Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Pembangunan RKB MAN 2 Banyumas Capai 35 Persen, Target Selesai Awal Oktober 2026
Petani Kutowinangun Kebumen Percepat Tanam Kacang Hijau Sebelum Panen Padi

Petani Kutowinangun Kebumen Percepat Tanam Kacang Hijau Sebelum Panen Padi

Petani Mulai Tanam Kacang HijauPetani Mulai Tanam Kacang Hijau
MENANAM: Petani mulai menanam kacang hijau di sela-sela sawah yang mengering di Kutowinangun sebagai strategi menjaga produktivitas lahan selama musim kemarau

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Musim kemarau yang mulai melanda wilayah Kecamatan Kutowinangun mendorong petani mengubah strategi bercocok tanam agar lahan pertanian tetap produktif.

Salah satu langkah yang banyak dilakukan adalah mempercepat penanaman tanaman palawija, khususnya kacang hijau, bahkan sebelum proses panen padi selesai dilakukan.

Perubahan pola tanam ini menjadi solusi untuk memanfaatkan kondisi sawah yang mulai mengering akibat minimnya curah hujan.

Tanah yang retak-retak justru dianggap lebih ideal untuk menanam kacang hijau sehingga petani tidak perlu menunggu seluruh tanaman padi dipanen terlebih dahulu.

Salah seorang petani di Kecamatan Kutowinangun, Lukman Hakim, mengaku telah memulai penanaman kacang hijau ketika sebagian tanaman padinya masih berada di lahan.

Benih yang telah direndam sebelumnya ditebarkan dan dimasukkan ke sela-sela tanah sawah yang mulai mengering.

Menurut Lukman, hingga Selasa (28/7/2026), tanaman kacang hijau yang ia tanam telah berusia dua hari dan menunjukkan perkembangan yang baik.

“Sudah mulai tanam kacang hijau sejak belum panen karena tanah telah kering. Saat ini sudah usia dua hari,” ujar Lukman Hakim saat ditemui di sawahnya.

Ia menjelaskan bahwa metode tanam tersebut dinilai jauh lebih efektif diterapkan pada musim kemarau.

Retakan tanah yang muncul akibat berkurangnya kandungan air justru memudahkan benih masuk ke dalam tanah sehingga proses penanaman menjadi lebih praktis dan efisien.

“Metode tanam dimasukkan di sela-sela tanah yang mengering lebih efektif,” jelasnya.

Selain memanfaatkan kondisi tanah yang kering, petani juga menerapkan cara sederhana untuk menjaga kesuburan lahan.

Setelah proses panen padi selesai, jerami tidak langsung dibuang.

Jerami tersebut akan disebarkan secara merata di atas lahan, kemudian dibakar untuk menghasilkan abu yang dimanfaatkan sebagai pupuk alami bagi tanaman kacang hijau yang telah lebih dahulu tumbuh.

Cara tersebut sudah lama diterapkan petani karena dinilai mampu membantu memperbaiki unsur hara tanah sekaligus mengurangi biaya produksi.

Dengan memanfaatkan sisa hasil panen sebagai pupuk alami, petani berharap pertumbuhan kacang hijau tetap optimal meskipun memasuki musim kemarau.

Lukman berharap tanaman kacang hijau yang mulai ditanam pada akhir Juli ini dapat dipanen pada Oktober mendatang dengan hasil yang memuaskan.

Menurutnya, percepatan pola tanam menjadi salah satu strategi penting agar lahan pertanian tidak menganggur selama musim kering.

Ia juga mengungkapkan bahwa hasil panen padi pada musim tanam tahun ini secara umum masih cukup baik.

Meskipun di beberapa lokasi sempat terjadi serangan hama wereng, produktivitas padi masih tergolong memuaskan sehingga petani tetap dapat melanjutkan siklus tanam berikutnya.

“Hasil panen padi tahun ini cukup baik, meskipun beberapa tempat ada yang mengalami hama wereng,” katanya.

Menurut Lukman, kemampuan petani menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian.

Saat pasokan air mulai berkurang, tanaman palawija seperti kacang hijau menjadi pilihan yang lebih sesuai karena membutuhkan air lebih sedikit dibandingkan padi.

Strategi tersebut juga membantu petani tetap memperoleh pendapatan pada musim kemarau.

Dengan tidak membiarkan lahan kosong setelah panen padi, produktivitas sawah tetap terjaga sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan pertanian.

Percepatan tanam kacang hijau yang dilakukan petani di Kutowinangun menunjukkan bagaimana adaptasi terhadap perubahan musim dapat menjadi solusi untuk mempertahankan hasil pertanian.

Melalui pola tanam yang tepat dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia, petani berharap tetap mampu menghasilkan panen yang optimal meskipun menghadapi tantangan musim kemarau yang lebih panjang.

Harapannya, strategi tanam lebih awal ini dapat terus memberikan hasil positif, menjaga produktivitas lahan pertanian, serta mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Kecamatan Kutowinangun selama musim kemarau 2026. (mam/stch/dda)

Berita Sebelumnya
RKB MAN 2 Banyumas Dikebut

Pembangunan RKB MAN 2 Banyumas Capai 35 Persen, Target Selesai Awal Oktober 2026