Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kisah Haru Siswa Sekolah Rakyat Banyumas, Bangkit dari Bullying dan Keterbatasan Ekonomi

Harapan Baru Anak Korban PerundunganHarapan Baru Anak Korban Perundungan
MPLS RAMAH: Siswa baru Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Banyumas jenjang SMP (baju abu-abu) berinteraksi dengan kakak kelasnya, saat pembukaan MPLS, Rabu (29/7/2026)

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Sebanyak 299 siswa mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi I Banyumas pada tahun ajaran 2026.

Program pendidikan berasrama gratis tersebut menjadi harapan baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, termasuk mereka yang pernah mengalami perundungan (bullying) hingga putus sekolah.

Hari pertama MPLS bukan sekadar menjadi awal kegiatan belajar mengajar, tetapi juga menjadi langkah baru bagi para siswa untuk membangun kembali rasa percaya diri, semangat belajar, dan cita-cita yang sempat terhambat karena berbagai persoalan ekonomi maupun sosial.

Salah satu kisah yang menyentuh datang dari cucu Wartiah (52), warga Kabupaten Banyumas.

Bocah berusia 11 tahun itu sempat berhenti sekolah ketika masih duduk di bangku kelas III SD akibat menjadi korban bullying. Pengalaman tersebut membuatnya mengalami trauma dan menolak kembali bersekolah.

“Anaknya pendiam jadi di-bully, terus kaya trauma. Putus sekolah kelas 3 SD,” ujar Wartiah.

Selama berbulan-bulan, sang nenek terus membujuk cucunya agar kembali melanjutkan pendidikan.

Kesempatan itu akhirnya datang setelah memperoleh informasi mengenai program Sekolah Rakyat yang diselenggarakan pemerintah.

Menurut Wartiah, keberadaan Sekolah Rakyat memberikan harapan baru bagi masa depan cucunya.

Meskipun harus tinggal di asrama, ia merasa tenang karena seluruh kebutuhan pendidikan, tempat tinggal, makan, hingga pembinaan karakter telah disiapkan pemerintah.

“Siapa tahu di sini ada masa depan,” katanya.

Ia mengaku sempat merasa sedih harus berpisah dengan cucunya yang merupakan seorang yatim.

Namun, ia percaya lingkungan sekolah yang lebih baik akan membantu proses pemulihan trauma sekaligus membangun kepercayaan diri anak tersebut.

Cerita serupa dialami Ade Kirana, siswa baru kelas VIII asal Desa Wlahar, Kecamatan Wangon.

Ia mengaku senang diterima di Sekolah Rakyat karena dapat melanjutkan pendidikan di sekolah berasrama yang sebelumnya sulit dijangkau keluarganya.

“Senang, kagum juga karena gedungnya,” ungkap Ade.

Meski demikian, pengalaman menjadi korban bullying saat masih duduk di kelas V SD membuatnya masih menyimpan rasa khawatir ketika harus tinggal bersama teman-teman baru di asrama.

“Aku sih enggak deg-degan, tapi takut dibully di asrama. Dulu waktu kelas lima pernah dibully, jadi takut kalau di sini mengalami hal yang sama lagi,” katanya.

Kepala Sentra Satria Baturraden, Darmanto, menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat Terintegrasi I Banyumas merupakan program afirmasi pemerintah yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kategori desil satu dan dua.

Menurutnya, sekolah tersebut tidak hanya memberikan layanan pendidikan gratis, tetapi juga menyediakan sistem pengasuhan yang bertujuan membentuk karakter, kedisiplinan, dan kemandirian para siswa.

“Sekolah rakyat merupakan afirmasi dari pemerintah untuk desil satu dan dua. Yang siap Banyumas dan Semarang untuk sekolah terintegrasi,” jelas Darmanto.

Ia menegaskan bahwa konsep Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah pada umumnya karena menggabungkan pendidikan akademik dengan pembinaan karakter melalui sistem asrama.

“Bukan sekadar pendidikan, ada pengasuhan,” tegasnya.

Pada tahun ajaran 2026, sebanyak 299 siswa mengikuti MPLS dan langsung tinggal di asrama sejak hari pertama.

Selain menerima siswa asal Banyumas, sekolah ini juga menampung 42 siswa titipan dari Kabupaten Kebumen yang terdiri atas 30 siswa jenjang SMP dan 12 siswa SD.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi I Banyumas, Siti Isbandiyah, menjelaskan bahwa dari total peserta tersebut, sebanyak 257 siswa berasal dari Banyumas.

Mereka terdiri atas 140 siswa SMP, 90 siswa SMA, 27 siswa SD, serta 50 siswa SMP angkatan sebelumnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial PPPA Banyumas, Wahyudi Joko Siswoyo, mengatakan seluruh peserta dijemput hingga tingkat desa dan kecamatan sebelum memasuki lingkungan sekolah.

“MPLS langsung untuk semua jenjang dan langsung masuk asrama,” ujarnya.

Bagi Amar Guna Astama, siswa baru jenjang SMA asal Banyumas, diterima di Sekolah Rakyat menjadi impian yang akhirnya terwujud.

Ia mengaku selama ini sulit mengakses sekolah berasrama karena keterbatasan ekonomi keluarganya.

“Yang ada asrama biayanya tinggi,” katanya.

Saat memasuki asrama, Amar hanya membawa pakaian secukupnya dan Al-Qur’an sebagai bekal menjalani kehidupan barunya di sekolah.

“Hari pertama masuk SMA alhamdulillah langsung di asrama,” ucapnya.

Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono berharap keberadaan Sekolah Rakyat mampu mencetak generasi yang dapat mengubah masa depan keluarga mereka melalui pendidikan.

Menurutnya, sekolah tersebut bukan hanya menyediakan fasilitas belajar gratis, tetapi juga membuka kesempatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk memperoleh pendidikan berkualitas dan pembinaan karakter.

“Kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 ini bukan sekadar menambah pilihan layanan pendidikan di Kabupaten Banyumas, tetapi juga membuka harapan baru bagi anak-anak kita untuk meraih masa depan yang lebih baik,” kata Sadewo.

Ia juga mengingatkan seluruh siswa agar memanfaatkan kesempatan tersebut dengan disiplin, tekun belajar, dan terus mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga cita-cita mereka dapat terwujud di masa mendatang. (res/yda/stch/dda)

Berita Sebelumnya
21 Penggarap Hutan Sepakat Hentikan Aktivitas

21 Warga Wanayasa Banjarnegara Sepakat Hentikan Penggarapan Hutan Perhutani

Berita Selanjutnya
16 Desa di Purbalingga Krisis Air Bersih

16 Desa di Purbalingga Krisis Air Bersih, BPBD Intensif Salurkan Bantuan Selama Musim Kemarau