BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Ribuan wisatawan mulai berdatangan ke kawasan Dieng menjelang pelaksanaan Dieng Culture Festival (DCF) 2026.
Festival budaya tahunan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat-Sabtu, 28-29 Agustus 2026, di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.
Tingginya minat wisatawan terlihat dari sejumlah penginapan di kawasan Dieng yang mulai dipenuhi pemesanan dari peserta maupun wisatawan dari berbagai daerah.
Kehadiran wisatawan diperkirakan kembali memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat sekitar.
DCF tahun ini tetap mempertahankan ritual cukur rambut anak gimbal sebagai agenda utama.
Tradisi khas masyarakat Dieng tersebut menjadi salah satu daya tarik terbesar festival yang telah berlangsung selama 16 tahun.
Selain ritual budaya, DCF 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan pendukung, mulai dari Festival Kopi Dieng, pameran UMKM, hingga pertunjukan seni dan budaya.
Bupati Banjarnegara, dr Amalia Desiana, mengatakan DCF menjadi salah satu contoh bagaimana pariwisata berbasis masyarakat dapat memberikan dampak langsung terhadap perekonomian warga.
Menurut Amalia, penyelenggaraan DCF tidak terlepas dari peran Pokdarwis Dieng Pandawa yang secara konsisten mengembangkan potensi wisata berbasis komunitas selama 16 tahun.
“Pemerintah daerah sangat mendukung inisiatif yang dilakukan oleh Pokdarwis Dieng Pandawa sejak 16 tahun lalu. Mereka secara partisipatif terbukti mengembangkan industri wisata berbasis komunitas yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat sekitar,” kata Amalia, Senin (24/8/2026).
Dampak ekonomi tersebut terlihat dari besarnya perputaran uang selama festival berlangsung.
Berdasarkan laporan Bank Indonesia pada 2025, perputaran uang di kawasan Dieng selama pelaksanaan festival mencapai lebih dari Rp40 miliar.
Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi Dieng Culture Festival bagi ekonomi lokal, terutama bagi pelaku usaha penginapan, kuliner, UMKM, transportasi, hingga pedagang di kawasan wisata Dieng.
Amalia berharap penyelenggaraan festival tahun ini kembali meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Festival berlangsung tiga hari, dan sebagian wisatawan menginap selama dua malam, semoga uang yang beredar untuk peningkatan pendapatan masyarakat lebih banyak,” ujarnya.
Salah satu hal yang paling dinantikan dalam DCF 2026 adalah ritual cukur rambut anak gimbal.
Tradisi tersebut menjadi identitas utama Dieng Culture Festival sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya masyarakat setempat.
Koordinator Umum DCF, Alif Faozi, mengatakan pihak penyelenggara memang tidak terlalu banyak mengumumkan nama musisi atau artis yang akan tampil dalam festival.
Menurutnya, kejutan terkait kehadiran musisi justru menjadi bagian dari konsep DCF.
Namun, ia menegaskan bahwa daya tarik utama festival bukan semata-mata pertunjukan musik.
“Sejak dulu kami sengaja tidak banyak mempublikasikan siapa musisi atau artis yang hadir di DCF, karena sesungguhnya kehadiran para musisi itu sebenarnya ‘jodoh’ dan menjadi bagian dari keluarga besar DCF yang memberikan kejutan bagi peserta yang hadir. Selain itu, acara utama festival kami adalah ritual cukur rambut anak gimbal,” kata Alif.
Meski susunan musisi tidak diumumkan secara lengkap, antusiasme peserta tetap tinggi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa wisatawan datang ke Dieng bukan hanya untuk menikmati hiburan, tetapi juga untuk menyaksikan tradisi dan berbagai kegiatan budaya yang menjadi ciri khas festival.
DCF 2026 juga menghadirkan sejumlah agenda menarik di beberapa venue.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Kongkow Budaya dan pertunjukan Kiai Kanjeng yang berlangsung di Venue Arjuna.
Sementara itu, Venue Gatotkaca akan menjadi lokasi Festival Kopi Dieng dan Jazz Atas Awan Showcase. Adapun agenda Jazz Atas Awan akan digelar di Venue Pandawa.
Festival Kopi Dieng menjadi salah satu agenda baru pada penyelenggaraan tahun ini.
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Pokdarwis Dieng Pandawa dengan Komite Ekonomi Kreatif Banjarnegara.
Kehadiran festival kopi diharapkan semakin memperkenalkan produk kopi lokal sekaligus membuka peluang bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif untuk menjangkau wisatawan yang datang ke Dieng.
Untuk memperluas dampak ekonomi DCF 2026, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara juga menyiapkan sejumlah agenda pendukung.
Di antaranya adalah Expo UMKM dan Festival Domba Batur. Kedua kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang promosi sekaligus meningkatkan transaksi bagi pelaku usaha lokal.
Dengan banyaknya agenda yang berlangsung selama festival, wisatawan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas selama berada di kawasan Dieng.
Tingginya jumlah wisatawan juga menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal untuk meningkatkan pendapatan, khususnya ketika pengunjung memilih tinggal lebih dari satu malam.
Selain menyiapkan rangkaian acara, panitia DCF 2026 juga memberikan perhatian terhadap persoalan lingkungan.
Pengelolaan sampah akan dilakukan di setiap venue selama festival. Sampah akan dipilah dan diolah untuk mengurangi dampak lingkungan akibat meningkatnya jumlah pengunjung.
Alif mengatakan panitia bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Banjarnegara dan Sekber Pecinta Alam Banjarnegara dalam pengelolaan sampah.
“Kami akan mengolah dan memilah sampah, bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Banjarnegara dan Sekber Pecinta Alam Banjarnegara. Hal ini untuk mengurangi dampak sampah yang ditimbulkan selama festival,” jelasnya.
Dengan persiapan tersebut, Dieng Culture Festival 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya dan daya tarik wisata, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan Dieng. (jud/stch/dda)














