Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Pemerintah Mulai Lirik CNG sebagai Pengganti LPG 3 Kg, Ini Faktanya

CngCng
Pemerintah mulai mengkaji penggunaan CNG sebagai alternatif pengganti LPG 3 kg untuk mengurangi beban subsidi dan ketergantungan impor energi.

BANYUMASEKSPRES.ID, Rencana pemerintah menghadirkan gas CNG dalam tabung setara LPG 3 kg mulai menjadi perhatian publik.

Wacana ini muncul sebagai langkah baru untuk menghadirkan alternatif energi yang lebih murah sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG subsidi.

Pemerintah menilai penggunaan Compressed Natural Gas atau CNG berpotensi menjadi solusi jangka panjang di tengah tingginya beban subsidi energi nasional.

Selain itu, langkah ini juga dianggap mampu memperkuat ketahanan energi dalam negeri karena bahan bakunya tersedia melimpah di Indonesia.

Dilansir dari detikFinance, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut harga CNG berpotensi jauh lebih murah dibanding LPG.

Bahkan, selisih harganya disebut bisa mencapai 30 persen lebih rendah.

Pernyataan tersebut membuat masyarakat mulai penasaran mengenai apa sebenarnya CNG, alasan pemerintah mulai meliriknya sebagai pengganti LPG 3 kg, hingga kemungkinan skema subsidi yang akan diterapkan nantinya.

Compressed Natural Gas (CNG) atau gas alam terkompresi merupakan bahan bakar gas yang mayoritas terdiri dari metana atau CH4 dengan kandungan lebih dari 95 persen.

Gas ini disimpan menggunakan tekanan tinggi, yakni di atas 200 bar, sehingga lebih efisien untuk penyimpanan dan distribusi energi.

CNG selama ini dikenal sebagai salah satu bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dibanding beberapa bahan bakar fosil lainnya.

Emisi yang dihasilkan lebih rendah dan harganya cenderung lebih stabil di pasar energi. Karena keunggulan tersebut, penggunaan CNG sebenarnya sudah cukup luas di Indonesia.

Selama ini CNG banyak dimanfaatkan sebagai bahan bakar kendaraan hingga kebutuhan operasional sektor industri tertentu.

Kini, pemerintah mulai mempertimbangkan penggunaan CNG dalam tabung kecil setara LPG 3 kg agar lebih mudah digunakan masyarakat rumah tangga.

Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi efisiensi anggaran subsidi energi nasional.

Pemerintah Mulai Uji Coba CNG dalam Tabung 3 Kg

Pemerintah saat ini sedang mengembangkan konsep penggunaan gas alam CNG dalam tabung berukuran 3 kg.

Program tersebut disiapkan agar masyarakat memiliki alternatif selain LPG subsidi yang selama ini digunakan secara luas.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa penggunaan CNG sebenarnya sudah lama diterapkan di Indonesia.

Namun, pemanfaatannya masih dominan dalam tabung berukuran besar.

“Kita merumuskan untuk mencari alternatif lain. CNG adalah salah satu alternatifnya. Nah, CNG ini kan sudah dipakai hotel, restoran, MBG, sudah ada, tapi pada klasifikasi yang 20 kilogram ke atas, ada yang 10-10 kilogram ke atas,” ujar Bahlil usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan.

Menurut Bahlil, tantangan terbesar dalam pengembangan CNG ukuran 3 kg terletak pada tekanan gas yang sangat tinggi.

Karena itu, pemerintah masih melakukan serangkaian uji coba dan modifikasi tabung agar aman digunakan masyarakat.

“Nah, untuk yang 3 kg memang tabungnya masih dilakukan uji coba karena tekanannya kan besar sekali, dia sekitar 200 sampai 250 bar. Nah, ini yang kita akan mencoba untuk modifikasi. Insyaallah 2-3 bulan ini kita akan dapat hasilnya,” ujar Bahlil.

Pemerintah berharap hasil pengujian tersebut dapat menjadi dasar pengembangan energi alternatif yang lebih efisien, murah, dan aman bagi masyarakat luas.

Alasan Pemerintah Lirik CNG sebagai Pengganti LPG Subsidi

Langkah pemerintah melirik CNG bukan tanpa alasan. Salah satu faktor utama adalah tingginya angka impor LPG yang selama ini membebani anggaran negara.

Menurut Bahlil, Indonesia masih harus mengimpor jutaan ton LPG setiap tahun demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Nilainya pun mencapai ratusan triliun rupiah.

“Bayangkan kita impor per tahun itu 8,6 juta ton untuk konsumsi. Saat bersamaan, devisa setiap tahun hanya untuk membeli LPG, sekitar Rp 130-140 triliun. Apalagi kalau harga minyak dunia seperti sekarang, itu pasti lebih besar lagi. Subsidi kita, itu Rp 80-87 triliun,” ujarnya.

Besarnya biaya impor dan subsidi tersebut membuat pemerintah mencari alternatif energi berbasis sumber daya domestik.

CNG dinilai menjadi pilihan realistis karena Indonesia memiliki cadangan gas alam yang cukup besar.

“Nah, tidak ada cara lain dalam rangka efisiensi selain mencari akal agar bahan baku yang ada di negara kita itu bisa dikonversi untuk mengganti LPG. Kira-kira begitu,” sambungnya.

Selain itu, pemerintah juga baru menemukan cadangan gas alam besar sekitar 3.000 MM di Kalimantan Timur.

Temuan tersebut diyakini akan memperkuat pasokan gas domestik dan mendukung pengembangan CNG di Indonesia.

Pemerintah membuka kemungkinan hasil gas alam tersebut akan lebih diprioritaskan untuk kebutuhan energi dalam negeri dibanding ekspor.

Terkait skema subsidi, pemerintah menegaskan semuanya masih dalam tahap pembahasan dan kajian lebih lanjut.

Namun, arah kebijakan pemerintah tetap mengutamakan masyarakat agar memperoleh energi dengan harga terjangkau.

Bahlil mengatakan arahan Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa baik LPG maupun CNG tetap harus berpihak kepada rakyat yang membutuhkan bantuan subsidi energi.

“Arahan bapak presiden, baik CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat yang memang harus dibantu. Dengan demikian, subsidi saya pastikan masih menjadi yang harus dilakukan untuk rakyat ya. Doakan seperti itu ya. Minimal sama (Harganya dengan LPG). Minimal sama,” ujar Bahlil.

Meski begitu, pemerintah juga membuka kemungkinan subsidi nantinya diberikan dengan skema tertentu, termasuk pembatasan volume untuk kelompok penerima tertentu.

Di sisi lain, Bahlil menegaskan harga dasar CNG sebenarnya sudah jauh lebih murah dibanding LPG meskipun tanpa subsidi pemerintah.

“Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya kan ada di kita, di dalam negeri. Jadi, kita tidak melakukan impor. Cost transportasinya aja udah bisa meng-cover,” kata Bahlil.

Menurutnya, penggunaan sumber daya gas domestik menjadi faktor utama yang membuat biaya distribusi dan harga jual CNG bisa lebih rendah dibanding LPG impor.

Jika program ini berhasil diterapkan, CNG berpotensi menjadi alternatif energi rumah tangga yang lebih ekonomis sekaligus membantu mengurangi tekanan impor energi nasional dalam jangka panjang. (taa)

Berita Sebelumnya
Lilywhites Bidik Hat trick Kemenangan

Prediksi Tottenham Hotspur vs Leeds United: Misi The Lilywhites Bidik Hat-trick Kemenangan

Berita Selanjutnya
Deretan film sci fi adaptasi novel ini sukses tampil lebih epik, emosional, dan memukau saat diangkat ke layar lebar dibanding versi bukunya

6 Film Sci-Fi Adaptasi Novel yang Justru Lebih Keren di Layar Lebar