Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Pertamax Naik Drastis, Warga Banyumas Pilih Pertalite untuk Hemat Biaya

Ramai Ramai Beralih ke PertaliteRamai Ramai Beralih ke Pertalite

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Kenaikan harga Pertamax yang signifikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter yang mulai berlaku pada Rabu (10/6/2026) langsung mengubah perilaku konsumsi bahan bakar masyarakat di wilayah Banyumas Raya.

Perubahan ini terlihat jelas di sejumlah SPBU yang tersebar di Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, hingga Kebumen.

Banyak pengguna Pertamax kini beralih ke Pertalite demi menekan pengeluaran bulanan mereka, sementara antrean untuk bahan bakar subsidi semakin panjang.

Sugeng, seorang warga berusia 51 tahun dari Purwokerto, mengungkapkan rasa terkejutnya begitu mengetahui adanya kenaikan harga Pertamax yang melambung mencapai Rp3.950 per liter.

Ia mengungkapkan, “Bangun tidur lihat berita tahu-tahu sudah naik.”

Sugeng merasakan dampak mendadak dari perubahan harga ini dan khawatir bahwa kenaikan ini akan memicu peningkatan biaya hidup di berbagai sektor.

“Ini apa-apa sudah mulai naik. Dampaknya akan berimbas pada banyak hal,” tambahnya.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Tisya Elea, seorang wanita berusia 25 tahun yang merasa kondisi ekonomi saat ini semakin sulit.

Kenaikan harga Pertamax membuatnya harus menyesuaikan pengeluaran sehari-hari.

“Ini gatau lagi, semakin ragenah. Rupiah semakin anjlok, cari kerja susah,” ujarnya dengan nada penuh keputusasaan.

Tisya dengan tegas menyatakan bahwa dengan pendapatan setara upah minimum, ia tidak memiliki banyak pilihan selain beralih ke BBM subsidi seperti Pertalite.

“Ya gimana lagi, paling isinya sekarang Pertalite,” jelasnya.

Di SPBU Sokaraja, petugas bernama Efendi juga membenarkan bahwa perubahan perilaku konsumen terjadi sejak kenaikan harga berlaku pada pukul 00.00 WIB tersebut.

“Naik tadi malam jam 24.00,” ujarnya singkat namun jelas.

Menurut keterangan Efendi, banyak pelanggan yang sebelumnya setia menggunakan Pertamax kini memilih untuk menggunakan Pertalite karena besaran kenaikannya cukup signifikan hampir mencapai Rp4 ribu.

Fenomena serupa juga terlihat di Kabupaten Purbalingga ketika warga bernama Mulyono terpaksa meninggalkan Pertamax dan beralih ke Pertalite setelah melihat lonjakan harga yang tajam tersebut.

“Karena harga Pertamax naik, saya terpaksa mengisi BBM sepeda motor saya dengan Pertalite,” katanya sambil menunjukkan rasa kecewa yang mendalam terhadap situasi ini.

Ia menambahkan dengan jujur bahwa ia sangat kecewa dengan kenaikan harga tersebut dan merasa tidak memiliki alternatif lain untuk menghadapi keadaan ini.

“Jujur saya kecewa banget dengan kenaikan harga Pertamax mencapai Rp3.950 per liter. Kita hanya bisa pasrah,” ungkapnya.

Sementara itu, Triyono dari Padamara juga mengungkapkan keluhan serupa mengenai beban tambahan akibat kenaikan harga pertamax yang menyulitkan dirinya sebagai seorang pengguna mobil pribadi yang selama ini menggunakan BBM tersebut untuk kendaraannya.

“Kendaraan saya harus menggunakan BBM Pertamax,” keluhnya.

Di Banjarnegara, dampak dari kenaikan harga tersebut sudah terlihat jelas melalui antrean kendaraan di SPBU setempat.

Nandar Bayu, Asisten Supervisor SPBU Kota Banjarnegara menyatakan bahwa penjualan Pertamax mengalami penurunan sejak hari pertama kenaikan harga diterapkan.

“Per hari ini penjualan Pertamax sudah mulai turun,” ujarnya menjelaskan kondisi tersebut lebih lanjut.

Menurut Nandar, antrean kendaraan yang sebelumnya seimbang antara pengguna Pertalite dan Pertamax kini lebih banyak didominasi oleh pengguna yang memilih untuk berpindah ke jalur pembelian Pertalite akibat selisih harga yang semakin besar antara kedua jenis bahan bakar tersebut.

“Karena memang selisih harganya lumayan,” tambahnya menjelaskan keputusan banyak orang untuk lebih memilih antre lebih lama demi mendapatkan bahan bakar dengan harga lebih terjangkau.

Tak hanya itu saja, ia juga menjelaskan tentang komposisi antrean di SPBU-nya yang sebagian besar didominasi oleh sepeda motor pengguna BBM bersubsidi tersebut setelah sebelumnya sempat beralih ke penggunaan Produk non-subsidi seperti Pertamax saat selisih harganya tidak terlalu jauh.

“Kalau di sini kebanyakan sepeda motor,” papar Nandar menjelaskan lebih detail pergeseran konsumsi bahan bakar masyarakat saat ini.

Meski banyak konsumen berpindah ke jenis bahan bakar lain, Nandar memastikan bahwa stok BBM di SPBU tetap dalam kondisi aman dan tidak ada kelangkaan meskipun permintaan meningkat secara tiba-tiba akibat perubahan kebiasaan belanja bahan bakar masyarakat setelah adanya kenaikan harga ini berlangsung ketika jam sibuk di SPBU.

Di Kebumen pun kondisi serupa dapat diamati oleh pegawai SPBU bernama Rahmat, ia mencatat antrean kendaraan roda dua mengalami peningkatan signifikan karena banyak pengguna ketika pertama kali mengetahui adanya kenaikan harga Pertamax mendadak memilih untuk beralih ke penggunaan BBM jenis lain seperti pertalite setelah mendapat informasi terkait perubahan harga tersebut di pompa bensin.

“Banyak masyarakat belum tahu kalau Pertamax naik hampir Rp4.000 per liter,” ungkap Rahmat sambil menjelaskan reaksi para pelanggan ketika mereka sampai di pompa dan diberitahu tentang adanya perubahan harga tersebut.

Antrean kendaraan pun menjadi lebih panjang terutama pada jam sibuk dimana mobil tidak bisa langsung membeli pertalite jika belum melakukan pendaftaran barcode terlebih dahulu sehingga menyebabkan permintaan pembuatan barcode juga meningkat tajam seiring dengan tingginya permintaan akan BBM bersubsidi tersebut.

Salah satu pengendara motor bernama Arta menyatakan reaksinya setelah mengetahui tentang kenaikan harga itu dan langsung mengubah pilihan bahan bakarnya ke jenis lain demi menghemat pengeluaran harian keluarga.

“Saya kira masih harga lama,” katanya saat berbagi pengalaman mengenai bagaimana ia merespons informasi terbaru tentang perubahan tarif BBM tersebut.

Dalam konteks yang lebih luas, PT Pertamina Patra Niaga memaparkan bahwa dampak dari kenaikan harga terhadap masyarakat dianggap relatif terbatas karena konsumsi BBM di wilayah Jawa Bagian Tengah masih didominasi oleh produk bersubsidi seperti pertalite dan biosolar dibandingkan dengan produk non-subsidi lainnya seperti pertamax dan pertamax green.

Taufiq Kurniawan selaku Area Manager Communication, Relation and CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah menjelaskan bahwa hingga Juni 2026 konsumsi bahan bakar jenis pertalite mencapai 73,3 persen dari total konsumsi gasoline sedangkan pertamax hanya 25,9 persen saja.

“Tercatat hingga Juni 2026 mayoritas konsumsi BBM masyarakat di wilayah Jawa Bagian Tengah masih didominasi oleh produk subsidi dan penugasan yang tidak mengalami perubahan harga,” paparnya memberikan gambaran mengenai peta konsumsi energi di kawasan tersebut saat ini.

Menurut Taufiq Kurniawan dominasi penggunaan produk bersubsidi membuat dampak dari kenaikan harga cukup minim dalam skala besar terhadap masyarakat umum walaupun demikian pihak perusahaan tetap menjalankan penyesuaian sesuai ketentuan pemerintah (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
70 Persen Pedagang Gunakan Timbangan Manual

UPTD Metrologi Purbalingga Gelar Tera Ulang Timbangan di Pasar Bukateja

Berita Selanjutnya
Jari Membengkak, Cincin Tak Bisa Lepas

Damkar Purbalingga Evakuasi Cincin Tersangkut di Jari Warga, Berhasil Dilepas dalam 15 Menit