BANYUMASEKSPRES.ID, MAGELANG – Upaya terus-menerus selama seminggu untuk mencari korban lahar dingin Merapi di kawasan Sungai Senowo akhirnya mencapai titik akhir.
Tim gabungan resmi menghentikan proses evakuasi pada Senin (9/3/2026), setelah mengalami kendala serius akibat tebalnya endapan material vulkanik.
Cuaca pegunungan yang tidak menentu, serta timbunan lumpur yang menghalangi akses, membuat petugas kesulitan dalam mendeteksi keberadaan dua warga yang masih hilang.
Keputusan untuk menarik alat berat dan menghentikan pencarian ini terpaksa diambil, mengingat batas waktu prosedur standar operasional (SOP) penyelamatan telah berakhir.
“Operasi SAR pencarian dan pertolongan kita tutup hari ini sesuai dengan tujuh hari yang ditetapkan dalam SOP Basarnas,” jelas Koordinator Basarnas Unit Siaga SAR Borobudur, Arif Yulianto.
Dengan berakhirnya proses pencarian ini, Pemerintah Kabupaten Magelang kini beralih fokus pada pemulihan infrastruktur fisik pascabencana.
Masa tanggap darurat pun diperpanjang hingga 16 Maret mendatang, untuk mempercepat perbaikan sejumlah fasilitas umum yang rusak akibat bencana.
“Tanggap darurat diperpanjang untuk menyelesaikan fasilitas umum. Skala prioritas paling mendesak harus diselesaikan sebelum Idul Fitri,” ungkap Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, pada Selasa (10/3/2026).
Terjangan material vulkanik tersebut telah merusak jembatan penghubung antardesa dan menghancurkan jaringan pipa penyalur air bersih.
Hal ini menyebabkan ribuan jiwa yang tinggal di tujuh desa wilayah Kecamatan Dukun kini menghadapi masalah serius terkait pasokan air bersih.
Di tengah upaya pemulihan daerah tersebut, duka mendalam masih menyelimuti keluarga para korban saat meratapi area bibir sungai tempat hilangnya para korban.
Sebagai wujud keikhlasan menghadapi musibah ini, keluarga korban menggelar doa bersama, salat gaib, serta prosesi tabur bunga sebagai penghormatan terakhir.
“Keluarga menerima dengan lapang hati karena ini adalah kehendak Allah. Kami juga berterima kasih atas bantuan tim yang sudah berupaya maksimal,” ungkap Saaris, paman dari salah satu korban bernama Hasyim.
Kepedihan semakin terasa ketika mengetahui bahwa Hasyim baru menikah lima bulan lalu.
Sang istri yang kini tengah mengandung empat bulan terpaksa merelakan suaminya pergi dalam tragedi yang begitu menyayat hati ini.
Insiden tragis yang terjadi pada Selasa pekan lalu telah merenggut total lima nyawa, meninggalkan jasad Hasyim dan Maryuni yang hingga saat ini belum ditemukan.
Meskipun proses evakuasi secara resmi dihentikan, skema pemantauan tetap disiapkan oleh petugas sebagai langkah antisipasi apabila muncul petunjuk baru tentang keberadaan kedua korban tersebut.
Upaya pemantauan ini mencerminkan komitmen pemerintah dan tim SAR untuk tidak sepenuhnya melepaskan harapan dalam menemukan para korban.
Bencana lahar dingin Merapi kali ini merupakan salah satu insiden alam yang cukup parah dan menjadi perhatian khusus bagi masyarakat setempat serta pihak terkait.
Dampak dari bencana ini tidak hanya dirasakan oleh keluarga korban, tetapi juga oleh seluruh warga di daerah terdampak.
Musibah seperti ini mengingatkan kita akan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam dan perlunya dukungan serta solidaritas antarwarga saat masa-masa sulit seperti ini.
Dalam konteks lebih luas, pengalaman pahit ini menggarisbawahi betapa vitalnya sistem peringatan dini dan infrastruktur penanggulangan bencana yang efektif.
Hal-hal seperti pelatihan bagi relawan lokal dan penyediaan peralatan penanganan bencana dapat membantu meningkatkan respons terhadap situasi darurat di masa depan. (*/stch/dda)
















