Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Teknologi Imun Tanaman Rusia Mulai Diuji di Desa Purwasaba Banjarnegara

Imun Tanaman Rusia Diuji di Desa PurwasabaImun Tanaman Rusia Diuji di Desa Purwasaba
UJI COBA: Desa Purwasaba menjadi demplot pertanian menggunakan tekhnologi cairan imun tanaman untuk tingkatkan produktivitas pertanian

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Inovasi teknologi pertanian ramah lingkungan asal Rusia mulai diuji coba di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Teknologi berbasis cairan bio, yang dikenal dengan sebutan cairan imun tanaman, diperkenalkan di Desa Purwasaba sebagai alternatif pengganti pupuk kimia yang telah lama digunakan oleh petani setempat.

Uji coba ini merupakan bagian dari penjajakan kerja sama antara Business Council Indonesia–Rusia untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Arry Widya Sudirman, perwakilan dari Business Council Indonesia–Rusia, menjelaskan alasan memilih Banjarnegara sebagai lokasi uji coba.

Menurutnya, daerah ini cocok karena selama bertahun-tahun lahan pertaniannya sangat bergantung pada pupuk kimia.

“Ini memberikan tantangan sekaligus peluang bagi kami untuk membuktikan efektivitas teknologi bio yang kami tawarkan,” ujar Arry dalam wawancara dengan awak media pada Rabu (28/1/2026).

Teknologi cairan imun ini bukanlah pupuk organik biasa. Cairan tersebut terbuat dari bahan alami yang unik dan hanya ditemukan di Siberia, Rusia.

“Karena tidak ditemukan di negara lain, bahan ini harus diimpor langsung dari Rusia,” tambah Arry.

Cairan imun dirancang untuk meningkatkan daya tahan tanaman serta memperbaiki kesuburan tanah.

Penggunaannya tidak terbatas pada tanaman padi saja tetapi juga mencakup komoditas hortikultura seperti kentang dan kopi.

“Kami menerapkan sistem bio, bukan kimia,” jelas Arry.

Jika ada masalah pada lahan pertanian, sampel tanah atau tanaman dapat dikirim ke Rusia untuk dianalisis oleh tim yang terdiri dari tiga profesor ahli sebelum solusi teknologinya ditentukan.

Sebelum memulai proyek di Banjarnegara, tim yang terdiri dari Arry Widya Sudirman, Rio Boun, dan pakar pertanian asal Rusia, Mr Giliev Illya, telah melakukan uji coba di wilayah Purwokerto selama enam bulan terakhir.

“Perbedaannya sangat jelas terlihat. Tanamannya lebih besar dan kualitas gabahnya lebih baik tanpa menggunakan bahan kimia sama sekali,” kata Arry penuh keyakinan.

Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho yang akrab disapa Hoho, mendukung penuh uji coba teknologi ini dengan menyediakan lahan pribadinya seluas sekitar 1,25 hektar sebagai demplot uji coba.

“Petani di sini sudah lama bergantung pada pupuk kimia sejak generasi sebelumnya. Dampaknya tanah menjadi rusak dan biaya produksi semakin tinggi,” ungkap Hoho kepada Banyumas Ekspres.

Hoho optimis bahwa teknologi cairan imun ini bisa menjadi solusi bagi petani yang terjebak dalam ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Ia menambahkan bahwa jika cairan ini mampu menetralkan residu kimia dan meningkatkan hasil panen hingga sepertiga lebih banyak, maka itu adalah sebuah kemajuan luar biasa bagi para petani setempat.

Saat ini rata-rata produksi padi di Desa Purwasaba mencapai sekitar 6 ton per hektar.

Dengan penerapan teknologi baru ini, target produksinya diproyeksikan meningkat hingga 8 ton per hektar.

Peningkatan hasil panen sebesar itu tidak hanya akan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia tetapi juga menurunkan biaya produksi secara keseluruhan. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Kasus PHI Capai

Disnaker Banyumas Catat 16 Kasus PHI di 2025, Mayoritas Diselesaikan Secara Bipartit

Berita Selanjutnya
Rangkaian Ditutup Gebyar Sholawat Wayang

Gebyar Sholawat Wayang Santri Meriahkan Penutupan Milad ke-34 MAN 2 Banyumas