BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Kabut pagi masih menggantung di sekitar Alun-alun Pancasila, namun aroma sedap dari sudut Pusat Kuliner Kapal Mendoan telah lebih dulu menyapa indera.
Inilah Bubur Bakar Pak Pri, sebuah inovasi kuliner khas Kebumen yang tengah jadi perbincangan hangat para pencinta sarapan unik.
Dibakar dalam kuali tanah liat dan disajikan langsung di atas tungku, bubur ini tak hanya mengenyangkan perut, tapi juga memberi pengalaman menyantap yang berbeda dari biasanya.
Langkah kaki pejalan yang melintasi kawasan kuliner ini kerap terhenti. Asap tipis bercampur bau rempah yang keluar dari tutup kuali seolah mengundang siapa pun untuk mendekat.
Begitu penutup tanah liat dibuka, aroma kuah opor atau seblak yang menguar hangat seketika membangkitkan selera.
Sosok di balik gagasan ini adalah Supriyadi, yang akrab disapa Pak Pri. Ia memulai usahanya dengan satu ide sederhana: menjadikan menu sarapan sehari-hari menjadi lebih istimewa.
“Kebetulan saya mendapat tempat berjualan khusus pagi di Kawasan Kuliner Mendoan Kebumen. Kemudian saya mengidentifikasi menu pagi yang diminati masyarakat itu apa. Bubur ayam cukup populer, tapi di sekitar Alun-alun Pancasila masih disajikan secara biasa. Dari situ saya berpikir bagaimana membuat bubur ayam yang lebih unik,” ujar Supriyadi.
Dari pemikiran itu, lahirlah Bubur Bakar Pak Pri. Proses pembuatannya tak main-main. Bubur yang telah dicampur kuah gurih, rempah, ayam, dan telur ceplok, dimasukkan ke dalam kuali kecil dari tanah liat lalu dipanaskan langsung di atas api.
Tutup kuali turut dipanaskan, menciptakan efek ‘oven’ alami yang mempertahankan rasa dan kehangatan bubur dalam suhu ideal.
Sensasi ini yang membuat pengunjung kembali lagi. Fitri, warga Petanahan, mengaku sengaja datang hanya untuk mencicipinya.
“Yang membuat menarik justru saat penutup kuali dibuka. Aroma rempah dan daun pisang itu keluar semua. Gurihnya langsung terasa bahkan sebelum dicicip,” katanya dengan mata berbinar.
Tidak seperti bubur ayam pada umumnya, Bubur Bakar Pak Pri menyajikan dua varian kuah: opor yang lembut dan gurih, serta seblak yang pedas menyengat.
Kedua varian ini disesuaikan dengan preferensi pelanggan. Bagi penikmat rasa kuat dan pedas, kuah seblak menjadi pilihan favorit.
“Kalau saya lebih suka kuah seblak, rasanya lebih ‘nendang’ apalagi disantap pagi-pagi. Langsung bikin melek!” ujar Agus, pegawai swasta yang rutin mampir sebelum ke kantor.
Soal kebersihan, Supriyadi cukup tegas. Ia memilih metode memasak ayam langsung dalam kuah, tanpa proses menyuwir pakai tangan seperti biasanya.
“Menurut saya kalau disuwir pakai tangan dan kuku itu kurang higienis. Di sini ayamnya sudah tercampur dalam kuah, jadi tinggal disendok. Ini juga mempercepat pelayanan,” jelasnya.
Harga yang ditawarkan pun ramah di kantong. Untuk bubur lengkap dengan telur cukup Rp15.000, sementara versi tanpa telur hanya Rp12.500.
Cita rasa dan penyajian yang unik dan berbeda dari bubur lainnya menjadikan harga ini sangat masuk akal.
Warung ini mulai buka dari pukul 06.00 hingga 11.00 pagi, dan meski baru beroperasi sekitar tiga minggu, jumlah pelanggan terus meningkat.
Tidak hanya warga lokal, pengunjung dari luar kota pun mulai berdatangan karena penasaran dengan keunikan sajian ini.
“Alhamdulillah, selama tiga minggu berjualan, sudah banyak yang penasaran dan datang mencoba. Harapannya sajian kami bisa diterima masyarakat luas dan turut memperkaya ragam kuliner pagi di Kebumen,” kata Supriyadi dengan penuh syukur.
Lokasinya yang strategis di pusat kota, tepat di Alun-alun Pancasila, menjadikan Bubur Bakar Pak Pri sangat mudah dijangkau.
Di tengah hiruk pikuk aktivitas pagi dan udara sejuk yang menyelimuti, bubur dengan aroma kuat rempah yang tersaji hangat dalam kuali tanah liat memberikan kenikmatan tersendiri.
Bukan sekadar makanan, Bubur Bakar Pak Pri adalah simbol dari inovasi lokal yang menjadikan kuliner tradisional tampil dengan cara baru.
Dalam tiap sendokannya, ada rasa, pengalaman, dan cerita yang sulit dilupakan. Kini, bagi siapa pun yang mencari sarapan unik dan berkualitas di Kebumen, Bubur Bakar Pak Pri layak menjadi tujuan utama. (*)
















