BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Ketersediaan solar subsidi untuk para nelayan di wilayah Cilacap dan daerah sekitarnya telah dipastikan dalam kondisi aman.
Penyaluran bahan bakar minyak (BBM) subsidi khusus bagi nelayan kecil berlangsung tanpa kendala yang berarti.
Pernyataan ini disampaikan oleh Taufiq Kurniawan, Area Manager Communication, Relation, dan Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah.
Taufiq menjelaskan bahwa stok solar subsidi di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berada dalam keadaan aman.
Ia menyebutkan bahwa stok solar subsidi di Regional Jawa Bagian Tengah mencapai sekitar 14,4 kali lipat dari konsumsi harian normal.
Untuk wilayah Cilacap sendiri, ketersediaan solar subsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tercatat berkisar dua kali lipat dari konsumsi harian normal.
“Stok terus kami jaga melalui suplai rutin berkala sehingga kebutuhan masyarakat, termasuk nelayan, tetap terpenuhi,” katanya dalam sebuah pernyataan pada Senin, 11 Mei.
Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi para nelayan yang bergantung pada ketersediaan BBM subsidi untuk menjalankan aktivitas penangkapan ikan mereka.
Di sektor perikanan, nelayan kecil yang memiliki kapal dengan ukuran di bawah 30 gross ton (GT) masih berhak mendapatkan solar subsidi sesuai dengan ketentuan pemerintah yang berlaku.
Penyaluran BBM subsidi ini dilakukan melalui mekanisme yang telah ditetapkan, baik melalui SPBU khusus nelayan maupun SPBU reguler.
“Nelayan dengan kapal di bawah 30 GT berhak memperoleh BBM subsidi melalui mekanisme yang sudah ditentukan pemerintah,” lanjutnya.
Di kawasan Cilacap, layanan solar subsidi bagi nelayan selama ini telah dilakukan melalui sejumlah SPBU nelayan yang terletak di kawasan Sentolo Kawat dan Tegalkamulyan.
Bagi para nelayan yang berada di lokasi yang lebih jauh dari SPBU nelayan, mereka juga dapat membeli solar subsidi melalui SPBU reguler dengan melampirkan surat rekomendasi resmi dari Dinas Kelautan dan Perikanan setempat.
Ini adalah langkah penting untuk memastikan semua nelayan mendapatkan akses terhadap BBM subsidi yang mereka butuhkan untuk aktivitas sehari-hari.
Taufiq juga menegaskan bahwa untuk kapal-kapal nelayan yang memiliki ukuran di atas 30 GT, penggunaan BBM yang diperbolehkan adalah BBM non-subsidi.
Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa aktivitas penangkapan ikan menggunakan kapal besar tersebut sudah tergolong dalam kategori industri.
Dengan demikian, mereka tidak lagi berhak atas BBM bersubsidi.
Selain menjaga pasokan energi agar tetap stabil dan mencukupi kebutuhan masyarakat, pihak Pertamina juga terus membuka saluran komunikasi dan koordinasi dengan para nelayan serta pemerintah daerah terkait kebutuhan BBM dalam sektor perikanan.
Tindakan ini penting agar semua pihak dapat saling mendukung dalam menjaga kelancaran distribusi energi.
“Masyarakat kami imbau tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan karena distribusi BBM saat ini berjalan normal dan stok dinyatakan mencukupi,” tandas Taufiq.
Pernyataan ini menunjukkan komitmen Pertamina untuk memastikan bahwa tidak ada kekhawatiran berlebihan di kalangan masyarakat dan para nelayan terkait ketersediaan bahan bakar.
Dalam konteks ini, penting untuk dicatat bahwa keberadaan ketersediaan energi yang memadai sangat krusial bagi aktivitas ekonomi masyarakat pesisir seperti para nelayan.
Mereka sangat bergantung pada pasokan BBM untuk menjalankan usaha mereka sehari-hari.
Oleh karena itu, upaya Pertamina dalam menjaga stok dan distribusi BBM sangat diapresiasi oleh komunitas nelayan lokal.
Situasi ini juga menggambarkan betapa pentingnya kolaborasi antara perusahaan penyedia energi seperti Pertamina dengan pemerintah daerah serta pihak terkait lainnya dalam mengelola sumber daya energi secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Dalam hal ini, dukungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan setempat menjadi kunci untuk memastikan bahwa pembelian solar subsidi dapat berjalan lancar tanpa ada hambatan.
Dengan adanya kebijakan penyaluran yang jelas dan terencana, diharapkan semua nelayan dapat mengakses bahan bakar tanpa kesulitan. (jul/stch/dda)
















