Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Dindikpora Banjarnegara Pastikan Daya Tampung SMP Terpenuhi pada SPMB 2026
Arif Suharyo Wakili Cilacap dalam Nominasi Kalpataru Berkat Inovasi Pengelolaan Sampah

Arif Suharyo Wakili Cilacap dalam Nominasi Kalpataru Berkat Inovasi Pengelolaan Sampah

Berkat Sampah Masuk Nominasi KalpataruBerkat Sampah Masuk Nominasi Kalpataru
NOMINATOR : Arif Suharyo menjelaskan skema pengelolaan sampah di wilayah Tambakreja yang mengantarkan masuk nominasi peraih Kalpataru

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Tim Verifikator dari Kementerian Lingkungan Hidup melaksanakan verifikasi lapangan terhadap Arif Suharyo, seorang pegiat lingkungan yang berasal dari Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan.

Arif Suharyo merupakan salah satu nominasi penerima penghargaan Kalpataru, sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada individu atau kelompok yang telah berkontribusi signifikan dalam pelestarian lingkungan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap, Achmad Nurlaeli, menekankan pentingnya peran pegiat lingkungan dalam membantu mengatasi permasalahan sampah yang terus meningkat.

Saat ini, diperkirakan sekitar 250 ton sampah dihasilkan setiap harinya di wilayah Cilacap, namun masih ada sejumlah besar sampah yang belum tertangani dengan baik.

Dalam konteks ini, inovasi yang diperkenalkan oleh Arif menjadi salah satu solusi untuk mengurangi beban pada tempat pembuangan akhir (TPA) melalui pemilahan dan pengolahan sampah yang efisien.

“Kami sangat tertarik dengan skema pengelolaan sampah yang diterapkan oleh Pak Arif dan berharap inisiatif ini dapat dikembangkan lebih luas di berbagai daerah,” ujarnya saat ditemui pada hari Kamis (11/6).

Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung inisiatif lokal yang berorientasi pada keberlanjutan.

Sigit Rustanto selaku anggota tim verifikator dari Kementerian Lingkungan Hidup menjelaskan bahwa Arif merupakan salah satu dari 24 nominasi Kalpataru yang saat ini sedang menjalani proses penilaian.

Proses verifikasi ini bertujuan untuk memastikan setiap kegiatan yang dilaporkan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

“Keputusan akhir mengenai penerima penghargaan akan ditentukan berdasarkan berbagai pertimbangan, termasuk dampak dan inovasi yang dilakukan,” katanya.

Di sisi lain, Arif Suharyo mengungkapkan bahwa kegiatan pengelolaan sampahnya bermula dari permasalahan serius terkait sampah di lingkungan RT 05 RW 08 di wilayah Tambakreja.

“Asap pembakaran sampah yang sering mengganggu warga menjadi pendorong bagi saya dan rekan-rekan untuk mencari solusi alternatif,” jelasnya.

Sejak tahun 2018, Arif bersama warga setempat mulai mengelola sampah secara sederhana dengan tujuan untuk mengolahnya menjadi pupuk organik yang bisa dimanfaatkan kembali.

Inisiatif ini terus berkembang hingga saat ini dan menjadi salah satu inovasi yang mendapatkan perhatian serius dalam penilaian Kalpataru.

Melalui proses edukasi dan keterlibatan masyarakat, Arif berharap kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah dapat meningkat.

Dia juga menekankan bahwa langkah ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah tetapi juga berkontribusi untuk meminimalisir pencemaran lingkungan di kawasan mereka.

Pentingnya pengelolaan limbah di era modern tidak bisa dipandang sebelah mata.

Banyak kota menghadapi tantangan besar dalam menangani masalah sampah akibat pertumbuhan populasi dan urbanisasi yang pesat.

Di Cilacap sendiri, upaya kolaboratif seperti yang dilakukan oleh Arif Suharyo dan komunitasnya menunjukkan betapa pentingnya inisiatif lokal dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan pencemaran lingkungan.

Arif juga menceritakan bagaimana dia mulai memperkenalkan metode pemilahan sampah kepada warga setempat. Pada awalnya, banyak penduduk yang skeptis terhadap ide tersebut.

Namun, dengan pendekatan edukasi dan pelibatan langsung dalam proses pengolahan, lambat laun masyarakat mulai menyadari manfaat dari tindakan tersebut.

“Kami melakukan sosialisasi tentang pentingnya memilah sampah dan bagaimana cara mengolahnya menjadi produk yang bermanfaat,” tambahnya.

Saat ini, hasil dari pengelolaan sampah tersebut telah memberikan dampak positif tidak hanya bagi lingkungan tetapi juga bagi perekonomian masyarakat setempat.

Pupuk organik hasil olahan mereka kini banyak digunakan oleh petani di sekitar wilayah Tambakreja.

Hal ini menciptakan sinergi antara kegiatan pengurangan limbah dan peningkatan hasil pertanian lokal.

Dalam pandangan Achmad Nurlaeli, keberhasilan inisiatif seperti ini harus didukung dengan kebijakan pemerintah yang berpihak pada program-program pelestarian lingkungan hidup.

Ia berharap bahwa pemerintah dapat memberikan lebih banyak dukungan terhadap program-program berbasis masyarakat seperti milik Arif agar dampaknya dapat dirasakan lebih luas lagi.

Dari perspektif lingkungan hidup yang lebih luas, langkah-langkah kecil namun signifikan seperti inisiatif Arif dapat memberikan contoh bagi daerah lain di Indonesia untuk mengikuti jejak tersebut.

Dengan dukungan kebijakan publik dan partisipasi aktif masyarakat, tantangan besar mengenai pengelolaan sampah bisa dikelola dengan lebih baik. (jul/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Dindikpora Fokus Atasi Sekolah Sepi Pendaftar

Dindikpora Banjarnegara Pastikan Daya Tampung SMP Terpenuhi pada SPMB 2026