BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Jemaah calon haji dari Kabupaten Purbalingga, yang tergabung dalam kelompok terbang SOC 68 dan 69, telah memulai serangkaian ibadah di Tanah Suci Mekkah, Arab Saudi, pada Senin, 18 Mei 2026.
Salah satu jemaah yang berasal dari Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Baryati, mengungkapkan bahwa beberapa di antara mereka telah melaksanakan umrah dan tawaf qudum bagi yang menjalani Haji Ifrad.
Baryati, yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik di Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Purbalingga, menekankan pentingnya menjaga kesehatan selama berada di Tanah Suci.
Kesiapan fisik menjadi hal vital bagi para jemaah haji, terutama saat ini mereka masih berada di fase awal bulan Zulhijah.
Saat ini sudah memasuki 1 Zulhijah 1447 Hijriah, sementara puncak ibadah haji berupa wukuf di Arafah dijadwalkan berlangsung pada 9 Zulhijah.
Dalam hal ini, Baryati menyatakan, “Yang perlu dipersiapkan adalah menjaga kondisi fisik dengan memperhatikan makan, istirahat, dan tidur agar pelaksanaan wukuf dapat dijalankan dengan sempurna.”
Pentingnya menjaga kesehatan menjadi sorotan utama bukan hanya untuk memenuhi kewajiban ibadah, tetapi juga untuk memastikan pengalaman haji yang optimal.
Di tengah cuaca panas dan aktivitas fisik yang tinggi selama di Tanah Suci, kesehatan fisik menjadi kunci untuk menjalankan segala rangkaian ibadah dengan baik.
Dengan demikian, setiap jemaah diharapkan mampu mengatur pola makan yang sehat dan cukup beristirahat agar stamina mereka tetap terjaga.
Sementara itu, Petugas Haji Hary Purwanto menjelaskan mengenai jadwal keberangkatan jemaah ke Mina untuk melaksanakan Tarwiyah.
Jemaah yang mengikuti Tarwiyah direncanakan akan diberangkatkan menuju Mina pada 7 Zulhijah.
Sedangkan bagi jemaah yang tidak mengikuti Tarwiyah akan berangkat ke Mina pada 8 Zulhijah untuk melaksanakan mabit atau bermalam sebelum melakukan wukuf di Arafah.
Hary Purwanto juga memberikan perhatian khusus kepada jemaah lanjut usia serta mereka yang berisiko tinggi.
Ia mengingatkan agar mereka menyesuaikan aktivitas ibadah dengan kondisi fisik masing-masing.
Terutama saat beribadah di Masjidil Haram yang dikenal memiliki kepadatan pengunjung dan aktivitas yang sangat tinggi.
“Jemaah diharapkan tidak bepergian sendirian dan selalu membawa kartu Nusuk selama berada di Arab Saudi,” tambah Hary.
Kehadiran petugas Linjam (Perlindungan Jemaah) pada pelaksanaan haji tahun ini juga menjadi langkah positif dalam mendukung keamanan dan kenyamanan para jemaah.
Petugas tersebut dikerahkan ke pos-pos tertentu untuk membantu jemaah yang mungkin mengalami kebingungan arah atau membutuhkan bantuan lainnya selama menjalankan ibadah haji.
Keberadaan petugas ini menunjukkan komitmen pihak penyelenggara dalam memastikan keselamatan dan kenyamanan para jemaah selama berada di Tanah Suci.
Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang sangat penting bagi umat Muslim.
Setiap tahunnya, jutaan umat Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Mekkah untuk melaksanakan ibadah ini.
Kegiatan ibadah haji bukan hanya sekadar ritual spiritual semata tetapi juga momen sosial penting bagi umat Muslim untuk saling mengenal antar sesama jamaah dari berbagai negara.
Bagi banyak orang, pengalaman menunaikan ibadah haji adalah momen seumur hidup yang penuh makna dan harapan.
Momen ini sering kali menjadi titik tolak dalam kehidupan seseorang untuk memperbaiki diri serta meningkatkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebuah perjalanan spiritual yang tidak hanya menuntut fisik tetapi juga mental.
Di samping itu, pelaksanaan ibadah haji juga membawa dampak ekonomi bagi wilayah sekitar Mekkah.
Setiap tahun ribuan pedagang lokal memanfaatkan kesempatan ini untuk menjual berbagai produk mulai dari makanan hingga perlengkapan ibadah kepada para jemaah haji.
Kehadiran para jemaah tentu saja memberikan kontribusi besar bagi perekonomian setempat.
Dalam konteks sosial budaya, pertemuan antar umat Muslim dari berbagai latar belakang dapat memperkuat tali persaudaraan serta saling belajar satu sama lain tentang budaya dan tradisi masing-masing daerah.
Hal ini turut menciptakan suasana inklusif dalam pelaksanaan ibadah haji. Namun demikian, tantangan tetap ada dalam penyelenggaraan haji setiap tahunnya.
Dengan jumlah jemaah yang terus meningkat setiap tahun, penyelenggara harus menghadapi tantangan dalam hal manajemen kerumunan serta keamanan. (*/stch/dda)
















