BANYUMASEKSPRES.ID, Bank Dunia resmi menyetujui dua paket pembiayaan besar untuk Indonesia, dengan total nilai mencapai USD 2,128 miliar atau sekitar Rp 34,65 triliun berdasarkan kurs Rp16.285 per dolar AS. Langkah ini menjadi bentuk nyata komitmen lembaga keuangan internasional tersebut dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Manuela V. Ferro, mengungkapkan bahwa dukungan pembiayaan ini diarahkan untuk memperkuat sektor ketenagakerjaan, mempercepat pertumbuhan ekonomi, dan memperluas akses terhadap energi bersih di seluruh wilayah Indonesia.
“Reformasi dan investasi yang kami dukung dengan paket pembiayaan gabungan yang berjumlah lebih dari USD 2 miliar mendukung pelaksanaan prioritas utama pemerintah dan memajukan tujuan Bank Dunia untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan akses pada energi di Indonesia yang merupakan salah satu perekonomian terbesar dan paling dinamis,” kata Manuela, dalam keterangan resminya, Senin (16/6).
Dari total nilai pembiayaan tersebut, sebesar USD 1,5 miliar dialokasikan untuk program reformasi kebijakan bernama Indonesia Productive and Sustainable Investment Development Policy Loan. Program ini menyasar sektor keuangan dan ditujukan untuk mendukung penguatan layanan digital, pengembangan pasar modal, serta mempercepat transisi menuju energi terbarukan.
Manuela juga menegaskan bahwa melalui paket kebijakan ini, hambatan dalam pengadaan teknologi energi terbarukan akan dikurangi secara signifikan.
Selain itu, kebijakan kawasan industri akan disesuaikan dengan standar lingkungan global, termasuk implementasi mekanisme penangkapan nilai lahan yang mendukung investasi infrastruktur jangka panjang.
Adapun bagian kedua dari pembiayaan tersebut diperuntukkan bagi proyek Sustainable Least-Cost Electrification-2 (ISLE-2) yang mendapatkan dana sebesar USD 628 juta. Proyek ini menargetkan perluasan akses listrik kepada lebih dari 3,5 juta warga di berbagai wilayah serta pembangunan kapasitas pembangkit listrik dari energi surya dan angin dengan total kapasitas 540 megawatt (MW).
Melalui proyek ini, biaya produksi listrik ditargetkan turun sebesar 8 persen. Selain itu, proyek ini juga diproyeksikan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 10 persen, dengan wilayah fokus utama meliputi Kalimantan dan Sumatra.
Dukungan terhadap program ISLE-2 mencakup berbagai skema pembiayaan. Di antaranya, pinjaman utama dari IBRD sebesar USD 600 juta, ditambah hibah sebesar USD 12 juta dari dana IBRD Surplus-Funded Livable Planet Fund.

Selain itu, terdapat tambahan pendanaan sebesar USD 16 juta dari mitra internasional yang tergabung dalam Sustainable Renewables Risk Mitigation Initiative (SRMI), termasuk kontribusi USD 6 juta dari Kerajaan Inggris melalui Energy Sector Management Assistance Program (ESMAP) serta dana USD 10 juta dari Green Climate Fund SRMI-2.
Skema pembiayaan ini pun menjadi proyek percontohan pertama dari produk inovatif step-up loan milik Bank Dunia. Melalui skema ini, pemerintah Indonesia dapat menikmati suku bunga rendah selama masa pembangunan proyek, dan berpeluang memperoleh efisiensi biaya tambahan setelah proyek selesai dilaksanakan.
Bank Dunia menjelaskan bahwa proyek ini juga membuka peluang bagi pendanaan sektor swasta. Total investasi tambahan yang diperkirakan dapat digalang dari sektor ini mencapai USD 345 juta.
Dana tersebut akan difokuskan untuk pembiayaan proyek-proyek energi terbarukan seperti tenaga surya dan tenaga angin, yang menjadi bagian penting dari penguatan sistem kelistrikan nasional maupun regional.
“Dengan lebih dari 3,5 juta orang menjadi memiliki akses listrik, program ini diproyeksikan menjadi katalisator peningkatan kesejahteraan dan penciptaan lapangan kerja yang lebih banyak dan lebih baik termasuk melalui elektrifikasi kegiatan usaha yang dijalankan oleh perempuan,” ujar Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Carolyn Turk.
Investasi Bank Dunia ini menjadi bagian dari strategi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai negara berdaya saing tinggi di sektor energi dan ekonomi berkelanjutan. Dengan fokus pada reformasi sektor keuangan dan percepatan transisi energi hijau, langkah ini diharapkan mampu memantik pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta memperluas kesempatan kerja.
Pendekatan yang dilakukan Bank Dunia melalui pembiayaan ganda ini menunjukkan sinergi antara pendanaan konvensional dan inovasi skema pendanaan hijau. Selain itu, investasi ini juga menjadi bentuk dukungan terhadap target net-zero emission yang ingin dicapai Indonesia dalam beberapa dekade mendatang.
Peningkatan infrastruktur energi dan digitalisasi sektor keuangan yang didorong melalui pembiayaan ini menjadi modal penting dalam transformasi ekonomi nasional. Terutama di tengah dinamika global dan kebutuhan akan pembangunan rendah karbon yang semakin mendesak.
Langkah Bank Dunia dalam menyalurkan dana dalam skema gabungan ini dinilai strategis karena tidak hanya bersifat pembangunan fisik, tetapi juga mendorong reformasi kebijakan yang mendalam dan inklusif. Dari sisi keberlanjutan, pendekatan ini memberikan ruang bagi Indonesia untuk meningkatkan kapasitas dan ketahanan sistem energinya di masa depan. (WAN)
















