BANYUMASEKSPRES.ID, TEMANGGUNG – Kabupaten Temanggung mencatat 195 kejadian bencana alam selama periode Januari hingga Mei 2025. Bencana paling banyak terjadi berupa tanah longsor dan cuaca ekstrem, yang mendominasi laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Kepala BPBD Kabupaten Temanggung, Totok Nursetyanto, mengungkapkan bahwa tanah longsor menjadi jenis bencana dengan jumlah tertinggi, yakni 75 kejadian.
Fenomena ini banyak terjadi di wilayah perbukitan dan pegunungan yang tersebar hampir di seluruh kecamatan.
“Sejak awal tahun hingga memasuki puncak musim penghujan, potensi bencana, terutama tanah longsor, masih cukup tinggi,” kata Totok saat dikonfirmasi, Kamis (22/5).
Selain longsor, bencana akibat cuaca ekstrem tercatat sebanyak 54 kejadian, disusul oleh banjir dengan 49 kejadian, serta 17 kejadian lain yang terdiri dari kecelakaan air dan angin puting beliung.
Wilayah terdampak tersebar merata di 20 kecamatan dan 119 desa. Longsor paling sering melanda daerah lereng dan bukit, sedangkan banjir banyak terjadi di kawasan perkotaan dan dataran rendah, tempat sistem drainase kerap tidak mampu menampung curah hujan tinggi.
Menurut Totok, cuaca ekstrem menjadi faktor utama pemicu berbagai bencana alam di Temanggung selama lima bulan terakhir.
Ia menambahkan, pola cuaca yang tidak stabil serta intensitas hujan yang meningkat tiba-tiba menjadi ciri khas dari musim transisi yang sedang berlangsung.
“Jumlah warga terdampak mencapai 2.038 orang. Dari total kejadian, 27 orang sempat mengungsi dan tiga orang dilaporkan meninggal dunia,” jelasnya.
Selain menimbulkan korban jiwa dan warga mengungsi, kerugian material yang disebabkan oleh serangkaian bencana ini ditaksir mencapai Rp2,1 miliar. Kerusakan mencakup rumah warga, infrastruktur jalan dan jembatan, fasilitas publik, serta lahan pertanian produktif.
Totok mengimbau seluruh masyarakat Temanggung, khususnya yang tinggal di daerah rawan bencana seperti lereng bukit dan bantaran sungai, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang masih tinggi hingga pergantian musim selesai.
Ia menekankan pentingnya kemampuan masyarakat dalam mengenali tanda-tanda awal bencana, seperti perubahan cuaca mendadak, langit mendung pekat yang menetap, hembusan angin tak biasa, atau suara gemuruh dari perbukitan yang bisa menjadi sinyal akan terjadinya longsor atau banjir.
“Masyarakat harus bisa membaca tanda-tanda alam, seperti mendung yang tebal dan gelap, hembusan angin tidak biasa, dan gejala-gejala lain yang mengindikasikan potensi bencana,” pungkasnya.
Meski tren bencana belum menunjukkan penurunan signifikan, pihak BPBD terus melakukan mitigasi dan pemantauan lapangan secara intensif.
Sejumlah relawan kebencanaan juga sudah dikerahkan untuk melakukan edukasi dan simulasi kesiapsiagaan di desa-desa rawan bencana.
Upaya pemetaan wilayah rawan bencana serta penyusunan rencana kontingensi telah dilakukan untuk meminimalkan risiko korban dan kerugian.
BPBD juga berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penguatan sistem peringatan dini dan peningkatan kapasitas logistik tanggap darurat.
Kondisi geografis Kabupaten Temanggung yang terdiri dari banyak daerah pegunungan, lereng curam, serta sungai-sungai kecil yang melintasi permukiman, membuat wilayah ini rentan terhadap bencana alam, terutama saat musim hujan tiba atau cuaca ekstrem terjadi secara mendadak.
Data dan fakta bencana tersebut menjadi pengingat penting bahwa perubahan iklim dan degradasi lingkungan telah memperbesar potensi bahaya bencana.
Oleh karena itu, peran aktif masyarakat dan sinergi antarinstansi menjadi krusial untuk menghadapi tantangan ke depan. (*/stch)
















