BANYUMASEKSPRES.ID, TIONGKOK – Produsen robot humanoid terkemuka asal Tiongkok, Unitree Robotics, semakin mendekati langkah penting menuju bursa saham setelah berhasil melewati sidang komite pencatatan untuk penawaran umum perdana saham (IPO) di STAR Market Shanghai.
Perkembangan ini menandai tonggak signifikan dalam industri robot humanoid yang berbasis kecerdasan buatan, yang semakin kompetitif.
Berbasis di Hangzhou, Unitree Robotics sebelumnya telah mengajukan rencana IPO pada Maret 2026.
Dalam proses penggalangan dana ini, perusahaan menargetkan untuk menghimpun dana sebesar 4,2 miliar yuan, setara dengan sekitar Rp11,9 triliun, dengan menawarkan sekitar 40,4 juta saham kepada publik.
Dari sisi kinerja finansial, Unitree menunjukkan hasil yang cukup solid sepanjang tahun lalu.
Perusahaan mencatat pendapatan mencapai 1,7 miliar yuan dan laba bersih sebesar 590,8 juta yuan.
Angka ini menjadikan Unitree salah satu perusahaan robot humanoid paling menguntungkan di antara para pesaingnya.
Namun demikian, pada kuartal pertama tahun 2026, laba perusahaan mengalami tekanan yang cukup signifikan.
Meskipun pendapatan tumbuh pesat sebesar 68 persen menjadi 422,8 juta yuan, laba bersih yang disesuaikan justru mengalami penurunan lebih dari 52 persen menjadi 40,3 juta yuan.
Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya biaya riset dan pengembangan yang harus ditanggung perusahaan.
Dalam upaya untuk memperkuat daya saingnya di pasar yang semakin ketat ini, Unitree berkomitmen untuk meningkatkan investasi dalam teknologi kecerdasan buatan.
Teknologi ini menjadi pusat kendali bagi robot humanoid yang mereka produksi. Perusahaan saat ini sedang mengembangkan model World-Model-Action (WMA) dan Vision-Language-Action (VLA).
Model-model ini dirancang agar robot dapat memahami lingkungan sekitarnya serta menjalankan instruksi manusia dengan lebih akurat dan efisien.
Persaingan dalam sektor robot humanoid juga semakin sengit. Kehadiran proyek Tesla Optimus yang dipimpin oleh Elon Musk menjadi salah satu tantangan besar bagi Unitree.
Selain itu, sejumlah perusahaan otomotif dan elektronik asal Tiongkok juga mulai merambah ke bisnis robot humanoid.
Analis dari Morgan Stanley berpendapat bahwa gelombang IPO dari perusahaan-perusahaan robot humanoid akan berpotensi meningkatkan minat investor terhadap sektor robotika secara keseluruhan.
Dalam konteks global, UBS memperkirakan bahwa pengiriman robot humanoid di seluruh dunia dapat mencapai angka sebanyak 30.000 unit pada tahun 2026.
Angka ini menunjukkan prospek cerah bagi industri robotika meskipun terdapat tantangan yang harus dihadapi.
Para analis menyoroti bahwa tantangan terbesar dalam industri ini masih terletak pada pengembangan kecerdasan buatan dan ketersediaan data yang diperlukan untuk melatih robot agar mampu beroperasi secara optimal dalam berbagai kondisi nyata.
IPO Unitree dianggap sebagai sinyal positif bahwa industri robot humanoid kini memasuki fase persaingan bisnis yang semakin serius dan strategis di tingkat global.
Langkah ini tidak hanya akan memberikan peluang bagi investor untuk berpartisipasi dalam perkembangan teknologi mutakhir tetapi juga akan mendorong inovasi lebih lanjut dalam bidang kecerdasan buatan dan robotika.
Pengembangan teknologi kecerdasan buatan merupakan hal krusial bagi kelangsungan hidup perusahaan-perusahaan seperti Unitree Robotics.
Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi ini, kemampuan suatu produk untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan lingkungan dan kebutuhan pengguna menjadi sangat penting.
Oleh karena itu, investasi pada riset dan pengembangan tidak hanya menjadi kewajiban tetapi juga merupakan strategi jangka panjang untuk meraih keberhasilan.
Dengan memfokuskan diri pada peningkatan kemampuan intelektual dari robot-robotnya melalui model-model baru seperti WMA dan VLA, Unitree berharap dapat mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar dalam sektor robot humanoid. (*/stch/dda)














