BANYUMASEKSPRES.ID, Ratusan siswa dan guru di Kecamatan Temanggung diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Sejumlah murid dan tenaga pengajar bahkan dilaporkan menjalani perawatan medis di RSUD Temanggung akibat mengalami gangguan pencernaan serius.
Peristiwa dugaan keracunan massal tersebut terjadi pada Senin, 18 Mei 2026, setelah pembagian paket makanan kepada para siswa. Jumlah korban awal tercatat mencapai 222 orang terdiri dari siswa dan guru yang berasal dari delapan sekolah berbeda.
Korban berasal dari jenjang TK hingga SMK yang menerima pembagian makanan dari dapur SPPG Tlogorejo di wilayah Temanggung. Menu MBG yang dibagikan meliputi nasi kuning, telur dadar, abon, tempe orek, mentimun, tomat, serta potongan buah semangka segar.
Setelah mengonsumsi makanan tersebut, para siswa dan guru mulai merasakan mual, sakit perut, hingga diare pada malam harinya.
Pada Selasa, 19 Mei 2026, sejumlah siswa dilaporkan tidak masuk sekolah karena mengalami gangguan kesehatan akibat dugaan keracunan tersebut.
“Kronologi dugaan keracunan paket MBG di SMPN 4 Temanggung, Senin (18/5), dengan menu nasi kuning, telur dadar, orek tempe, abon, semangka, mentimun, dan tomat,” kata guru SMPN 4 Temanggung, Ismu Alim, Jumat (22/5/2026).
Menurut Ismu, sekolah menerima sekitar 600 paket MBG dari SPPG Tlogorejo 01 sekitar pukul 10.00 WIB pada Senin.
Paket makanan tersebut kemudian dibagikan kepada siswa kelas sembilan sekitar pukul 10.30 WIB sebelum dibagikan kepada siswa lainnya. Sementara siswa kelas tujuh dan delapan menerima pembagian paket MBG sekitar pukul 11.35 WIB pada hari yang sama.
“Pada Selasa (19/5), banyak murid yang absen karena keluhan diare, sakit perut, mual, muntah, dan pusing. Hingga laporan mulai membanjiri grup koordinasi PIC pada pukul 08.08 WIB,” sambungnya.
Keluhan kesehatan yang terus bermunculan membuat pihak sekolah segera melakukan koordinasi dengan tenaga kesehatan dan pihak rumah sakit setempat.
Beberapa siswa dilaporkan harus menjalani penanganan medis karena mengalami gejala cukup berat setelah mengonsumsi paket MBG tersebut.
“Kondisi darurat ini mengakibatkan dua murid SMPN 4 Temanggung harus dirawat di RSUD Temanggung dan Rumah Sakit Gunung Sawo. Disusul oleh seorang guru yang masuk ke RSUD Temanggung pada 16.00 WIB, setelah menderita diare sejak dini hari pukul 01.00 WIB,” imbuh Ismu.
Pihak sekolah kemudian melakukan pendataan terhadap siswa dan guru yang mengalami gejala gangguan kesehatan setelah pembagian makanan berlangsung.
Pendataan dilakukan menggunakan evaluasi digital melalui Google Form yang dirilis pada Selasa malam sekitar pukul 21.00 WIB tersebut.
Formulir digital tersebut berhasil menjaring sebanyak 340 responden yang melaporkan kondisi kesehatan setelah mengonsumsi menu program MBG.
Dari hasil evaluasi sementara, jumlah siswa dan guru yang mengalami dugaan keracunan meningkat menjadi total 248 orang.
“Kemudian disusul Google Form kedua yang lebih detail pada Rabu (20/5) pukul 07.00 WIB dengan 240 responden. Untuk menjamin akurasi data tim MBG SMPN 4 Temanggung melakukan verifikasi ulang menggunakan data formulir dari SPPG Tlogorejo. Hasil pendataan akhir menunjukkan dampak yang cukup luas, yakni sebanyak 232 murid serta 16 orang guru dan tenaga administrasi sekolah teridentifikasi mengalami gejala gangguan pencernaan mulai dari sakit perut hingga pusing, mual, muntah dan diare,” ujarnya.
Hasil pendataan akhir menunjukkan ratusan siswa dan belasan guru mengalami gejala gangguan kesehatan dengan tingkat kondisi berbeda-beda.
Sebagian korban mengalami sakit perut ringan, sementara korban lainnya harus mendapatkan perawatan intensif akibat kondisi tubuh semakin melemah.
Ismu menambahkan hingga sekarang masih terdapat guru yang menjalani perawatan medis di RSUD Temanggung dan belum diperbolehkan pulang.
Guru tersebut diketahui mulai mendapatkan penanganan medis sejak Selasa sore akibat mengalami diare berkepanjangan setelah mengonsumsi menu MBG. (vip)
















