Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Contoh Kalimat Sanggah Seleksi Administrasi Sekolah Kedinasan 2026, Catat!
Studi Ungkap Risiko Kebiasaan Screenshot Berlebihan pada Daya Ingat

Studi Ungkap Risiko Kebiasaan Screenshot Berlebihan pada Daya Ingat

ScreenshootScreenshoot

BANYUMASEKSPRES.ID, Kebiasaan mengambil screenshot atau tangkapan layar untuk menyimpan informasi di ponsel ternyata tidak selalu membantu seseorang mengingat informasi tersebut.

Alih-alih membuat informasi lebih mudah diingat, kebiasaan screenshot berlebihan justru berpotensi membuat daya ingat terhadap informasi yang dilihat menjadi lebih buruk.

Temuan tersebut berasal dari penelitian Binghamton University, New York, Amerika Serikat.

Penelitian itu menunjukkan bahwa orang yang mengambil screenshot terhadap suatu gambar dapat memiliki ingatan yang lebih buruk dibandingkan orang yang hanya melihat gambar atau informasi tersebut tanpa mengambil tangkapan layar.

Kebiasaan Screenshot dan Risiko Daya Ingat

Melansir Antara, Jumat (28/8), dari siaran New York Post, penelitian berjudul “Digital Amnesia: The Aftermath of a Screenshot” menemukan adanya efek yang berkaitan dengan fenomena photo-taking impairment effect atau efek gangguan akibat mengambil foto.

Fenomena tersebut menggambarkan kondisi ketika seseorang yang mengambil gambar justru mengingat lebih sedikit informasi dibandingkan orang yang hanya melihat gambar, kemudian melanjutkan aktivitasnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, mengambil screenshot memang menjadi cara praktis untuk menyimpan berbagai informasi di ponsel.

Seseorang dapat menyimpan gambar, tulisan, atau informasi tertentu tanpa harus langsung mencatatnya secara manual.

Namun, manfaat tersebut ternyata dapat menjadi terbatas apabila gambar yang telah disimpan tidak pernah dilihat kembali.

Dengan kata lain, menyimpan informasi melalui screenshot belum tentu membuat informasi tersebut tersimpan dengan baik dalam ingatan.

“Jika Anda tidak secara aktif meninjau kembali gambar-gambar tersebut sebagai petunjuk, kemungkinan besar gambar itu tidak akan memberikan manfaat bagi ingatan,” ujar penulis penelitian Sophia Fabrizio.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan screenshot di dalam perangkat bukan berarti informasi yang tersimpan di dalamnya otomatis membantu daya ingat.

Tangkapan layar tetap dapat berfungsi sebagai media penyimpanan informasi, tetapi pengguna perlu melihatnya kembali apabila ingin memanfaatkannya sebagai petunjuk untuk mengingat informasi yang sebelumnya dilihat.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti melibatkan mahasiswa sebagai peserta. Mereka diperlihatkan berbagai gambar karya seni dengan bentuk yang beragam, mulai dari foto, lukisan hingga sketsa.

Sebagian gambar yang diperlihatkan kepada peserta kemudian diminta untuk mereka screenshot.

Setelah proses tersebut, para peserta diberikan tugas untuk memilih satu dari tiga pilihan dalam menentukan karya seni yang sebelumnya telah mereka lihat.

Metode tersebut digunakan untuk melihat seberapa baik peserta dapat mengenali kembali gambar yang sebelumnya mereka lihat, termasuk gambar yang telah mereka ambil tangkapan layarnya.

Para peneliti juga sengaja menggunakan gambar-gambar yang memiliki kemiripan sangat dekat dengan karya seni aslinya.

Karena memiliki kemiripan yang cukup dekat, peserta tidak bisa hanya mengandalkan ingatan mengenai gambaran umum dari karya seni yang sebelumnya dilihat.

Kondisi tersebut membuat peserta perlu mengandalkan ingatan mereka terhadap gambar yang benar-benar telah diperhatikan sebelumnya.

Hasil penelitian kemudian menunjukkan adanya perbedaan kemampuan mengingat antara gambar yang di-screenshot dan gambar yang hanya dilihat.

Peserta ternyata tidak mengingat gambar yang mereka screenshot sebaik gambar yang hanya mereka lihat.

Bahkan, peserta juga lebih sulit mengingat bahwa sebelumnya mereka telah mengambil screenshot terhadap gambar tersebut.

Sebaliknya, mereka justru lebih mungkin mengingat gambar yang tidak mereka screenshot.

Mengapa Screenshot Bisa Mengganggu Ingatan?

Para peneliti menjelaskan temuan tersebut melalui sejumlah teori.

Teori-teori tersebut dipandang sebagai faktor yang saling berkontribusi terhadap hasil penelitian, bukan sebagai satu-satunya penyebab munculnya gangguan dalam mengingat informasi.

Salah satu teori yang digunakan untuk menjelaskan temuan tersebut adalah divided attention atau perhatian terbagi.

Teori tersebut menyebutkan bahwa tindakan mengambil foto atau screenshot dapat mengalihkan perhatian dan sumber daya kognitif yang seharusnya digunakan otak untuk membentuk ingatan.

Ketika seseorang sedang melihat sebuah gambar, perhatian yang diberikan terhadap informasi tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembentukan ingatan.

Namun, ketika perhatian kemudian terbagi untuk melakukan tindakan mengambil screenshot, proses tersebut dapat ikut memengaruhi bagaimana informasi diproses oleh otak.

Teori lain yang digunakan adalah cognitive offloading. Istilah tersebut merujuk pada kecenderungan seseorang mengurangi usaha untuk mengingat informasi ketika mengetahui bahwa informasi tersebut sudah tersimpan di tempat lain.

Dalam penggunaan ponsel, kondisi ini dapat terjadi ketika seseorang merasa tidak perlu mengingat sebuah informasi karena sudah menyimpannya melalui screenshot.

Contohnya, seseorang tidak lagi merasa perlu menghafal nomor telepon karena informasi tersebut sudah tersimpan di ponsel.

Dengan adanya tempat penyimpanan eksternal, seseorang dapat merasa bahwa informasi tersebut masih bisa diakses kapan saja.

Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa efek tersebut tetap ditemukan meskipun peserta mengetahui gambar yang mereka screenshot akan langsung dihapus dan tidak disimpan secara eksternal.

Temuan ini menjadi bagian penting dalam penelitian karena menunjukkan bahwa keberadaan salinan gambar bukan satu-satunya faktor yang berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengingat.

Dengan demikian, gangguan terhadap proses mengingat tidak semata-mata terjadi karena seseorang mengetahui bahwa informasi yang dilihat telah memiliki salinan.

Selain divided attention dan cognitive offloading, para peneliti juga menjelaskan temuan tersebut melalui teori attentional disengagement.

Teori ini menjelaskan bahwa mengambil foto dapat membuat seseorang keluar dari momen yang sedang dialami.

Tindakan tersebut secara tidak sadar dapat menciptakan jarak antara seseorang dengan pengalaman yang sedang berlangsung.

Dalam konteks penelitian, tindakan mengambil screenshot bukan hanya berkaitan dengan menyimpan gambar.

Aktivitas tersebut juga dapat membuat perhatian seseorang berpindah dari proses melihat dan memahami informasi menuju tindakan mengambil tangkapan layar.

Perubahan perhatian tersebut kemudian dikaitkan dengan kemampuan seseorang dalam mengingat kembali informasi yang sebelumnya dilihat.

Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti kemudian menyarankan agar informasi yang ingin diingat dituliskan, alih-alih hanya mengambil screenshot.

Cara tersebut memang tidak sepenuhnya menghilangkan kemungkinan terjadinya cognitive offloading.

Namun, proses menulis membuat otak tetap memproses informasi yang sedang dicatat.

Hal ini berbeda dengan sekadar mengambil screenshot, terutama ketika gambar yang telah disimpan kemudian tidak pernah dilihat kembali.

Menulis informasi berarti seseorang tetap melakukan proses terhadap informasi yang sedang diterima.

Sementara itu, screenshot dapat menjadi cara yang lebih pasif untuk menyimpan informasi apabila setelahnya tidak ada proses meninjau kembali isi tangkapan layar tersebut.

Temuan penelitian ini bukan berarti seseorang harus berhenti menggunakan fitur screenshot pada ponsel.

Tangkapan layar tetap dapat digunakan sebagai sarana untuk menyimpan informasi yang mungkin dibutuhkan kembali.

Namun, screenshot tidak semestinya dianggap sebagai pengganti proses mengingat.cKetika sebuah informasi benar-benar penting untuk diingat, sekadar menyimpannya di galeri ponsel belum tentu cukup.

Melihat kembali screenshot dapat menjadi bagian penting apabila tangkapan layar tersebut memang ingin digunakan sebagai petunjuk untuk mengingat informasi.

Pada akhirnya, penelitian “Digital Amnesia: The Aftermath of a Screenshot” menunjukkan bahwa kebiasaan mengambil screenshot memiliki hubungan dengan cara seseorang memproses dan mengingat informasi.

Karena itu, penggunaan tangkapan layar sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai cara praktis menyimpan informasi, tetapi juga perlu diimbangi dengan proses meninjau dan mengolah kembali informasi tersebut.

Dengan begitu, screenshot dapat tetap menjadi alat bantu penyimpanan tanpa sepenuhnya menggantikan proses alami otak dalam membentuk dan mempertahankan ingatan. (taa)

Berita Sebelumnya
Masa Sanggah Sekolah Kedinasan

Contoh Kalimat Sanggah Seleksi Administrasi Sekolah Kedinasan 2026, Catat!