BANYUMASEKSPRES.ID, Jardine Foundation bersama Universitas Gadjah Mada resmi meluncurkan program beasiswa pascasarjana dengan kuota 20 penerima mulai tahun ini di Indonesia.
Program tersebut mencakup biaya pendidikan sekaligus biaya hidup bagi mahasiswa UGM yang memulai studi pada tahun ajaran 2026/2027 nanti.
Jardine Foundation merupakan yayasan pendidikan milik Jardine Matheson yang sebelumnya dikenal menyediakan beasiswa untuk studi di Oxford dan Cambridge.
Perusahaan investasi tersebut berfokus pada kawasan Asia Pasifik dengan saham utama tercatat di London serta sekunder di Singapura hingga kini.
Director of Jardine Matheson Holdings Ltd, Anthony Nightingale, mengatakan dukungan akan diperkuat melalui jejaring alumni penerima beasiswa Oxford, Cambridge, dan UGM.
“Khususnya untuk skema lokal di Indonesia, menurut saya, relevan untuk membuka peluang magang atau bahkan kerja di masa mendatang di perusahaan-perusahaan di dalam grup kami,”
Menurut Nightingale, peluang tersebut dinilai relevan untuk memperluas pengalaman penerima beasiswa sekaligus membuka kesempatan pengembangan karier setelah menyelesaikan studi nantinya.
“Di samping itu, baik untuk alumni program Oxford, Cambridge, dan dalam negeri, kami akan memperkuat jejaring alumni dan menengok pengayaan seperti apa yang dapat kami sediakan dalam kegiatannya. Menurut kami, ini sangat penting,”
Mantan Menteri Luar Negeri RI sekaligus Senior Advisor Jardine Foundation, Retno Marsudi, menilai program tersebut turut memperkuat pembinaan penerima beasiswa.
Menurut Retno, beasiswa ini tidak hanya mendukung pendidikan, tetapi juga menghadirkan pengayaan soft skill agar penerima mampu memberi dampak masyarakat.
“Dalam pembicaraan (dengan UGM), ada pembicaraan mengenai mentoring, dan saya bilang ‘I’m more than happy to be one of the mentors untuk anak-anak’,”
Retno mengungkapkan program Beasiswa Jardine direncanakan diperluas ke kampus lain serta diselenggarakan setiap tahun pada periode mendatang secara bertahap.
Meski demikian, pelaksanaan perdana bagi mahasiswa baru tahun ajaran 2026/2027 dimulai terlebih dahulu di Universitas Gadjah Mada sebagai kampus mitra.
Rektor UGM Prof dr Ova Emilia, MMedEd, SpOG(K), PhD, menjelaskan program ini mendukung studi yang berkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan.
Mahasiswa penerima beasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap berbagai isu pembangunan berkelanjutan setelah menyelesaikan pendidikan mereka nantinya.
Ova menyebut perubahan iklim, kesehatan, serta pertanian menjadi bidang prioritas yang diharapkan berkembang melalui dukungan program beasiswa tersebut bersama UGM.
Selain bidang prioritas, program juga mempertimbangkan aspek inklusivitas dengan mendorong mahasiswa dari daerah 3T agar berani mengikuti proses pendaftaran tersebut.
Menurut Ova, langkah tersebut diharapkan membuka peluang lulusan untuk melanjutkan capaian hingga mampu menembus universitas terbaik dunia pada masa depan.
“UGM berkomitmen untuk ikut mempersiapkan itu sehingga mendapatkan bukan hanya talenta terbaik, tetapi juga untuk mendistribusikan talenta-talenta itu untuk seluruh negeri,”
Berdasarkan laman Direktorat Kemahasiswaan UGM, Jardine-UGM Postgraduate Scholarship Tahun 2026 kini sedang memasuki tahapan seleksi bagi para pendaftar resmi.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr Danang Sri Hadmoko SSi MSc, memaparkan perkembangan seleksi.
Sebanyak 151 pendaftar beasiswa magister serta 50 pendaftar beasiswa doktor mengikuti seleksi sebelum menjalani wawancara bersama pihak Jardine-UGM berikutnya.
Danang menegaskan kemampuan akademik dan tujuan pascastudi yang jelas menjadi faktor penting dalam proses seleksi penerima beasiswa tersebut di UGM.
“Satu hal, value yang ingin kita tularkan adalah bahwa mereka mendapatkan beasiswa itu punya tanggung jawab dan juga punya social responsibility setelah itu. Harapannya mereka ketika nanti sukses, juga akan menularkan itu juga, memberikan beasiswa juga kepada anak-anak muda nanti, generasi-generasi selanjutnya,”
Selain dukungan pembiayaan, penerima beasiswa nantinya memperoleh pelatihan kepemimpinan, komunikasi, keterampilan hidup, serta pengembangan kapasitas melalui fasilitas GIK UGM.
Danang menjelaskan ekosistem tersebut didukung bangunan seluas sembilan hektare dan lahan lima hektare yang melibatkan industri serta lembaga internasional.
“Kalau secara fisik fasilitasnya adalah bangunannya itu sudah ada 9 hektare bangunan di sana, kemudian tanahnya luasnya 5 hektare, di situ kita mengundang industri, kita mengundang international agency juga ada di situ, jadi nanti akan kita buatkan ekosistem di situ, jadi kolamnya akan ada di situ semua,”
Bagi calon pelamar tahun depan, syarat utama mencakup WNI, tidak menerima beasiswa lain, serta menempuh semester pertama di UGM.
Peserta juga wajib mempertahankan IPK minimal 3,50, menyelesaikan studi tepat waktu, mengikuti pembinaan, serta menunjukkan kepemimpinan dan kontribusi masyarakat.
Kemampuan bahasa Inggris, komitmen terhadap pembangunan Indonesia, serta kesediaan mengikuti seluruh ketentuan Jardine-UGM Postgraduate Scholarship menjadi persyaratan penting lainnya. (vip)














