BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Musim kemarau mulai memberikan dampak terhadap sektor budidaya ikan di Kabupaten Purbalingga.
Penurunan debit air menjadi salah satu persoalan yang mulai dirasakan para pembudidaya, terutama mereka yang mengandalkan sumber air dari sumur pompa untuk memenuhi kebutuhan kolam.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena ketersediaan air merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha budidaya ikan.
Ketika debit air menurun, pembudidaya harus mencari cara agar kebutuhan air untuk kolam tetap terpenuhi tanpa mengganggu kondisi ikan.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Purbalingga, Hafidhah Khusniyati, mengatakan sejumlah pembudidaya mulai menyampaikan keluhan terkait berkurangnya sumber air selama musim kemarau.
Menurutnya, kondisi tersebut terutama dirasakan pada kolam yang menggunakan air dari sumur dengan sistem pompa.
Musim kemarau membuat ketersediaan air berkurang sehingga debit yang dapat dialirkan ke kolam juga ikut menurun.
“Ada keluhan sumber air sumur yang dipompa mulai berkurang. Musim kemarau yang melanda memang mengurangi debit air kolam, terutama yang mengandalkan air dari sumur,” ungkap Hafidhah, Selasa (1/9/2026).
Penurunan debit air tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi sejumlah sentra budidaya ikan Purbalingga.
Salah satu wilayah yang mendapat perhatian adalah Kecamatan Kejobong dan Pengadegan yang dikenal sebagai sentra budidaya ikan lele.
Selain lele, budidaya ikan nila dan bawal juga berpotensi menghadapi kendala serupa.
Jenis ikan tersebut membutuhkan volume air yang cukup untuk menunjang pertumbuhan dan menjaga kondisi lingkungan kolam tetap sesuai kebutuhan.
Di tengah kondisi tersebut, DPPP Kabupaten Purbalingga mendorong pembudidaya mulai menerapkan teknologi budidaya ikan hemat air.
Upaya ini dinilai penting agar kegiatan usaha perikanan tetap dapat berjalan meskipun ketersediaan air mengalami penurunan selama musim kemarau.
Dua teknologi yang saat ini diperkenalkan kepada pembudidaya adalah bioflok dan Recirculating Aquaculture System (RAS).
Keduanya dapat menjadi alternatif untuk menekan kebutuhan penggunaan air dalam kegiatan budidaya ikan.
Teknologi bioflok sebenarnya bukan hal baru bagi pembudidaya di Purbalingga. Sistem tersebut telah diterapkan selama beberapa tahun dan dinilai cukup sesuai untuk komoditas seperti lele dan nila.
Melalui sistem bioflok, pengelolaan kualitas air dilakukan dengan memanfaatkan mikroorganisme sehingga limbah organik dalam kolam dapat dikelola menjadi bagian dari sistem budidaya.
Dengan demikian, kebutuhan penggantian air dapat ditekan dibandingkan metode budidaya konvensional.
Sementara itu, Recirculating Aquaculture System atau RAS mengandalkan sistem sirkulasi air. Air dari kolam dialirkan melalui tahapan penyaringan sebelum digunakan kembali.
Sistem tersebut memungkinkan air digunakan secara berulang sehingga kebutuhan pasokan air baru dapat dikurangi.
Teknologi RAS dinilai memiliki peluang untuk semakin dikembangkan di Purbalingga.
Terlebih, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga mendorong pemanfaatan teknologi tersebut secara lebih luas pada tahun ini.
DPPP Purbalingga telah melakukan identifikasi serta verifikasi terhadap calon penerima bantuan yang nantinya berpotensi memperoleh dukungan program tersebut.
Namun, jumlah penerima bantuan masih menunggu penetapan berdasarkan kriteria dan kuota yang tersedia.
“Yang kita lakukan ialah pengenalan teknologi budidaya ikan hemat air. Di Kabupaten Purbalingga sudah dilakukan identifikasi dan verifikasi calon penerima bantuan. Kami belum mengetahui berapa yang nantinya akan dapat sesuai kriteria dan kuota,” jelas Hafidhah.
Penerapan teknologi hemat air diharapkan dapat menjadi salah satu strategi untuk menjaga keberlangsungan usaha budidaya ikan di Purbalingga ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Pembudidaya tidak hanya dituntut mampu mempertahankan produksi, tetapi juga perlu menyesuaikan metode budidaya dengan kondisi sumber daya air yang tersedia.
Bagi pembudidaya lele, nila maupun bawal, efisiensi penggunaan air menjadi semakin penting karena biaya operasional juga perlu diperhitungkan.
Penggunaan teknologi yang mampu mengurangi kebutuhan pergantian air berpotensi membantu pembudidaya mengelola usaha secara lebih efisien.
Dengan adanya sosialisasi bioflok dan RAS, sektor perikanan Purbalingga diharapkan mampu beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Pemanfaatan teknologi budidaya ikan hemat air juga dapat menjadi langkah untuk menjaga produktivitas kolam sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber air yang semakin terbatas selama musim kemarau.
Pemerintah daerah melalui DPPP Purbalingga pun terus mendorong pembudidaya untuk memahami teknologi yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Dengan pemilihan metode yang tepat, keterbatasan air diharapkan tidak menjadi hambatan utama bagi keberlanjutan usaha budidaya ikan, lele, nila, dan bawal di Kabupaten Purbalingga. (alw/stch/dda)
















