BANYUMASEKSPRES.ID, Cuaca panas sering mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat. Di Indonesia, kondisi tersebut bukan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman. Melainkan meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas, termasuk heat stroke.
Dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial FKKMK UGM, Aditya Lia Ramadona, Ph.D., menjelaskan bahwa heat stroke merupakan kondisi paling berat akibat paparan panas.
Gangguan ini terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan untuk mengatur suhu sehingga fungsi organ dan otak ikut terganggu.
Jika tidak segera memperoleh pertolongan, heat stroke dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa.
Kenali Gejala Heat Stroke
Heat stroke terjadi ketika suhu tubuh meningkat dengan cepat dan mekanisme pendinginan alami, seperti berkeringat, tidak lagi mampu bekerja secara efektif.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan pada berbagai fungsi tubuh. Beberapa gejala perlu diwaspadai antara lain suhu tubuh sangat tinggi, kebingungan, bicara pelo, kejang, hingga kehilangan kesadaran.

Gejala tersebut berbeda dengan kelelahan biasa akibat cuaca panas sehingga masyarakat perlu lebih waspada ketika kondisi tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda serius.
Menurut Ramadona, masyarakat Indonesia cenderung menganggap panas sebagai kondisi normal karena terbiasa hidup di wilayah beriklim tropis. Padahal, perubahan suhu yang dapat memberikan dampak kesehatan.
Penelitian di Yogyakarta menunjukkan bahwa kenaikan suhu rata-rata mingguan sebesar 1 derajat Celsius berkaitan dengan peningkatan sekitar 15,5 persen kunjungan ibu dan anak ke layanan kesehatan primer.
Panas Ekstrem Tidak Hanya Terjadi di Luar Rumah
Paparan suhu tinggi juga dapat dialami ketika seseorang berada di dalam rumah. Terdapat penelitian dari penelitian mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM, Anzalia Sabrina.
Beliau menunjukkan bahwa suhu di rumah lansia yang menjadi responden di kawasan Program Kampung Iklim (ProKlim) DIY bahkan lebih tinggi dibandingkan suhu lingkungan yang tercatat di stasiun BMKG.
Rata-rata suhu di dalam rumah mencapai sekitar 31 derajat Celsius. Penelitian tersebut menemukan bahwa setiap kenaikan selisih suhu dalam berbeda kondisi.
Hal ini ada diantara kondisi dalam dan luar rumah sebesar 1 derajat Celsius dapat meningkatkan risiko heat stress pada lansia sekitar 32 persen.
Temuan ini menunjukkan bahwa mengandalkan informasi suhu udara luar saja belum cukup untuk menggambarkan tingkat paparan panas yang sebenarnya dialami masyarakat.
Kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi, seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis. Karena itu, perlindungan terhadap kelompok rentan perlu dilakukan secara lebih aktif.
Cara Mencegah Heat Stroke
Masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi risiko gangguan akibat panas. Salah satunya adalah memastikan tubuh memperoleh cukup cairan sepanjang hari.
Selain itu, gunakan pakaian yang ringan dan nyaman, kurangi aktivitas fisik berat ketika cuaca sangat panas, serta manfaatkan tempat yang teduh atau sejuk untuk beristirahat.
Aktivitas olahraga dan pekerjaan membutuhkan tenaga besar sebaiknya dilakukan di pagi atau sore hari ketika kondisi lingkungan relatif lebih nyaman. Pekerja luar ruangan juga membutuhkan perlindungan khusus.
Pengaturan jam kerja, waktu istirahat secara berkala di tempat teduh, serta ketersediaan air minum dan elektrolit dapat membantu mengurangi risiko paparan panas berlebihan.
Rekan kerja juga dapat menerapkan sistem saling mengawasi agar gejala heat stroke dapat dikenali sedini mungkin.
Indonesia Perlu Sistem Peringatan Dini Panas Ekstrem
Ramadona menilai pencegahan heat stroke tidak cukup hanya mengandalkan perubahan perilaku individu.
Kondisi tempat tinggal, kepadatan permukiman, ruang hijau, jenis pekerjaan, akses air minum, listrik, sistem pendinginan, serta kesiapan fasilitas kesehatan turut menentukan tingkat risiko seseorang.
Karena itu, Indonesia dinilai membutuhkan sistem peringatan dini dan pedoman nasional terkait panas ekstrem.
Sistem tersebut sebaiknya tidak hanya menggunakan angka suhu, tetapi juga mempertimbangkan kelembapan, suhu malam hari, efek urban heat island, kondisi kelompok rentan, serta kapasitas layanan kesehatan di setiap daerah.
Peringatan cuaca panas juga perlu disertai informasi mengenai tindakan yang harus dilakukan masyarakat.
Misalnya, penyesuaian jam sekolah dan kerja, kesiapan puskesmas serta rumah sakit, perlindungan pekerja lapangan, hingga pembatasan aktivitas luar ruangan pada waktu tertentu.
Dengan meningkatnya risiko akibat panas, masyarakat perlu melihat heat stroke bukan sekadar dampak dari cuaca yang tidak nyaman.
Kondisi tersebut sudah menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian bersama. Selain itu, perhatian terhadap ketiak yang basah di pagi hari dan meninggalkan bau dapat ditangani dengan beberapa cara.
Menerapkan kebiasaan yang lebih aman saat cuaca panas, mengenali gejala sejak awal, dan memastikan kelompok rentan mendapat perlindungan dapat membantu mengurangi risiko.
Di sisi lain, dukungan kebijakan, lingkungan tempat tinggal yang lebih adaptif, serta layanan kesehatan yang siap juga diperlukan untuk menghadapi paparan panas ekstrem. (*/nds)
















