BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah belum memberikan dampak signifikan terhadap penjualan ikan air tawar di Kabupaten Purbalingga.
Hingga kini, sebagian besar dapur penyedia menu MBG masih lebih banyak memilih ayam dan telur sebagai sumber protein utama dibandingkan ikan air tawar.
Kondisi tersebut membuat permintaan ikan dari dapur MBG masih relatif rendah sehingga belum mampu meningkatkan pendapatan pedagang maupun peternak ikan lokal secara signifikan.
Salah satu pedagang di Tempat Penjualan Ikan (TPI) Kembaran Kulon, Kecamatan Purbalingga, Wahyu, mengatakan bahwa harga berbagai jenis ikan air tawar hingga saat ini masih stabil karena permintaan dari program MBG belum mengalami peningkatan yang berarti.
“Dapur MBG kalaupun menggunakan ikan, biasanya hanya lele. Pesanannya memang pernah sampai dua kuintal, tetapi itu sudah lama. Dalam sehari paling banyak hanya dua sampai tiga dapur MBG yang memesan,” ujarnya, Senin (20/7/2026).
Menurut Wahyu, salah satu alasan dapur MBG lebih memilih ayam dan telur adalah faktor harga yang dinilai lebih ekonomis dibandingkan sebagian besar jenis ikan air tawar.
Akibatnya, berbagai komoditas ikan seperti gurame, nila, patin, maupun melem belum menjadi pilihan utama dalam penyusunan menu makanan bergizi bagi para penerima manfaat program tersebut.
Padahal, ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang memiliki kandungan gizi tinggi, termasuk asam lemak omega-3, vitamin, serta mineral yang baik untuk mendukung pertumbuhan anak.
Namun dari sisi efisiensi anggaran, ayam dan telur masih dianggap lebih mudah diperoleh dengan harga yang lebih terjangkau.
Harga Ikan Air Tawar di Purbalingga
Meski permintaan dari program MBG belum meningkat, harga ikan air tawar di Kabupaten Purbalingga masih relatif stabil.
Berikut daftar harga ikan yang dijual di TPI Kembaran Kulon:
- Gurame: Rp60.000 per kilogram
- Melem: Rp45.000 per kilogram
- Nila: Rp40.000 per kilogram
- Patin: Rp35.000 per kilogram
- Lele: Rp25.000 per kilogram
- Bawal: Rp25.000 per kilogram
Harga tersebut masih dipengaruhi oleh permintaan masyarakat umum yang menjadi pasar utama para pedagang ikan.
Selain minimnya permintaan dari dapur MBG, pedagang juga menghadapi tantangan berupa keterbatasan stok apabila sewaktu-waktu terdapat pesanan dalam jumlah besar.
Menurut Wahyu, apabila persediaan ikan di Tempat Penjualan Ikan tidak mencukupi, pihak dapur MBG biasanya langsung melakukan pembelian kepada peternak ikan sehingga transaksi tidak selalu melalui pedagang.
Kondisi tersebut membuat manfaat ekonomi dari program MBG belum dirasakan secara merata oleh seluruh pelaku usaha perikanan.
Di luar kebutuhan program MBG, penjualan ikan air tawar kepada masyarakat tetap berjalan cukup baik.
Lele dan nila masih menjadi komoditas yang paling banyak diminati konsumen karena harganya relatif terjangkau dan mudah diolah menjadi berbagai menu makanan keluarga.
Dalam kondisi normal, penjualan lele mencapai 50 hingga 100 kilogram per hari.
Saat akhir pekan, angka tersebut bahkan bisa meningkat hingga sekitar 120 kilogram per hari seiring meningkatnya permintaan masyarakat.
Meski saat ini serapan ikan untuk Program Makan Bergizi Gratis masih terbatas, para pedagang berharap pemerintah maupun pengelola dapur MBG dapat mulai memasukkan ikan air tawar sebagai menu rutin.
Langkah tersebut dinilai tidak hanya akan memperkaya variasi menu bergizi bagi para penerima manfaat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi peternak ikan dan pedagang lokal di Kabupaten Purbalingga.
Dengan meningkatnya penggunaan ikan dalam program MBG, sektor perikanan air tawar diharapkan ikut berkembang, harga hasil budidaya tetap stabil, serta kesejahteraan peternak dan pelaku usaha perikanan dapat terus meningkat.
Selain memberikan manfaat ekonomi, pemanfaatan ikan lokal juga menjadi langkah strategis untuk mendukung ketahanan pangan daerah sekaligus menyediakan sumber protein berkualitas bagi masyarakat. (alw/stch/dda)














