BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Sejak beberapa waktu terakhir, harga telur ayam ras di tingkat peternak di Kabupaten Banjarnegara mengalami penurunan yang signifikan.
Sebelumnya, harga telur tersebut sempat menyentuh angka Rp 28 ribu per kilogram (kg), namun kini bertahan di level Rp 23 ribu per kg.
Penurunan ini memberikan dampak yang cukup besar bagi para peternak, yang terpaksa harus memutar strategi agar usaha mereka tetap dapat berjalan dengan baik.
Salah satu peternak telur yang beroperasi di Desa Gumiwang, Kecamatan Purwanegara, yaitu Guntur, menjelaskan bahwa meskipun harga Rp 23 ribu per kg masih memberikan keuntungan bagi peternak yang telah lama berkecimpung dalam bisnis ini, situasi ini cukup berat bagi peternak baru.
Para peternak baru ini sebelumnya terbiasa menikmati harga yang lebih tinggi.
Guntur mengungkapkan, “Turunnya harga telur saat ini dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah peningkatan populasi ayam petelur sejak 2025 lalu.”
Kenaikan populasi ayam petelur ini terjadi ketika sejumlah peternak optimis dengan adanya peningkatan permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Harapan tersebut muncul karena banyak peternak menambah populasi ayam mereka dengan keyakinan bahwa akan ada serapan besar dari dapur MBG.
Namun, realitasnya adalah menu MBG tidak selalu terdiri dari telur.
“Harapannya kemarin ada serapan besar dari dapur MBG, sehingga banyak peternak menambah populasi. Tapi kenyataannya menu MBG tidak selalu telur,” jelasnya.
Di sisi lain, permintaan pasar untuk telur ayam ras cenderung stabil, bahkan mengalami penurunan, sementara produksi telur justru mengalami peningkatan.
Hal ini menyebabkan harga di tingkat peternak ikut terkoreksi dan tertekan.
Guntur menyebutkan bahwa harga telur memiliki pola siklus yang terus berulang dalam beberapa tahun terakhir, “Kalau menurut saya ini lagi di fase murah tapi lama. Biasanya murah sebentar lalu naik lagi, tapi sekarang stabil di Rp 23 ribu dan sudah berlangsung satu bulanan,” ujarnya.
Melihat situasi yang terjadi saat ini, Guntur mengaku bahwa para peternak harus lebih berhati-hati dalam menjalankan usaha mereka.
Fokus utama saat ini adalah bagaimana menekan biaya produksi agar tetap dapat memperoleh keuntungan meskipun harga jual rendah.
“Saya pribadi sekarang lebih fokus ke persiapan di kandang sendiri. Bagaimana caranya menekan cost produksi supaya di harga Rp 23 ribu tetap ada keuntungan,” ungkapnya sambil menjelaskan beberapa langkah yang ia ambil untuk mencapai tujuan tersebut.
Salah satu upaya yang dilakukan oleh Guntur adalah dengan membuat campuran pakan sendiri untuk mengurangi biaya pengeluaran.
Dengan demikian, dia berharap dapat menciptakan efisiensi biaya lain yang dapat mendukung keberlangsungan usahanya.
Hal ini menunjukkan bahwa para peternak harus lebih inovatif dan kreatif dalam menghadapi tantangan yang ada.
Selain itu, Guntur juga berharap agar pemerintah dapat lebih cepat merespons kondisi yang dialami oleh para peternak, terutama bagi mereka yang baru saja menambah populasi ayam dalam jumlah besar.
Dukungan pemerintah sangat penting dalam membantu para peternak agar dapat bertahan dan beradaptasi dengan perubahan pasar yang terjadi.
Fenomena penurunan harga telur ayam ras ini menggambarkan dinamika pasar yang kompleks dan saling berkaitan dengan berbagai faktor lain, seperti kebijakan pemerintah dan tren konsumsi masyarakat.
Dalam hal ini, perlu adanya sinergi antara pemerintah dan pelaku industri untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi para peternak.
Dalam konteks yang lebih luas, penurunan harga telur juga berdampak pada perekonomian lokal di Kabupaten Banjarnegara.
Banyak keluarga bergantung pada pendapatan dari usaha ternak ayam petelur sebagai sumber penghasilan utama mereka.
Ketika harga telur turun, otomatis pendapatan para peternak menurun dan berpotensi mempengaruhi kesejahteraan mereka serta daya beli masyarakat sekitar.
Masyarakat umum juga perlu memahami tantangan yang dihadapi oleh para peternak ayam ras.
Mereka tidak hanya berjuang melawan fluktuasi harga tetapi juga harus menghadapi berbagai risiko terkait kesehatan hewan dan perubahan iklim yang dapat memengaruhi produktivitas ternak mereka. (far/stch/dda)
















