selama musim kemarau.
Untuk membantu warga, BPBD Purbalingga terus melakukan distribusi air bersih ke wilayah yang telah mengajukan permohonan.
Hingga Senin (31/8/2026), bantuan yang telah disalurkan mencapai 882 tangki.
Jika dikonversikan, total air bersih yang telah didistribusikan mencapai sekitar 4,107 juta liter.
Distribusi dilakukan secara bertahap berdasarkan permohonan dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
Bantuan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar warga, terutama untuk kebutuhan sehari-hari selama sumber air mengalami kekeringan.
Meluasnya dampak kekeringan membuat BPBD Purbalingga masih harus melakukan dropping air bersih secara berkelanjutan.
Distribusi bantuan menjadi langkah penting untuk membantu masyarakat yang tidak lagi mendapatkan pasokan air yang cukup dari sumber air di sekitar tempat tinggal mereka.
Dengan jumlah desa terdampak yang terus meningkat, kebutuhan terhadap bantuan air bersih juga berpotensi bertambah.
BPBD bersama pemerintah desa perlu terus melakukan pemantauan agar wilayah yang mengalami kesulitan air dapat segera mendapatkan penanganan.
Masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak selama musim kemarau. Penghematan air menjadi penting mengingat kondisi cuaca dapat membuat sumber air semakin terbatas.
Musim kemarau panjang menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan persoalan kekurangan air bersih di berbagai wilayah Purbalingga.
Semakin panjang periode tanpa hujan, semakin banyak sumber air yang berpotensi mengalami penurunan debit atau mengering.
Kondisi tersebut juga menyebabkan jumlah permohonan bantuan air bersih dari desa-desa terus bertambah.
BPBD Purbalingga hingga kini masih melakukan distribusi bantuan ke desa-desa yang telah mengajukan permohonan.
Pendataan juga terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan jumlah warga yang terdampak.
Dengan 41 desa di 12 kecamatan yang telah mengajukan bantuan dan lebih dari 13 ribu jiwa terdampak, persoalan kekurangan air bersih menjadi salah satu dampak serius musim kemarau di Kabupaten Purbalingga.
Ke depan, koordinasi antara BPBD, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi penting untuk memastikan distribusi bantuan air bersih berjalan efektif.
Penambahan wilayah terdampak juga perlu terus diantisipasi apabila musim kemarau belum berakhir.
BPBD Purbalingga memastikan distribusi bantuan masih berjalan untuk memenuhi kebutuhan warga di wilayah yang telah mengajukan permohonan.
Sementara itu, pemerintah desa yang warganya mulai mengalami kesulitan air bersih diharapkan segera melakukan koordinasi dan menyampaikan permohonan secara resmi agar dapat ditindaklanjuti.
Kondisi kekeringan di Purbalingga ini menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih selama musim kemarau masih menjadi persoalan yang harus mendapat perhatian.
Dengan distribusi mencapai 882 tangki atau sekitar 4,107 juta liter, bantuan terus diberikan untuk meringankan beban ribuan keluarga yang terdampak. (tya/stch/dda)














