BANYUMASEKSPRES.ID, MAGELANG – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan signifikan dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Menurut catatan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Kamis (2/10), tercatat adanya satu kali awan panas guguran yang meluncur sejauh 2,5 kilometer menuju Kali Boyong.
Selain itu, terpantau pula 27 kali guguran lava pijar mengarah ke Kali Krasak, Kali Bebeng, dan Kali Sat atau Putih dengan jarak luncur maksimal mencapai 1.800 meter.
Sepanjang pengamatan dalam periode waktu 00.00 hingga 24.00, visual gunung tampak jelas meskipun beberapa kali kabut sempat menutupi pemandangan.
Asap kawah berwarna putih dengan intensitas tebal pun terlihat membumbung setinggi 50 meter dari puncaknya.
Dari segi aktivitas kegempaan, selain awan panas guguran yang terjadi satu kali, juga terekam sebanyak 100 gempa guguran dengan amplitudo berkisar antara 2 hingga 35 mm dan berdurasi antara 20 sampai 178 detik.
Juga terdapat 118 gempa hybrid dengan amplitudo antara 2 hingga 26 mm. Status aktivitas Gunung Merapi saat ini masih berada pada Level III atau Siaga.
Hal ini menandakan bahwa potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas masih sangat mungkin terjadi, terutama di sektor selatan-barat daya yang meliputi Sungai Boyong hingga jarak lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng yang dapat mencapai hingga tujuh kilometer.
Sementara itu, di sektor tenggara potensi bahaya mencakup area sekitar Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso menekankan pentingnya bagi masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apapun di zona bahaya tersebut serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan munculnya awan panas maupun lahar.
“Kalau terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali,” ujar Agus dengan tegas.
Selain peringatan mengenai awan panas dan lahar, masyarakat juga diimbau untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik yang berpotensi mengganggu kegiatan sehari-hari.
” Data pemantauan menunjukkan bahwa suplai magma masih terus berlangsung dan dapat memicu terjadinya awan panas guguran dalam wilayah potensi bahaya tersebut,” tambah Agus.
Dengan kondisi demikian, kesiapsiagaan menjadi hal mutlak bagi warga yang tinggal di kawasan rawan bencana ini agar dapat menghindari risiko yang lebih besar.
Gunung Merapi memang dikenal sebagai salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Letusan-letusannya kerap membawa dampak signifikan bagi lingkungan sekitarnya termasuk penutupan jalan akibat material vulkanik.
Sejarah mencatat bahwa letusan besar Gunung Merapi pernah terjadi beberapa kali dalam dekade terakhir ini mengingatkan kita akan kedahsyatan kekuatan alam yang tidak bisa diremehkan.
Oleh karena itu penting bagi pihak berwenang untuk selalu siap siaga serta memastikan informasi terkait status gunung ini tersampaikan dengan cepat dan akurat kepada masyarakat luas guna meminimalisir dampak buruk dari erupsi yang mungkin terjadi sewaktu-waktu.
Sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko bencana pemerintah bersama BPPTKG secara rutin melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas gunung ini guna mendapatkan data terbaru mengenai perkembangan situasi terkini. (*/dda)
















