BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN- Di tengah kondisi ekonomi yang semakin menantang, terutama dengan harga pakan ikan yang terus merangkak naik, peternak ikan di Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, justru menemukan celah peluang usaha yang menggembirakan melalui budidaya ikan hias.
Salah satu peternak yang berhasil memanfaatkan situasi ini adalah Indrajati, seorang warga setempat yang kini mengalihkan fokusnya untuk membesarkan ikan hias bernilai jual tinggi.
“Kalau dibandingkan dengan ikan konsumsi seperti lele atau nila, ikan hias ini lebih irit dalam hal pakan namun harga jualnya bisa jauh lebih mahal,” ungkap Indrajati saat diwawancarai pada Senin (21/5).
Pernyataan tersebut mencerminkan strategi cerdas yang diterapkan olehnya dalam mengelola budidaya ikan.
Menurut Indrajati, kunci keuntungan dalam industri ikan hias terletak pada efisiensi penggunaan pakan dan dinamika harga pasar.
Ikan konsumsi seperti lele memerlukan pakan pelet sekitar 2-3 persen dari bobot tubuh per hari agar dapat cepat dipanen.
Sementara itu, untuk ikan hias, cukup diberi makan sekenyangnya satu hingga dua kali sehari dengan porsi kecil dan tidak dikejar target bobot tertentu.
“Contohnya, lele dengan berat satu kilogram biasanya dijual seharga Rp 19 ribu. Namun, patin albino mata merah ukuran 15 cm bisa dihargai hingga Rp 50 ribu per ekor, tergantung pada grade-nya,” jelas Indrajati.
Indrajati kini membudidayakan tiga jenis ikan hias premium di kolamnya, yaitu Gurame Padang, Koi, dan Ggrass Carp atau Ctenopharyngodon idella.
Di Indonesia, ikan ini sering disebut sebagai ikan koan atau ikan dewa.
“Ikan ini berasal dari sungai-sungai besar di Tiongkok dan Siberia dan sangat menyukai makanan seperti eceng gondok, hydrilla serta rumput air. Selain itu, mereka juga berfungsi sebagai pembasmi gulma,” paparnya.
Dengan harga per kilogramnya bisa mencapai Rp 200 ribuan jika berat melebihi lima kilogram.
Faktor lain yang mendukung keberhasilan budidaya ikan hias di Jatijajar adalah ketersediaan air yang melimpah meskipun di musim kemarau.
Hal ini memberikan keuntungan tersendiri bagi para peternak lokal untuk memelihara berbagai jenis ikan hias tanpa khawatir akan kekurangan sumber daya air.
Di era yang serba sulit ini, keberanian Indrajati untuk beralih ke budidaya ikan hias menunjukkan bagaimana kreativitas dan ketahanan dapat membawa hasil positif bagi ekonomi lokal.
Para peternak lainnya di sekitar Jatijajar juga mulai memperhatikan tren ini dan banyak dari mereka berupaya mengikuti langkah Indrajati.
Dengan cara ini, mereka harap mampu mengatasi dampak negatif dari kenaikan harga pakan yang terjadi saat ini. (mam/stch/dda)
















