BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap melaporkan terjadinya 34 kejadian bencana selama periode 1 hingga 30 April 2026.
Dari total tersebut, cuaca ekstrem menjadi penyebab utama bencana dengan angka signifikan mencapai 17 kejadian.
Selain itu, terdapat pula 14 kejadian tanah longsor dan tiga kejadian lainnya yang turut berkontribusi pada catatan bencana di wilayah ini.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap, Taryo, menjelaskan bahwa puluhan kejadian bencana tersebut tersebar di 12 kecamatan dan melibatkan 29 desa di Kabupaten Cilacap.
Wilayah-wilayah yang mengalami dampak bencana antara lain Kecamatan Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, Cimanggu, Cipari, Sidareja, Kedungreja, Bantarsari, Kawunganten, Jeruklegi hingga area perkotaan Cilacap.
“Cuaca ekstrem masih menjadi kejadian yang paling dominan selama April 2026. Selain itu juga terjadi beberapa tanah longsor di sejumlah wilayah,” ungkap Taryo.
Ia menambahkan bahwa dampak dari bencana tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik rumah dan infrastruktur tetapi juga menimbulkan korban jiwa.
BPBD mencatat terdapat tiga orang yang meninggal dunia dalam kategori kejadian lainnya, termasuk penemuan mayat di Kecamatan Wanareja.
Kerusakan akibat bencana tidak dapat dipandang sebelah mata. Sebanyak 89 rumah warga dilaporkan terdampak oleh berbagai kejadian bencana yang ada.
Rincian kerusakan mencakup empat rumah yang roboh, enam rumah rusak berat, dua rumah rusak sedang dan 77 rumah mengalami kerusakan ringan.
Kerusakan juga melanda sejumlah fasilitas umum serta infrastruktur vital di daerah tersebut.
BPBD mencatat satu sekolah mengalami kerusakan parah, sembilan akses jalan terputus, satu jembatan rusak total, tiga tebing longsor, serta satu talud atau trap yang mengalami kerusakan.
Selain itu, sebanyak 19 tempat usaha juga terkena dampaknya dan satu area sawah turut mengalami kerugian.
Lebih dari sekadar kerugian material, bencana ini berdampak langsung kepada masyarakat.
Tercatat sebanyak 206 jiwa atau setara dengan 66 kepala keluarga mengalami dampak dari berbagai kejadian tersebut.
Bahkan lebih dari itu, sebanyak 20 jiwa dari delapan kepala keluarga harus mengungsi demi menjaga keselamatan mereka akibat situasi darurat ini.
Taryo menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman cuaca ekstrem dan potensi bencana hidrometeorologi yang mungkin terjadi di wilayah rawan longsor dan pohon tumbang.
“Kami menghimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dan segera melaporkan kepada pemerintah desa atau petugas BPBD jika terjadi kondisi darurat agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat,” tuturnya.
Total kerugian akibat berbagai kejadian bencana selama bulan April 2026 diperkirakan mencapai Rp 617.550.000.
Angka ini tentu saja mencerminkan betapa seriusnya dampak dari bencana yang terjadi di Kabupaten Cilacap.
Bencana cuaca ekstrem yang terjadi selama bulan ini tentunya menjadi pengingat penting bagi masyarakat akan ketidakpastian cuaca yang dapat menyebabkan berbagai jenis bencana alam lainnya.
Masyarakat diharapkan untuk lebih berfokus pada upaya mitigasi dan persiapan menghadapi potensi bahaya yang mungkin mengancam keselamatan serta harta benda mereka.
Pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam tidak bisa diremehkan.
Dalam konteks ini, edukasi mengenai kebencanaan menjadi sangat krusial untuk disebarluaskan kepada masyarakat luas.
Masyarakat perlu memiliki pengetahuan dasar tentang cara mengidentifikasi tanda-tanda awal terjadinya bencana seperti hujan deras berkepanjangan yang berpotensi menyebabkan tanah longsor atau angin kencang yang bisa menumbangkan pohon.
Dengan informasi yang tepat dan cepat mengenai potensi risiko bencana serta langkah-langkah mitigasi yang bisa diambil, diharapkan masyarakat dapat meminimalkan dampak buruk dari setiap kejadian bencana yang mungkin terjadi di masa depan. (jul/stch/dda)
















