BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, Desa Kedungpring di Kecamatan Kemranjen mengambil langkah inovatif untuk menghidupkan kembali kearifan lokal melalui penggunaan kentong sebagai sarana komunikasi masyarakat.
Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan ketertiban lingkungan, tetapi juga melestarikan tradisi yang telah ada sejak lama, yang kini mulai tergerus oleh kemajuan zaman.
Dalam rangka mendukung inisiatif ini, Pemerintah Desa Kedungpring membagikan kentong kepada anggota Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas), yang merupakan garda terdepan dalam menjaga keamanan di desa.
Kepala Desa Kedungpring, Sugiyono, menjelaskan bahwa pemanfaatan kentong diharapkan dapat mempercepat penyampaian informasi serta peringatan kepada warga saat terjadi situasi darurat.
Ia menegaskan bahwa kentong tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol kesiapsiagaan Satlinmas dalam menjaga ketertiban.
Sugiyono menyatakan, “Kentong merah putih ini sebagai bentuk menjaga kearifan lokal, alat komunikasi penghubung di masyarakat. Sekaligus identifikasi kesiapsiagaan Satlinmas kita,” pada kegiatan konsolidasi yang berlangsung pada Selasa malam, 9 Juni.
Meskipun teknologi komunikasi modern terus berkembang, Sugiyono meyakini bahwa kentong masih memiliki relevansi dalam konteks sosial masyarakat.
Ia juga mengingatkan kepada anggota Satlinmas untuk meningkatkan kewaspadaan mereka seiring dengan meningkatnya potensi kerawanan sosial di wilayah desa.
Hal ini disebabkan oleh faktor geografis Desa Kedungpring yang berada di perbatasan antar kecamatan, serta adanya objek vital seperti Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang memerlukan perhatian khusus dalam hal keamanan.
Dalam dua bulan terakhir, terdapat beberapa laporan mengenai kasus pencurian di rumah warga.
Selain itu, pemerintah desa juga mencatat adanya indikasi perilaku penyimpangan seksual yang mencuat di kalangan masyarakat setempat, khususnya terkait dengan penyuka sesama jenis.
Sugiyono menegaskan pentingnya anggota Satlinmas untuk lebih peka terhadap kehadiran orang-orang asing dengan perilaku mencurigakan.
“Anggota Satlinmas harus berani menegur jika menemukan orang tidak dikenal dengan perilaku mencurigakan,” imbuhnya, seraya mengingatkan agar informasi terkait gangguan keamanan harus segera disampaikan kepada pihak desa melalui jejaring komunikasi yang sudah ada.
Sugiyono juga menekankan bahwa langkah cepat dalam menangani situasi darurat sangat penting agar penanganan dapat dilakukan secara optimal.
“Kentong merah putih juga sebagai alat komunikasi ketika terjadi bencana alam,” tambah Sugiyono dalam kesempatan tersebut, yang dihadiri oleh Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Desa Kedungpring.
Satu hal menarik dari inisiatif ini adalah keterlibatan perempuan dalam Satlinmas.
Anggota Satlinmas tidak hanya terdiri dari laki-laki saja; sejumlah perempuan juga turut berperan aktif dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan desa.
Salah satu contohnya adalah Nur Asiyah, seorang perempuan yang antusias menjalankan perannya sebagai anggota Satlinmas.
Menurut Nur, keterlibatan perempuan bukan sekadar formalitas belaka, melainkan merupakan bentuk kesadaran untuk ikut menjaga lingkungan tempat tinggal mereka.
“Kesadaran diri berpartisipasi menjadi Satlinmas, perempuan juga bisa ikut serta menjaga ketertiban dan keamanan di lingkungan,” jelas Nur.
Pada kesempatan tersebut, anggota Satlinmas kembali diberikan pelatihan mengenai bunyi dan tanda kentong sebagai sarana komunikasi masyarakat.
Hal ini bertujuan agar penggunaan kentong dapat dilaksanakan dengan tepat saat terjadi situasi darurat atau hal-hal yang tidak diinginkan.
Dengan demikian, baik laki-laki maupun perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga keamanan di Desa Kedungpring. (fij/stch/dda)















