BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Musim kemarau yang masih berlangsung di Kabupaten Banyumas mulai menunjukkan dampak yang semakin luas.
Hingga Rabu (26/8/2026), sebanyak 44 desa/kelurahan yang tersebar di 16 kecamatan tercatat terdampak kekeringan.
Berdasarkan data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, jumlah masyarakat yang terdampak mencapai 10.972 kepala keluarga (KK) atau 37.575 jiwa.
Meluasnya wilayah yang mengalami kekeringan membuat kebutuhan terhadap air bersih terus meningkat.
Sejumlah sumber air warga mulai mengalami penurunan debit, bahkan sebagian di antaranya sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat.
BPBD Banyumas bersama sejumlah instansi terkait masih melakukan distribusi air bersih secara rutin ke wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
Kabid Darlog BPBD Banyumas Abdul Ladjis mengatakan distribusi dilakukan setiap hari untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
“BPBD bersama instansi lain terus mendistribusikan air bersih setiap hari. Apalagi Agustus ini menjadi puncak musim kemarau,” kata Abdul.
Hingga Rabu (26/8/2026), total air bersih yang telah disalurkan kepada masyarakat terdampak kekeringan mencapai 2.033.000 liter.
Air tersebut didistribusikan melalui 414 ritase pengiriman ke berbagai wilayah yang membutuhkan.
Penyaluran dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah.
Menurut Abdul, distribusi air bersih tidak dilakukan sekaligus ke seluruh wilayah terdampak.
BPBD menyesuaikan pengiriman berdasarkan laporan dari lapangan serta kebutuhan masyarakat di masing-masing desa atau kelurahan.
“Penyalurannya dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan dan laporan dari wilayah terdampak,” ujarnya.
Distribusi air bersih menjadi langkah penting karena air merupakan kebutuhan dasar yang harus tetap tersedia meskipun kondisi kemarau menyebabkan sejumlah sumber air mengalami kekeringan.
Selain untuk minum dan memasak, pasokan air juga dibutuhkan warga untuk kebutuhan rumah tangga lainnya.
Jumlah desa dan kelurahan yang mengalami dampak kekeringan di Banyumas menunjukkan tren peningkatan.
Pada 18 Agustus 2026, BPBD Banyumas mencatat terdapat 39 desa yang terdampak.
Dalam waktu sekitar satu pekan, jumlah tersebut bertambah lima wilayah hingga menjadi 44 desa/kelurahan pada 26 Agustus.
Penambahan wilayah terdampak tersebut menunjukkan bahwa musim kemarau masih memberikan tekanan terhadap ketersediaan air di sejumlah daerah.
Kondisi tersebut juga membuat kebutuhan distribusi air bersih berpotensi terus meningkat apabila kemarau berlangsung lebih lama.
BPBD bersama instansi terkait pun masih memantau perkembangan kondisi di wilayah yang mengalami kesulitan air.
Laporan dari pemerintah desa menjadi salah satu dasar untuk menentukan wilayah yang membutuhkan bantuan distribusi air bersih.
Dengan pola penyaluran tersebut, daerah yang mengalami kondisi paling membutuhkan dapat memperoleh pasokan sesuai prioritas.
Di tengah meluasnya dampak kekeringan, BPBD Banyumas mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air selama musim kemarau.
Air yang masih tersedia di lingkungan masyarakat diharapkan digunakan secara bijak dan diprioritaskan untuk kebutuhan penting sehari-hari.
Penghematan diperlukan untuk menjaga ketersediaan sumber air yang masih dapat dimanfaatkan masyarakat.
Warga juga diharapkan tidak menggunakan air secara berlebihan untuk kebutuhan yang dapat ditunda.
Masyarakat yang mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih diminta segera melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah desa atau pihak terkait.
Koordinasi sejak awal diharapkan dapat mempercepat penanganan apabila suatu wilayah mulai mengalami krisis air bersih.
Pemerintah desa juga memiliki peran penting dalam menyampaikan kondisi terkini kepada pihak terkait sehingga kebutuhan masyarakat dapat segera dipetakan.
Dengan jumlah wilayah terdampak yang bertambah dari 39 menjadi 44 desa/kelurahan dalam sepekan, distribusi air bersih diperkirakan masih menjadi agenda rutin selama puncak musim kemarau.
BPBD Banyumas bersama instansi lain akan terus menyalurkan bantuan air bersih berdasarkan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Masyarakat juga diminta tetap waspada terhadap kemungkinan meluasnya wilayah yang mengalami kekeringan.
Kondisi sumber air di setiap wilayah dapat berbeda sehingga pemantauan dan koordinasi menjadi penting.
Musim kemarau yang mencapai puncaknya pada Agustus membuat upaya pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi perhatian utama. Terlebih, saat ini jumlah warga terdampak telah mencapai 37.575 jiwa.
Penanganan kekeringan tidak hanya bergantung pada distribusi air bersih, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan air secara hemat.
Dengan penggunaan yang bijak dan distribusi yang tepat sasaran, kebutuhan dasar warga di tengah kemarau diharapkan tetap dapat terpenuhi. (zet/stch/dda)














