BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini mulai dirasakan hingga ke pelosok desa.
Kenaikan harga barang konsumsi dan biaya produksi pertanian menjadi masalah yang semakin mendesak bagi masyarakat desa, terutama bagi para petani kecil yang sangat bergantung pada input yang berbasis impor.
Menurut Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Henry Saragih, dampak pelemahan rupiah ini bukan hanya masalah di tingkat makro ekonomi, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan.
“Secara harfiah, masyarakat desa memang bertransaksi menggunakan rupiah, bukan dolar. Namun saat rupiah melemah, dampak penguatan dolar justru semakin terasa dan membebani mereka,” ungkap Henry dalam pernyataannya pada Senin, 18 Mei 2026.
Dia menekankan bahwa anggapan bahwa masyarakat desa tidak terdampak dari pelemahan rupiah adalah kurang tepat.
Justru sebaliknya, masyarakat pedesaan, khususnya petani kecil, adalah kelompok yang paling rentan terhadap guncangan ekonomi.
Pelemahan rupiah membawa dampak signifikan terutama dari sisi biaya produksi pertanian.
Meskipun petani melakukan transaksi menggunakan mata uang lokal, sebagian besar komponen utama dalam sektor pertanian di Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor.
“Melemahnya rupiah secara langsung mengerek kenaikan harga pupuk non-subsidi, bahan aktif pestisida atau obat-obatan, hingga suku cadang mesin pertanian seperti traktor dan mesin giling,” jelasnya.
Dalam konteks ini, Henry merinci bahwa harga pupuk urea non-subsidi saat ini telah melonjak menjadi Rp 580 ribu per sak (50 kg), naik dari sebelumnya Rp 380 ribu per sak.
Ini mencerminkan kenaikan lebih dari 50 persen dalam waktu singkat. Lebih mencengangkan lagi, pupuk merek NPK Mutiara kini dibanderol sekitar Rp 800 ribu per sak, meningkat dari Rp 600 ribu sebelumnya.
Selain itu, harga obat-obatan pertanian seperti insektisida, fungisida, dan herbisida telah meningkat rata-rata sebesar 30 persen.
Kenaikan harga tidak berhenti di situ. Suku cadang alat pertanian seperti combine harvester dan traktor tercatat mengalami lonjakan hingga 40 persen.
Hal ini tentu saja memberikan tekanan tambahan bagi petani yang sudah menghadapi tantangan dalam memproduksi hasil pertanian yang berkualitas.
Namun yang menjadi masalah lebih besar adalah ketika biaya produksi terus merangkak naik di kios-kios pertanian dalam beberapa waktu terakhir, harga jual komoditas seperti padi atau palawija kerap jatuh saat panen raya atau tertekan oleh panjangnya rantai distribusi.
Dalam kondisi tersebut, banyak petani mulai mencari cara alternatif untuk bertahan hidup.
Sebagian dari mereka beralih ke praktik agroekologi sebagai solusi jangka panjang dengan cara membuat pupuk organik mandiri dan memanfaatkan benih lokal untuk mengurangi ketergantungan pada input kimia yang diimpor.
Tetapi untuk perubahan yang lebih luas dan berkelanjutan di sektor pertanian nasional, menurut Henry, pemerintah perlu segera turun tangan.
Tindakan ini bisa berupa pemberian insentif maupun upaya stabilisasi harga komponen pertanian agar kedaulatan pangan Indonesia tetap terjaga.
“Di lapangan, petani saat ini menghadapi situasi yang berat,” tambahnya.
Dia menjelaskan bahwa satu sisi mereka harus berhadapan dengan faktor alam seperti anomali cuaca akibat dampak El Nino yang mengganggu pola tanam mereka.
Di sisi lain, petani juga dihantam oleh kenaikan harga sarana produksi pertanian akibat depresiasi nilai tukar rupiah yang berlangsung terus-menerus.
Pelemahan nilai tukar rupiah ini seharusnya menjadi perhatian semua pihak karena berpotensi mengancam ketahanan pangan nasional.
Ketika biaya produksi semakin tinggi namun harga jual tetap rendah, margin keuntungan petani semakin tergerus sehingga berdampak pada kesejahteraan mereka. Hal ini menciptakan siklus negatif yang sulit diputus.
Penting untuk dicatat bahwa para petani kecil merupakan tulang punggung ketahanan pangan negara kita.
Mereka tidak hanya bertugas menyediakan kebutuhan pangan untuk masyarakat tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan melalui praktik bertani yang ramah lingkungan.
Dengan demikian, perhatian lebih terhadap kondisi ekonomi mereka harus menjadi prioritas agar dapat menjaga stabilitas dan keberlanjutan sektor pertanian. (*/stch/dda)
















