BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Di tengah gempuran produk modern, tradisi menganyam pandan masih bertahan di Dusun Mawangi, Desa Somawangi, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara.
Setiap hari, suara gesekan daun pandan terdengar dari rumah-rumah warga.
Di tangan para perempuan setempat, helai demi helai daun pudak disulap menjadi tikar pandan atau yang biasa disebut warga sebagai klasa.
Salah satu perajin yang masih setia mempertahankan tradisi tersebut adalah Mbah Wariem.
Di usianya yang telah menginjak 70 tahun, ia masih telaten menganyam daun pandan untuk menghasilkan tikar yang kemudian dijual melalui pengepul.
Bagi Mbah Wariem dan para perajin lainnya, menganyam bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang.
Kerajinan anyaman pandan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mawangi dan salah satu sumber tambahan penghasilan keluarga.
Namun, di balik keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun tersebut, tersimpan persoalan yang hingga kini belum terselesaikan.
Harga jual tikar pandan relatif rendah, sementara proses pembuatannya membutuhkan waktu, tenaga, dan ketelitian.
Ketua RT setempat, Siswandi, mengatakan harga tikar pandan yang diterima perajin saat ini hanya sekitar Rp28.000 per lembar.
“Siki regane mung Rp28.000 selembar. Niku pun mentok,” ujarnya.
Tikar yang dibuat warga umumnya berukuran sekitar 125 x 175 sentimeter. Sebelum menjadi tikar siap jual, daun pandan harus melewati sejumlah proses.
Bahan pandan terlebih dahulu disiapkan, dipotong, kemudian dibesut atau dihaluskan.
Setelah itu, daun dijemur hingga kering. Barulah proses menganyam dilakukan secara manual, helai demi helai.
Untuk bahan bakunya sendiri, satu gulung pandan dibeli dengan harga sekitar Rp80.000 dan dapat menghasilkan enam hingga delapan lembar tikar.
Artinya, dari harga jual yang relatif rendah tersebut, perajin masih harus memperhitungkan tenaga, waktu, serta berbagai proses produksi sebelum tikar siap dipasarkan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Mawangi. Terlebih, sebagian warga tinggal di wilayah yang memiliki kondisi geografis rawan kekeringan dan pilihan lapangan pekerjaan yang terbatas.
Kerajinan pandan menjadi salah satu pekerjaan yang tetap bisa dilakukan dari rumah. Para ibu dapat menganyam sambil menjalankan aktivitas rumah tangga.
Persoalan lain yang dihadapi perajin adalah akses pasar. Sebagian besar perajin masih mengandalkan pengepul untuk menjual tikar hasil produksi mereka.
Pengepul memiliki posisi penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat setempat.
Tidak hanya menjadi tempat menjual tikar, pengepul juga terkadang menjadi tempat warga mendapatkan pinjaman ketika membutuhkan uang atau sembako untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Utang tersebut kemudian dibayar menggunakan tikar yang sudah selesai dibuat.
“Umpama ora duwe, ya nyilih dhisit. Mengko dituker karo klasa,” tutur Mbah Wariem, Kamis (20/8/2026).
Sistem tersebut memang membantu warga ketika membutuhkan uang secara cepat.
Namun, ketergantungan terhadap pengepul juga membuat perajin memiliki ruang yang terbatas untuk menentukan harga dan mencari pasar alternatif.
Perajin mengerjakan sebagian besar proses produksi, tetapi pemasaran masih sangat bergantung kepada pihak lain.
Sebenarnya, potensi kerajinan pandan Mawangi tidak hanya sebatas tikar.
Para perajin pernah mendapatkan arahan untuk mengembangkan produk lain berbahan pandan, seperti tas, dompet, hingga tempat tisu.
Kemampuan membuat produk tersebut sebenarnya bukan persoalan utama. Para perajin dinilai mampu mengikuti proses pembuatan produk turunan dari pandan.
“Pengrajin kalau disuruh bikin produk lain sebenarnya bisa, tapi menjualnya yang tidak bisa. Pengepul tidak mau menampung selain tikar. Yang mengajari dulu tidak bertanggung jawab untuk akses pasarnya,” kata Siswandi.
Karena tikar sudah memiliki pembeli yang jelas, sebagian perajin akhirnya kembali memproduksi klasa.
Bukan berarti mereka menolak inovasi. Mereka hanya membutuhkan kepastian bahwa produk yang dibuat dapat terjual.
Kondisi tersebut membuat kerajinan pandan Mawangi menghadapi persoalan yang cukup kompleks.
Di satu sisi, keterampilan menganyam masih dikuasai masyarakat. Di sisi lain, sebagian besar perajin yang bertahan sudah berusia lanjut.
Jika generasi muda tidak tertarik mempelajari keterampilan tersebut, tradisi menganyam pandan berpotensi semakin sulit dipertahankan.
Kepala Desa Somawangi Sigro Pranantyo mengatakan pemerintah desa berupaya menjaga keberadaan kerajinan tersebut.
Menurutnya, tikar pandan dan pudak bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas masyarakat Somawangi.
“Kami bersyukur, roda ekonomi ini digerakkan oleh para pengepul lokal, warga kita sendiri, yang benar-benar memahami karakter, kerja keras, dan kebutuhan para pengrajin di lapangan. Sinergi yang erat ini menjadi kunci agar tradisi luhur ini tetap hidup, berdaya saing, dan tidak tergerus zaman,” katanya.
Pemerintah desa juga mendorong generasi muda untuk mulai belajar menganyam.
Langkah tersebut penting agar keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun tidak berhenti pada generasi perajin saat ini.
Upaya meningkatkan kapasitas perajin sebenarnya sudah pernah dilakukan.
Kepala Bidang Perindustrian Disperindagkop UKM Banjarnegara Yusep Handoko mengatakan, pada 2022 para perajin pernah difasilitasi mengikuti magang dan pelatihan selama tiga hari di Tasikmalaya.
Kini, pemerintah daerah kembali membuka peluang pendampingan bagi para perajin yang membutuhkan.
Perajin dapat mengajukan permohonan untuk memperoleh pelatihan lanjutan, termasuk peningkatan kapasitas produksi dan pemasaran.
“Kami sangat menyambut baik jika para perajin kembali mengajukan permohonan pendampingan. Prinsipnya, kami siap kembali membina dan memfasilitasi mereka, khususnya dalam penguatan kapasitas produksi, perluasan jejaring pemasaran, serta pelatihan lanjutan agar para perajin memiliki daya saing dan kemampuan pemasaran digital yang lebih baik,” ujar Yusep.
Pemasaran digital dinilai menjadi salah satu peluang penting untuk membuka pasar baru.
Jika selama ini penjualan masih bergantung kepada pengepul, pemanfaatan marketplace, media sosial, dan jaringan penjualan antardaerah dapat memberikan alternatif bagi perajin.
Pembentukan koperasi atau kelompok usaha bersama juga dapat menjadi pilihan.
Dengan organisasi yang lebih kuat, perajin berpeluang memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam pengadaan bahan baku, produksi, hingga pemasaran.
Bagi perajin seperti Mbah Wariem, yang dibutuhkan sebenarnya bukan sekadar kemampuan menganyam lebih cepat.
Keterampilan tersebut sudah mereka kuasai selama puluhan tahun.
Yang mereka perlukan adalah akses pasar yang lebih luas, pembeli yang lebih banyak, dan harga yang lebih layak.
Selama akses pasar masih terbatas, perajin akan tetap berada dalam posisi yang sulit.
Mereka mengerjakan proses panjang dari daun pandan hingga menjadi tikar, tetapi belum memiliki cukup ruang untuk menentukan nilai ekonomi dari hasil kerja mereka.
Di rumah-rumah Dusun Mawangi, Mbah Wariem dan para perajin lainnya masih terus menganyam. Daun demi daun disusun, kemudian dirapatkan hingga membentuk pola tikar.
Bagi sebagian orang, tikar pandan mungkin hanyalah benda sederhana untuk alas duduk.
Namun bagi para perajinnya, setiap lembar klasa menyimpan waktu, ketekunan, keterampilan, dan harapan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Kini, tantangan kerajinan pandan Mawangi bukan hanya bagaimana mempertahankan tradisi menganyam.
Lebih dari itu, bagaimana membuat anyaman pandan Mawangi memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi, memiliki pasar yang lebih luas, dan mampu menjadi warisan budaya yang sekaligus memberikan penghidupan layak bagi generasi penerusnya. (jud/stch/dda)














