Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
280.470 Warga Banyumas Masuk Desil I, Ini Rincian Data DTSEN Terbaru
Krisis Air Bersih Banjarnegara Makin Parah, 7.503 KK Terdampak Kekeringan

Krisis Air Bersih Banjarnegara Makin Parah, 7.503 KK Terdampak Kekeringan

Krisis Air Bersih di Banjarnegara MeluasKrisis Air Bersih di Banjarnegara Meluas
APEL: Sekda Banjarnegara saat memberikan arahan pada ASN agar OPD ikut turun tangan salurkan air bersih

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Kekeringan di Kabupaten Banjarnegara semakin meluas. Hingga 24 Agustus 2026, krisis air bersih telah menjangkau 39 desa dan enam kelurahan yang tersebar di 11 kecamatan.

Sedikitnya 7.503 kepala keluarga (KK) terdampak kondisi tersebut. Warga di sejumlah wilayah mulai mengalami kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena sumber air mengalami penurunan hingga mengering.

Melihat kondisi yang terus berkembang, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara meminta penanganan kekeringan tidak hanya menjadi tanggung jawab Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) diminta ikut bergerak membantu distribusi air bersih kepada masyarakat yang terdampak.

Sekretaris Daerah Banjarnegara, Hendro Cahyono, mengatakan meluasnya wilayah terdampak membutuhkan keterlibatan lebih banyak pihak.

Menurutnya, kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat sehingga penanganannya tidak bisa hanya mengandalkan satu instansi.

“Para kepala OPD saya minta segera melakukan koordinasi dan bergerak membantu penyaluran air bersih. Jangan hanya menunggu, karena persoalan ini menyangkut kebutuhan dasar masyarakat,” kata Hendro saat memimpin apel pagi, Senin (24/8/2026).

Hendro berharap setiap OPD dapat berkoordinasi dan mengambil peran dalam membantu masyarakat yang mengalami krisis air bersih.

Keterlibatan berbagai organisasi pemerintah diharapkan dapat mempercepat distribusi bantuan, terutama ke wilayah yang sumber airnya mulai mengering.

BPBD Banjarnegara mencatat bantuan air bersih yang telah disalurkan mencapai 4,72 juta liter.

Air tersebut didistribusikan kepada ribuan keluarga yang tersebar di berbagai wilayah terdampak kekeringan.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Banjarnegara, Aji Piliroso, mengatakan distribusi dilakukan melalui kerja sama BPBD dengan berbagai pihak.

“Total sampai saat ini sudah 4.720.000 liter air bersih yang kami distribusikan pada 7.503 kepala keluarga di wilayah terdampak,” ujar Aji.

Jumlah tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap pasokan air selama musim kemarau.

Distribusi dilakukan secara bertahap untuk menjangkau wilayah yang mengalami kekurangan air bersih.

Dengan wilayah terdampak yang terus bertambah, kebutuhan distribusi juga diperkirakan masih akan tinggi.

Krisis air bersih di Banjarnegara kini tidak lagi hanya terjadi di sejumlah desa tertentu. Berdasarkan data terbaru, kekeringan telah menyebar ke 11 kecamatan.

Perluasan wilayah terdampak menjadi perhatian pemerintah daerah karena semakin banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan.

BPBD pun mengingatkan masyarakat agar menggunakan air bantuan secara hemat.

Pasokan yang diterima perlu dimanfaatkan untuk kebutuhan yang benar-benar penting agar dapat mencukupi kebutuhan keluarga selama kondisi kekeringan masih berlangsung.

Aji juga meminta warga bersiap menghadapi kemungkinan kemarau yang belum berakhir dalam waktu dekat.

Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah perlu menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Krisis air bersih di Banjarnegara berkaitan erat dengan kondisi musim kemarau yang masih berlangsung.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas III BMKG Banjarnegara, Heri Susanto, mengatakan kondisi atmosfer saat ini masih dipengaruhi fenomena El Nino.

“Kondisi saat ini masih menunjukkan adanya pengaruh El Nino yang cukup kuat,” ujar Heri.

Pengaruh fenomena tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam perkembangan kondisi cuaca dan musim di Banjarnegara.

Berdasarkan analisis BMKG, musim kemarau kering diperkirakan masih berlangsung hingga November 2026.

Artinya, masyarakat di wilayah yang saat ini mengalami kekeringan masih perlu bersiap menghadapi kondisi kekurangan air dalam beberapa bulan ke depan.

Dengan potensi kemarau yang masih berlangsung, masyarakat terdampak diminta menggunakan bantuan air bersih secara bijak.

Penggunaan air perlu diprioritaskan untuk kebutuhan utama seperti minum, memasak, serta keperluan rumah tangga yang tidak dapat ditunda.

Selain menghemat penggunaan air, masyarakat juga perlu mengikuti informasi terbaru dari pemerintah daerah dan BPBD terkait distribusi bantuan.

Pemerintah dan BPBD akan terus memantau perkembangan wilayah yang mengalami kekurangan air untuk menentukan kebutuhan distribusi berikutnya.

Meluasnya kekeringan membuat koordinasi antarlembaga menjadi semakin penting.

Tidak hanya BPBD, OPD lain juga diminta ikut membantu agar penyaluran air bersih dapat dilakukan lebih cepat.

Pemerintah daerah juga perlu memperhatikan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan baru apabila musim kemarau terus berlangsung.

Sementara itu, BMKG masih melakukan pemantauan terhadap kondisi atmosfer. Informasi mengenai perkiraan awal musim hujan akan disampaikan apabila indikator peralihan musim mulai terlihat.

Untuk saat ini, kondisi di Banjarnegara menunjukkan bahwa krisis air bersih masih menjadi persoalan yang perlu ditangani bersama.

Dengan 39 desa dan enam kelurahan di 11 kecamatan telah terdampak serta 7.503 KK membutuhkan pasokan air, distribusi bantuan dan penghematan air menjadi langkah penting selama musim kemarau.

Hingga 24 Agustus 2026, sebanyak 4,72 juta liter air bersih telah disalurkan kepada warga terdampak.

Namun, jika kemarau kering masih berlangsung hingga November, kebutuhan air bersih berpotensi tetap tinggi sehingga kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat menjadi sangat penting. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
500 Ribu Warga Masuk Desil I dan II

280.470 Warga Banyumas Masuk Desil I, Ini Rincian Data DTSEN Terbaru