Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Limbah Kotoran Sapi Disulap Jadi Pupuk Organik Bernilai Jutaan oleh Petani Cilacap

Petani Bulaksari Sulap Kotoran Sapi Jadi PupukPetani Bulaksari Sulap Kotoran Sapi Jadi Pupuk
TUNJUKKAN : Salah satu anggota kelompok Tani Sido Makmur Bulaksari tunjukkan pupuk organik hasil olahan dari bahan kotoran sapi

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Limbah kotoran sapi yang selama ini dianggap sebagai limbah yang tidak berguna kini mendapatkan perhatian khusus dari para petani di Desa Bulaksari, Kecamatan Bantarsari.

Melalui upaya inovatif yang dilakukan oleh Kelompok Tani Sido Makmur, limbah ternak tersebut berhasil diolah menjadi pupuk organik yang bernilai ekonomi dan bermanfaat bagi pertanian.

Program Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) yang diperkenalkan pada tahun 2024 telah memberikan dorongan signifikan dalam pengembangan pupuk organik ini.

Dalam program tersebut, kelompok tani menerima bantuan berupa delapan ekor sapi, mesin pengolah pupuk, serta bangunan rumah kompos, yang semua itu berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas.

Ketua Kelompok Tani Sido Makmur, Samingan, menjelaskan bahwa pembuatan pupuk organik sebenarnya bukanlah hal baru bagi mereka.

“Dulu kami sudah membuat pupuk sendiri dari kotoran ternak. Setelah ada bantuan sapi dan mesin, produksinya jadi lebih banyak dan lebih cepat,” ungkapnya dalam wawancara pada Selasa (19/5).

Proses produksi pupuk organik ini dimulai dengan fermentasi kotoran sapi yang dilakukan dengan cara yang benar sebelum dilanjutkan ke tahap pengomposan.

Setelah melalui proses tersebut, pupuk dikeringkan hingga siap untuk dipasarkan kepada konsumen.

Cuaca menjadi salah satu faktor penting dalam proses produksi pupuk organik ini, terutama pada tahap pengeringan yang sangat membutuhkan panas matahari.

Samingan mengungkapkan bahwa saat musim hujan, biasanya jumlah produksi pupuk mengalami penurunan yang signifikan.

“Kalau cuaca bagus, produksi bisa sampai sekitar satu ton dalam sebulan,” lanjutnya dengan optimisme.

Saat ini, hasil pupuk organik yang diproduksi oleh Kelompok Tani Sido Makmur telah dipasarkan di berbagai wilayah Kabupaten Cilacap.

Pembeli produk ini sangat beragam, mulai dari petani lokal hingga pedagang tanaman hias.

“Harga jual pupuk berkisar Rp 7 ribu sampai Rp 10 ribu per kantong, tergantung jumlah pesanan dan lokasi pengiriman,” jelas Samingan mengenai aspek ekonomi dari usaha mereka.

Dengan harga yang terjangkau dan kualitas yang baik, pupuk organik ini telah mendapat tempat di hati para petani dan pedagang.

Samingan menekankan pentingnya penggunaan pupuk organik dalam praktik pertanian berkelanjutan, agar kondisi tanah tetap terjaga dan subur.

Ia berharap agar para petani lainnya dapat mulai mengurangi ketergantungan mereka terhadap pupuk kimia secara berlebihan dengan memadukan penggunaan pupuk organik dan pupuk kimia secara seimbang.

“Paling tidak penggunaannya bisa seimbang antara pupuk kimia dan pupuk organik,” pungkasnya dengan penuh harapan.

Keberhasilan Kelompok Tani Sido Makmur dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi menjadi contoh nyata bagaimana inovasi dan bantuan pemerintah dapat bekerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Penggunaan teknologi sederhana namun efektif dalam proses pengolahan ini menunjukkan bahwa para petani memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan hidup serta mendukung ketahanan pangan nasional.

Inisiatif ini juga membawa dampak positif dalam hal kesadaran akan pentingnya pertanian ramah lingkungan di kalangan masyarakat luas.

Dengan semakin banyaknya petani yang beralih ke penggunaan pupuk organik, diharapkan akan terjadi penurunan penggunaan bahan kimia berbahaya dalam sektor pertanian. (jul/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Diisukan Dekat dengan Reza Arap

Nama Caitlin Halderman Viral Setelah Disebut Reza Arap Saat Live Streaming

Berita Selanjutnya
Harga Telur Turun ke Rp 23 Ribu

Harga Telur Ayam Ras di Banjarnegara Turun Jadi 23 Ribu per Kg, Peternak Mulai Kelimpungan