BANYUMASEKSPRES.ID, International Football Association Board (IFAB) mengakui adanya kesalahan dalam penerapan protokol Video Assistant Referee (VAR) pada pertandingan perempat final Piala Dunia 2026 antara Argentina melawan Swiss.
Kesalahan tersebut terjadi saat wasit memberikan kartu kuning kedua kepada penyerang Swiss, Breel Embolo, yang berujung kartu merah dan membuat timnya harus bermain dengan 10 pemain.
Pengakuan IFAB ini sekaligus menjadi jawaban atas kontroversi yang muncul setelah laga dramatis tersebut.
Banyak pengamat, mantan wasit, hingga pendukung Swiss menilai keputusan wasit tidak sesuai dengan regulasi penggunaan VAR yang berlaku dalam sepak bola internasional.
Kontroversi bermula ketika Breel Embolo terlibat duel dengan gelandang Argentina, Leandro Paredes, di area tengah lapangan.
Wasit Joao Pedro Silva Pinheiro awalnya memberikan pelanggaran kepada Paredes.
Namun, setelah menerima rekomendasi dari tim VAR untuk meninjau insiden tersebut melalui monitor di pinggir lapangan, keputusan berubah.
Usai melihat tayangan ulang, wasit justru membatalkan pelanggaran terhadap Paredes dan memberikan kartu kuning kepada Embolo karena dianggap melakukan simulasi.
Karena sebelumnya Embolo telah mengantongi kartu kuning pertama, keputusan tersebut otomatis berubah menjadi kartu merah.
Keputusan itu langsung memicu protes keras dari kubu Swiss.
Mereka menilai VAR telah melampaui kewenangannya karena digunakan untuk mengubah jenis pelanggaran yang berbeda, sesuatu yang tidak diatur dalam protokol resmi.
Melalui surat edaran yang diterbitkan pada 27 Juli 2026, IFAB menjelaskan bahwa VAR hanya boleh digunakan untuk mengoreksi kesalahan identitas pemain yang menerima kartu kuning.
Artinya, teknologi tersebut tidak dapat dipakai untuk mengubah pelanggaran menjadi simulasi atau memberikan hukuman baru kepada pemain.
Dalam penjelasannya, IFAB menegaskan bahwa kartu kuning yang bukan merupakan kartu kuning kedua hanya dapat ditinjau apabila terjadi kesalahan identitas pemain.
Pelanggaran yang menjadi dasar pemberian kartu tidak boleh diubah melalui tinjauan VAR.
Berdasarkan aturan tersebut, keputusan memberikan kartu kuning kedua kepada Breel Embolo karena simulasi dinilai tidak sesuai dengan regulasi.
IFAB menyebut kasus tersebut sebagai bentuk kesalahan interpretasi terhadap protokol VAR, bukan kesalahan pada sistem VAR itu sendiri.
Kasus Breel Embolo kemudian menjadi salah satu evaluasi penting selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Menurut IFAB, aturan mengenai kesalahan identitas pemain sebenarnya telah memberikan manfaat positif dalam berbagai pertandingan.
Namun, penerapannya dalam laga Argentina kontra Swiss dianggap tidak tepat sehingga memunculkan kontroversi besar.
Pelatih Swiss, Murat Yakin, sebelumnya juga menyampaikan kekecewaannya atas keputusan tersebut.
Menurutnya, timnya dirugikan oleh interpretasi aturan yang keliru, terlebih Swiss harus bermain dengan 10 pemain hingga akhirnya kalah melalui gol Julian Alvarez pada babak tambahan waktu.
Yakin menyebut keputusan tersebut sulit dipahami dan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hasil pertandingan.
Bermain dengan jumlah pemain yang lebih sedikit membuat Swiss kehilangan keseimbangan permainan pada fase-fase krusial.
Sepanjang perjalanan Argentina menuju final Piala Dunia 2026, beberapa keputusan wasit memang sempat menjadi sorotan publik.
Berbagai spekulasi bahkan bermunculan di media sosial, termasuk tudingan mengenai kemungkinan adanya keberpihakan terhadap tim Tango.
Pelatih Mesir, Hossam Hassan, termasuk salah satu pihak yang sempat mempertanyakan sejumlah keputusan kontroversial yang menguntungkan Argentina selama turnamen berlangsung.
Namun, IFAB menegaskan bahwa insiden dalam laga melawan Swiss murni disebabkan oleh kesalahan penerapan aturan, bukan karena adanya indikasi pengaturan pertandingan.
Sebagai tindak lanjut, IFAB memastikan akan melakukan evaluasi terhadap implementasi protokol VAR agar seluruh perangkat pertandingan memiliki pemahaman yang sama mengenai batas kewenangan teknologi tersebut.
Evaluasi tersebut diharapkan mampu mencegah terulangnya kesalahan serupa pada kompetisi internasional berikutnya.
Dengan demikian, penggunaan VAR tetap dapat memberikan keadilan dalam pertandingan tanpa menimbulkan kontroversi akibat kesalahan interpretasi regulasi.
Meski IFAB telah mengakui adanya kekeliruan, hasil pertandingan tetap tidak berubah.
Argentina tetap dinyatakan lolos ke final Piala Dunia 2026, sementara Swiss harus mengakhiri perjuangannya di babak perempat final.
Kasus Breel Embolo pun menjadi salah satu insiden VAR paling kontroversial sepanjang gelaran Piala Dunia 2026. (*/stch/dda)














