BANYUMASEKSPRES.ID, Stroke merupakan kondisi serius yang terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, sehingga jaringan otak dapat mengalami kerusakan.
Dampaknya bisa beragam, mulai dari gangguan gerak, kemampuan berbicara, hingga fungsi tubuh lainnya.
Proses pemulihan pun dapat berlangsung panjang dan membutuhkan penanganan serta rehabilitasi yang sesuai. Di tengah tantangan tersebut, penelitian mengenai pemulihan otak setelah stroke terus berkembang.
Salah satu studi terbaru menemukan adanya potensi hubungan antara ritme sirkadian atau jam biologis tubuh dengan kemampuan otak untuk memulihkan diri setelah mengalami stroke.
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari University of Rochester Medicine tersebut menunjukkan bahwa memperkuat ritme sirkadian berpotensi membantu proses pemulihan.
Hal ini bahkan ketika intervensi dilakukan beberapa hari setelah stroke. Temuan ini menarik karena membuka sudut pandang baru dalam penelitian stroke.
Pemulihan tidak hanya berkaitan dengan kerusakan pembuluh darah dan jaringan otak, tetapi juga bagaimana tubuh mengatur waktu tidur, aktivitas biologis, proses pembersihan limbah, serta respons peradangan.

Namun, penting dicatat bahwa penelitian tersebut masih menggunakan model tikus, sehingga hasilnya belum dapat langsung dianggap sebagai terapi yang terbukti efektif untuk pasien stroke.
Apa Hubungan Jam Biologis dengan Pemulihan Stroke?
Ritme sirkadian merupakan sistem biologis yang bekerja dalam siklus sekitar 24 jam. Sistem ini mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk pola tidur dan bangun, aktivitas hormon, metabolisme, serta proses fisiologis lainnya.
Para peneliti melihat adanya alasan untuk menghubungkan sistem tersebut dengan pemulihan stroke. Salah satunya berasal dari pengamatan bahwa stroke memiliki pola waktu tertentu.
Kasus stroke diketahui lebih sering terjadi pada waktu-waktu tertentu dalam siklus harian dan sejumlah stroke yang terjadi menjelang akhir periode tidur dapat memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi.
Di sisi lain, penyintas stroke juga tidak jarang mengalami perubahan pola tidur dan bangun. Gangguan tersebut dapat berkaitan dengan proses pemulihan yang lebih buruk dan menurunkan kualitas hidup.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan: jika ritme biologis mengalami gangguan setelah stroke, apakah memperkuat kembali jam biologis dapat membantu otak menjalani proses pemulihan?
Sistem Glimfatik Jadi Bagian Penting Penelitian
Salah satu fokus utama penelitian ini adalah sistem glimfatik, jaringan yang berperan dalam membantu otak membuang berbagai produk limbah.
Sistem tersebut ditemukan oleh tim Maiken Nedergaard dari University of Rochester pada 2012. Secara sederhana, sistem glimfatik membantu mengalirkan cairan serebrospinal melalui jaringan otak.
Proses tersebut berperan dalam mengangkut dan membersihkan sejumlah zat sisa yang dihasilkan oleh aktivitas otak.
Menariknya, aktivitas sistem glimfatik diketahui meningkat ketika seseorang tidur. Karena itu, kualitas dan waktu tidur menjadi salah satu faktor yang menarik perhatian para peneliti ketika mempelajari kesehatan otak.
Setelah stroke, fungsi sistem glimfatik dapat mengalami gangguan. Kondisi tersebut berpotensi membuat proses pembersihan limbah dari jaringan otak menjadi kurang optimal.
Gangguan Pembersihan Limbah Bisa Memengaruhi Peradangan
Selama ini, banyak penelitian stroke berfokus pada peradangan yang muncul setelah jaringan otak mengalami cedera.
Respons inflamasi memang merupakan bagian dari mekanisme tubuh, tetapi peradangan yang berlangsung terlalu lama dapat berkontribusi terhadap kerusakan lanjutan.
Peneliti dalam studi ini mengajukan kemungkinan bahwa masalahnya bukan hanya karena munculnya molekul inflamasi, tetapi juga karena kemampuan otak untuk membersihkan molekul tersebut mengalami gangguan.
Ketika proses pembuangan limbah tidak berjalan optimal, berbagai zat yang berkaitan dengan peradangan bertahan lebih lama di lingkungan otak. Situasi tersebut berpotensi menghambat proses pemulihan jaringan.
Dalam model penelitian yang dilakukan, penguatan ritme sirkadian dikaitkan dengan peningkatan fungsi sistem glimfatik serta penurunan molekul inflamasi tertentu.
Apakah Temuan Ini Bisa Menjadi Terapi Stroke?
Temuan tersebut memang memberikan arah baru bagi penelitian pemulihan stroke, tetapi belum berarti pasien stroke dapat menggunakan pengaturan tidur sebagai pengganti terapi medis.
Penelitian yang menjadi dasar temuan ini dilakukan menggunakan hewan percobaan, sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah mekanisme serupa benar-benar memberikan manfaat pada manusia.
Meski demikian, hasil penelitian memperkuat pemahaman bahwa proses pemulihan otak merupakan mekanisme yang kompleks.
Faktor seperti ritme biologis, tidur, sistem pembersihan limbah otak, dan respons peradangan dapat saling berkaitan.
Ke depan, pemahaman mengenai hubungan antara jam biologis dan sistem glimfatik berpotensi membantu ilmuwan mengembangkan pendekatan baru untuk mendukung pemulihan pasien stroke.
Untuk saat ini, pasien stroke tetap membutuhkan diagnosis dan penanganan medis yang tepat. Selain itu, menurunkan gula darah juga penting salah satunya dengan konsumsi bahan alami.
Jika muncul gejala stroke secara tiba-tiba, seperti wajah menurun sebelah, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, atau gangguan bicara, pertolongan medis segera tetap menjadi langkah yang paling penting. (*/nds)














