BANYUMASEKSPRES.ID, Serangan jantung selama ini sering dikaitkan dengan orang lanjut usia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus gangguan jantung pada kelompok usia muda semakin banyak mendapat perhatian.
Tidak sedikit laporan mengenai orang berusia 20 hingga 30 tahun yang mengalami kolaps saat beraktivitas atau berolahraga akibat masalah pada sistem kardiovaskular.
Fenomena ini menunjukkan bahwa risiko penyakit jantung tidak lagi hanya dipengaruhi oleh faktor usia.
Gaya hidup modern, pola makan yang kurang sehat, hingga tingkat stres yang tinggi menjadi sejumlah faktor yang dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah sejak usia muda.
Menurut ahli jantung dari Bilecik Şeyh Edebali University, Turki, Dr. Enes Çelik, secara klinis serangan jantung pada usia muda umumnya mengacu pada pria berusia di bawah 45 tahun dan wanita di bawah 55 tahun.
Ia juga mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan kasus penyakit pembuluh darah pada kelompok usia 20-an hingga 30-an.
Kondisi tersebut berkaitan dengan perbedaan antara usia biologis dan usia pembuluh darah. Oleh karena itu, penting untuk generasi muda menjaga pola hidup secara sehat.

Meski masih tergolong muda, kesehatan pembuluh darahnya bisa mengalami penurunan lebih cepat akibat kebiasaan hidup yang kurang sehat.
Penyebab Serangan Jantung pada Usia Muda
Ada beberapa faktor yang dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya risiko serangan jantung di kalangan generasi muda. Sebagian besar berkaitan dengan perubahan gaya hidup yang kini semakin umum terjadi.
1. Kurang Bergerak atau Gaya Hidup Sedentari
Aktivitas fisik yang minim menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya risiko penyakit jantung.
Terlalu lama duduk saat bekerja, belajar, maupun menghabiskan waktu di depan layar komputer atau ponsel dapat memengaruhi kesehatan sistem kardiovaskular.
Kurangnya aktivitas fisik berisiko memicu kenaikan berat badan, resistensi insulin, tekanan darah tinggi, hingga kekakuan pembuluh darah.
Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini dapat meningkatkan peluang terjadinya penyakit jantung maupun gangguan metabolisme lainnya.
Karena itu, rutin berolahraga dan mengurangi waktu duduk terlalu lama menjadi langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan jantung.
2. Kebiasaan Begadang dan Terlalu Lama Menatap Layar
Pola tidur yang buruk juga menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan. Banyak anak muda terbiasa tidur larut malam karena menggunakan ponsel, tablet, atau komputer hingga dini hari.
Paparan cahaya dari layar elektronik pada malam hari dapat mengganggu produksi hormon melatonin, yaitu hormon yang berperan dalam mengatur siklus tidur.
Padahal, melatonin juga memiliki fungsi penting dalam menjaga kesehatan pembuluh darah, mengontrol tekanan darah, serta mendukung proses metabolisme tubuh.
Kurang tidur secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko hipertensi, obesitas, diabetes, hingga gangguan irama jantung.
3. Stres Berkepanjangan
Tekanan hidup, tuntutan pekerjaan, hingga penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memicu stres kronis.
Kondisi ini membuat tubuh terus berada dalam keadaan siaga sehingga memengaruhi keseimbangan hormon dan kesehatan jantung.
Fenomena seperti Fear of Missing Out (FOMO), kelelahan mental, dan kurangnya waktu beristirahat juga disebut dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular apabila tidak dikelola dengan baik.
Mengelola stres melalui olahraga, tidur yang cukup, maupun aktivitas relaksasi dapat membantu menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang.
4. Pola Makan Tidak Sehat
Konsumsi makanan cepat saji, makanan tinggi lemak jenuh, gula, dan garam secara berlebihan juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko penyakit jantung.
Selain itu, anggapan bahwa tubuh kurus pasti sehat tidak selalu benar. Seseorang dengan berat badan ideal dapat memiliki kadar kolesterol tinggi maupun gangguan pada pembuluh darah apabila pola makannya tidak seimbang.
Minuman energi juga perlu dikonsumsi secara bijak. Selain itu, simak sejumlah bahan alami yang dapat membantu turunkan gula darah di tubuh.
Kandungan kafein dan stimulan yang tinggi dapat meningkatkan detak jantung dan berpotensi memicu gangguan irama jantung, terutama jika dikonsumsi sebelum melakukan aktivitas fisik berat.
Gejala Serangan Jantung pada Anak Muda yang Perlu Diwaspadai
Gejala serangan jantung pada usia muda terkadang tidak muncul dalam bentuk nyeri dada yang sangat hebat seperti yang sering digambarkan. Justru, keluhannya bisa lebih ringan sehingga sering diabaikan.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain sesak napas secara tiba-tiba, jantung berdebar tanpa penyebab yang jelas, tubuh mudah lelah, dada terasa tertekan, nyeri yang menjalar ke rahang, bahu, atau punggung, serta munculnya keringat dingin.
Jika gejala tersebut muncul, terutama saat beraktivitas atau berolahraga, sebaiknya segera mencari pertolongan medis agar penyebabnya dapat diketahui sedini mungkin.
Cara Menjaga Kesehatan Jantung Sejak Dini
Meningkatnya kasus serangan jantung pada usia muda menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan jantung sebaiknya dimulai sejak dini.
Pola hidup sehat, olahraga secara rutin, tidur yang cukup, mengelola stres, serta membatasi konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak dapat membantu menurunkan risikonya.
Selain itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala, seperti mengecek tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol, juga penting dilakukan meski tidak memiliki keluhan.
Dengan deteksi dini dan perubahan gaya hidup yang lebih sehat, risiko penyakit jantung dapat ditekan sehingga kualitas hidup tetap terjaga hingga usia lanjut. (*/nds)














