BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Dari total 284 desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Cilacap, hanya 176 yang memiliki perpustakaan.
Angka ini menunjukkan bahwa masih banyak desa yang belum memiliki akses terhadap sumber informasi yang vital bagi pengembangan pengetahuan masyarakat.
Dari jumlah tersebut, hanya 17 perpustakaan desa yang telah terakreditasi, sebuah kondisi yang menandakan perlunya peningkatan baik dalam layanan maupun dalam kualitas pengelolaan perpustakaan desa di kawasan tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Cilacap, Achmad Fauzi.
Fauzi menjelaskan bahwa keberadaan perpustakaan desa tidak hanya sekadar tempat menyimpan buku, tetapi juga harus berfungsi sebagai ruang belajar dan kegiatan masyarakat.
Dalam konteks ini, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Cilacap berinisiatif menggelar Sosialisasi Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Tahun 2026.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan desa dan kelurahan dari berbagai wilayah di Kabupaten Cilacap beberapa waktu lalu.
Sosialisasi bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan lomba sekaligus mendorong peningkatan kualitas perpustakaan desa agar lebih berdaya guna bagi masyarakat.
Pemerintah daerah berharap dengan adanya sosialisasi ini, perpustakaan desa dapat berperan aktif dalam kehidupan masyarakat.
Fauzi menekankan pentingnya peran perpustakaan dalam meningkatkan literasi dan pengetahuan masyarakat.
Ia menyebutkan bahwa Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Cilacap saat ini berada pada angka 20,81, menempatkannya pada peringkat ke-10 di Jawa Tengah.
Di sisi lain, tingkat kegemaran membaca masyarakat juga perlu mendapat perhatian lebih karena masih berada pada angka 59,01 persen.
Ini menunjukkan adanya tantangan besar yang harus dihadapi untuk meningkatkan minat baca serta akses terhadap informasi yang berkualitas.
Dengan mengikutsertakan seluruh perpustakaan desa dan kelurahan dalam lomba ini, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan berharap bisa meningkatkan daya tarik dan fungsi perpustakaan sebagai pusat pembelajaran.
Setelah proses penilaian awal, enam perpustakaan terbaik akan dipilih untuk penilaian lanjutan.
Selain itu, sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka, panitia telah menyiapkan total hadiah pembinaan sebesar Rp18 juta untuk para pemenang lomba.
Kegiatan sosialisasi lomba ini merupakan sebuah langkah strategis untuk memacu semangat pengelola perpustakaan desa agar lebih aktif dalam mengadakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan masyarakat.
Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan buku tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial yang memperkaya khazanah pengetahuan serta budaya baca masyarakat.
Fauzi menekankan bahwa pengelolaan perpustakaan desa harus terus ditingkatkan agar lebih menarik dan ramai dikunjungi warga.
Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan literasi masyarakat yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah daerah.
“Perpustakaan harus menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Melihat kondisi saat ini, pelaksanaan lomba perpustakaan desa diharapkan dapat memicu inovasi baru dalam pengelolaan perpustakaan.
Pengelola diharapkan mampu menciptakan program-program menarik yang dapat menarik minat warga untuk datang dan memanfaatkan fasilitas yang ada.
Misalnya saja dengan mengadakan diskusi buku, seminar tentang peningkatan keterampilan, maupun acara kebudayaan lokal yang melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat.
Dengan demikian, keberadaan perpustakaan desa tidak hanya sekadar dilihat dari jumlah koleksi buku atau fasilitas fisiknya saja, tetapi juga dari seberapa besar dampak positif yang bisa diberikan kepada komunitas sekitar. (jul/stch/dda)
















