BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Pemerintah terus memperkuat infrastruktur sumber daya air untuk mengurangi risiko banjir sekaligus menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian.
Salah satu langkah yang kini dilakukan adalah pembangunan dua embung di Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, yang diharapkan mampu menjadi solusi bagi persoalan banjir saat musim hujan dan kekurangan air pada musim kemarau.
Dua embung tersebut dibangun oleh pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS SO) dengan total nilai investasi sekitar Rp35 miliar.
Proyek ini diproyeksikan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, khususnya warga Desa Kedawung dan Desa Sikampuh yang selama ini kerap terdampak genangan ketika curah hujan tinggi.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Sigit Widayanto, menjelaskan bahwa embung memiliki fungsi utama sebagai tempat penampungan air hujan.
Air yang tertampung nantinya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan irigasi pertanian ketika memasuki musim kemarau sehingga petani tetap memiliki pasokan air untuk mengairi lahan sawah.
“Embung dibangun untuk memenuhi kebutuhan air, terutama bagi pertanian. Selain itu juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat wisata, tetapi fungsi utamanya adalah sebagai cadangan air,” ujar Sigit, Selasa (28/7).
Menurutnya, keberadaan embung akan membantu mengurangi volume limpasan air hujan yang selama ini menyebabkan banjir di sejumlah wilayah Kecamatan Kroya.
Dengan adanya tampungan air yang memadai, aliran air hujan dapat dikendalikan sehingga risiko genangan maupun banjir di kawasan permukiman dan lahan pertanian diharapkan semakin berkurang.
Pembangunan embung dilakukan di dua lokasi berbeda. Embung pertama berada di Desa Kedawung dengan nilai pembangunan sekitar Rp20 miliar.
Sementara embung kedua dibangun di Desa Sikampuh dengan anggaran sekitar Rp15 miliar.
Kedua proyek tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan ketahanan air sekaligus mendukung produktivitas sektor pertanian di Kabupaten Cilacap.
Selain berfungsi sebagai pengendali banjir dan penyedia cadangan air, kawasan embung juga dirancang memiliki manfaat tambahan bagi masyarakat.
Pemerintah berharap kawasan di sekitar embung dapat dikembangkan menjadi ruang publik yang nyaman sekaligus destinasi wisata berbasis alam.
Pengembangan kawasan embung diperkirakan mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Kehadiran wisatawan berpotensi mendorong tumbuhnya usaha kecil, seperti warung makan, kios produk lokal, hingga berbagai layanan pendukung lainnya yang dapat meningkatkan pendapatan warga.
Sigit menilai manfaat pembangunan embung tidak hanya dirasakan oleh sektor pertanian, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Karena itu, proyek ini diharapkan mampu menciptakan efek berganda atau multiplier effect bagi masyarakat di sekitar lokasi pembangunan.
Ia optimistis keberadaan dua embung tersebut dapat membantu meningkatkan hasil produksi pertanian.
Pasokan air yang lebih terjamin selama musim kemarau memungkinkan petani tetap melakukan budidaya secara optimal tanpa terlalu bergantung pada curah hujan.
“Selain pengendalian banjir, kedua embung tersebut diharapkan menimbulkan multi efek bagi masyarakat sekitar,” katanya.
Dengan tersedianya cadangan air yang lebih stabil, petani juga memiliki peluang meningkatkan intensitas tanam dan menjaga produktivitas lahan sepanjang tahun.
Kondisi tersebut diharapkan mampu mendukung ketahanan pangan daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
Pembangunan embung di Kecamatan Kroya menjadi salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat infrastruktur pengelolaan sumber daya air.
Selain mengurangi risiko banjir yang selama ini menjadi persoalan tahunan, proyek ini juga diharapkan mampu menjadi penopang utama kebutuhan air pertanian, menciptakan ruang publik baru, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kabupaten Cilacap secara berkelanjutan. (jul/stch/dda)
















