BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Keluarga Sutrimo, warga Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, memilih menerima kepergian almarhum dengan lapang dada.
Meski kematian Sutrimo belakangan menjadi perhatian publik setelah diketahui bekerja sebagai kepala rumah tangga (karumga) di kediaman mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, pihak keluarga memastikan tidak akan menempuh jalur hukum maupun melaporkan peristiwa tersebut kepada kepolisian.
Keputusan tersebut disampaikan keluarga sebagai bentuk keikhlasan menerima musibah yang menimpa almarhum.
Mereka berharap masyarakat turut mendoakan agar Sutrimo mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Kepala Desa Wlahar, Narsim, membenarkan bahwa Sutrimo merupakan warga asli desanya.
Ia mengaku mengenal almarhum sejak kecil dan menggambarkannya sebagai sosok sederhana, jujur, serta memiliki sifat pendiam.
“Ya benar, almarhum Sutrimo warga asli Desa Wlahar. Dia teman kecil saya karena dulu masih satu wilayah. Setelah dewasa kami sudah jarang berinteraksi karena beda umur sekitar empat tahun,” ujar Narsim.
Menurut Narsim, Sutrimo tidak menyelesaikan pendidikan hingga lulus SMP.
Sejak usia muda, ia telah membantu orang tuanya mencari nafkah dengan berjualan sebelum akhirnya memutuskan merantau ke Jakarta untuk bekerja.
Pemerintah Desa Wlahar menerima kabar meninggalnya Sutrimo pada Kamis (23/7) petang.
Berdasarkan informasi yang diterima dari keluarga dan warga sekitar, almarhum diduga meninggal akibat angin duduk.
“Keterangan dari para warga dan keluarga, meninggalnya karena angin duduk,” katanya.
Narsim mengaku baru mengetahui bahwa Sutrimo bekerja di lingkungan mantan Jampidsus Febrie Adriansyah setelah memperoleh informasi dari perangkat desa.
Ia menegaskan pemerintah desa tidak mengetahui berbagai isu yang kemudian berkembang dan menjadi pemberitaan di sejumlah media.
Salah seorang warga, Khansa, menceritakan bahwa beberapa saat sebelum meninggal dunia, Sutrimo masih sempat melakukan panggilan video dengan keluarganya sambil makan.
Tidak lama kemudian, sekitar satu jam setelah komunikasi tersebut, keluarga menerima kabar duka.
Khansa juga mengungkapkan, sekitar sepekan sebelum meninggal dunia, Sutrimo sempat pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarga.
Setelah beberapa hari berada di Banyumas, ia kembali ke Jakarta karena mendapat panggilan pekerjaan.
Menurut informasi yang diterimanya, penyebab meninggal dunia juga diduga akibat angin duduk.
Sementara itu, anggota keluarga berinisial SU mengatakan selama berada di kampung halaman, Sutrimo tidak pernah mengeluhkan kondisi kesehatannya.
Meski demikian, almarhum diketahui memiliki riwayat penyakit diabetes.
Keluarga memilih menerima kepergian Sutrimo dengan penuh keikhlasan dan memastikan tidak akan membawa perkara tersebut ke ranah hukum.
“Keluarga sudah ikhlas tidak akan lapor ke polisi. Kami hanya mohon doa agar almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT,” ujarnya.
Pantauan di kediaman almarhum di Desa Wlahar menunjukkan suasana yang berlangsung khidmat.
Pada Rabu (29/7), keluarga menggelar doa tujuh harian sebagai bentuk penghormatan sekaligus mendoakan almarhum.
Kegiatan tersebut dihadiri warga sekitar yang bersama-sama mengikuti pembacaan Surah Yasin dan doa bersama.
Kehadiran para tetangga menjadi bentuk dukungan moral bagi keluarga yang tengah berduka.
Pemerintah desa juga berharap masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh berbagai spekulasi yang berkembang serta tetap menghormati privasi keluarga.
Bagi keluarga Sutrimo, yang terpenting saat ini adalah mendoakan almarhum dan melanjutkan kehidupan dengan penuh keikhlasan.
Rangkaian doa yang digelar menjadi penutup penghormatan keluarga kepada Sutrimo, sekaligus menunjukkan bahwa di tengah sorotan publik, keluarga memilih mengedepankan ketenangan, kebersamaan, dan penerimaan atas musibah yang terjadi. (zet/stch/dda)
















