BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Musim kemarau mulai memberikan dampak terhadap sektor pertanian di Kabupaten Banyumas.
Petani di Desa Nusadadi, Kecamatan Sumpiuh, mengalami penurunan hasil panen padi sekitar 10 hingga 20 persen akibat kombinasi kekeringan dan penggunaan bibit padi yang telah berusia terlalu tua saat dipindahkan ke lahan.
Meski produktivitas mengalami penurunan, hasil panen pada musim tanam kali ini masih tergolong cukup baik.
Berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Sumpiuh, produktivitas padi di lahan Kelompok Tani Sri Handayani masih mencapai 5,6 ton per hektare.
Ketua Kelompok Tani Sri Handayani, Suryanto, mengatakan bahwa turunnya hasil panen tidak hanya dipengaruhi oleh minimnya pasokan air selama musim kemarau.
Menurutnya, usia bibit yang sudah terlalu tua saat ditanam juga menjadi faktor penting yang menyebabkan produktivitas sawah menurun.
“Produktivitas panen antara 80 sampai 90 persen, turun tapi masih cukup bagus,” kata Suryanto, Selasa (28/7).
Ia menjelaskan, bibit padi yang terlalu lama berada di persemaian akan menghasilkan jumlah anakan produktif yang lebih sedikit setelah dipindahkan ke sawah.
Kondisi tersebut secara langsung memengaruhi jumlah malai yang dihasilkan dan akhirnya berdampak pada hasil panen.
Menurut Suryanto, persoalan usia bibit bukanlah masalah baru yang dihadapi petani.
Selama ini, bibit sering kali telah siap tanam, namun kondisi lahan belum memungkinkan untuk segera diolah maupun ditanami.
Akibatnya, petani terpaksa menunda proses tanam hingga bibit menjadi lebih tua dari usia ideal.
“Sudah sering dibahas dengan berbagai pihak supaya bagaimana caranya agar lahan yang menunggu bibit, bukan bibit yang menunggu lahan,” ujarnya.
Untuk mengetahui tingkat produktivitas panen secara akurat, Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Sumpiuh melakukan ubinan di lahan milik Kelompok Tani Sri Handayani.
Hasil pengukuran menunjukkan produktivitas mencapai 5,6 ton gabah per hektare, meskipun berada di bawah potensi maksimal akibat pengaruh cuaca dan kondisi bibit.
Koordinator BPP Kecamatan Sumpiuh, Fitriana, membenarkan bahwa dua faktor utama yang menyebabkan penurunan hasil panen adalah kekeringan dan penggunaan bibit yang sudah terlalu tua saat dipindahkan ke lahan.
“Tanaman padi terdampak kekeringan dan usia bibit saat ditanam sudah tua,” jelas Fitriana.
Di tengah penurunan produktivitas tersebut, petani masih memperoleh kabar positif karena serangan hama pada musim tanam kali ini relatif terkendali.
Serangan tikus yang biasanya menjadi ancaman utama tidak terjadi secara signifikan.
Selain itu, serangan wereng batang coklat yang sempat muncul juga berhasil dikendalikan sehingga tanaman mampu pulih dan tetap memasuki masa panen.
Keberhasilan pengendalian hama tersebut membantu mengurangi potensi kerugian yang lebih besar.
Petani berharap kondisi cuaca pada musim tanam berikutnya lebih mendukung sehingga produktivitas dapat kembali meningkat sesuai potensi lahan.
Para petani juga berharap adanya solusi jangka panjang terkait pengelolaan waktu tanam agar bibit tidak lagi menunggu kesiapan lahan.
Dengan sinkronisasi antara proses persemaian dan pengolahan lahan, usia bibit dapat tetap ideal sehingga jumlah anakan produktif meningkat dan hasil panen menjadi lebih optimal.
Musim kemarau menjadi tantangan tersendiri bagi sektor pertanian di Banyumas.
Karena itu, pendampingan dari penyuluh pertanian, pengelolaan irigasi yang lebih baik, serta penerapan teknik budidaya yang tepat diharapkan mampu menjaga produktivitas sawah meski menghadapi kondisi cuaca yang semakin tidak menentu. (fij/stch/dda)














